Masa Depan Yaman Dipertaruhkan, Hubungan UEA dan Arab Saudi Memanas

Hubungan UEA dan Arab Saudi memanas akibat perbedaan visi politik di Yaman. Ketegangan meningkat setelah perebutan wilayah strategis di selatan. (Foto: REUTERS/Fawaz Salman)

Hubungan UEA dan Arab Saudi memanas akibat perbedaan visi politik di Yaman

Ketegangan politik antara Uni Emirat Arab (UEA) dan Arab Saudi meningkat tajam setelah kelompok separatis di Yaman Selatan, Southern Transitional Council (STC), menyatakan bersedia menerima penempatan pasukan pemerintah dukungan Arab Saudi di wilayah selatan yang mereka kuasai sejak Desember lalu. Keputusan ini diumumkan pada Kamis, 1 Januari, sebagai bagian dari upaya meredam potensi bentrokan terbuka.

Menurut pernyataan resmi STC, kelompok ini tidak akan mengganggu masuknya pasukan National Shield ke wilayah tersebut. Namun, mereka menegaskan tetap akan beroperasi di provinsi Hadramaut dan al-Mahra, dua wilayah strategis yang menjadi rebutan. STC menyebut langkah tersebut bertujuan menjaga stabilitas wilayah yang sebelumnya berhasil direbut dari kelompok Houthi.

Perebutan Pengaruh dan Risiko Perpecahan Yaman

Krisis ini berawal dari keretakan hubungan antara Arab Saudi dan UEA, dua sekutu yang sejak 2015 bekerja sama menghadapi Houthi. Arab Saudi mendukung pemerintah pusat Yaman, sementara UEA memberi dukungan kuat kepada STC di selatan. Perbedaan visi soal masa depan politik Yaman inilah yang akhirnya memanas menjadi pertarungan pengaruh.

Wilayah Hadramaut dan al-Mahra memiliki nilai strategis tinggi. Hadramaut merupakan lokasi ladang minyak terbesar di Yaman, termasuk terminal minyak Dhabba di pesisir Laut Arab. Sementara itu, al-Mahra menjadi jalur potensial pembangunan pipa minyak alternatif yang memungkinkan Saudi mengekspor minyak tanpa melewati Selat Hormuz, yang kerap menjadi titik ketegangan geopolitik.

Menurut sumber yang dekat dengan pemerintah Saudi, kekhawatiran keamanan baru akan mereda jika STC benar-benar meninggalkan dua wilayah tersebut. Pemerintah dukungan Saudi bahkan menyatakan siap mengambil kembali sejumlah lokasi militer secara damai.

Pada saat yang sama, ketegangan meningkat setelah koalisi pimpinan Saudi mengebom dugaan pengiriman senjata untuk STC di pelabuhan Mukalla. Arab Saudi menilai langkah itu diperlukan untuk menjaga stabilitas kawasan. Di sisi lain, Kementerian Pertahanan UEA membantah pengiriman senjata dan menegaskan penolakan terhadap tuduhan yang disebut memicu konflik. Namun, UEA mengakui adanya transfer kendaraan militer ke pasukan STC.

Sementara itu, Dewan Presidensial Yaman yang didukung Arab Saudi menetapkan status darurat 72 jam dan meminta pasukan UEA meninggalkan wilayah mereka. Kebijakan keamanan bersama dengan UEA juga dibatalkan.

Kondisi ini memunculkan kekhawatiran baru. Berdasarkan analisis para peneliti kawasan Teluk, kontrol STC yang hampir menyeluruh atas Yaman Selatan meningkatkan peluang terjadinya pemisahan wilayah seperti sebelum 1990. Kota Aden kini menjadi basis ekonomi utama di bawah kendali STC, termasuk wilayah strategis lain seperti Pulau Socotra.

Saat ini, Houthi menguasai sekitar sepertiga wilayah Yaman, terutama di utara dan barat. STC mengendalikan hampir setengah wilayah, sementara pemerintah Yaman yang didukung Saudi hanya menguasai kurang dari 15 persen. Situasi ini menempatkan Yaman di titik kritis, dengan risiko meningkatnya perang internal dan ketegangan geopolitik kawasan.

Referensi: Detikcom

📚 ️Baca Juga Seputar Internasional

Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Internasional Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia internasional — semua ada di sana!

✍️ Ditulis oleh: Fadjri Adhi Putra & Fahmi Fahrulrozi
📌 Editor: Redaksi Tren Media

Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.

📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral

Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!

BERITATERKAIT

BERITATERBARU

INSTAGRAMFEED