Tercekik Blokade AS, Warga Kuba Curhat Soal Listrik dan Krisis Pangan
Kuba tengah menghadapi krisis pangan dan energi yang semakin memburuk. Pemadaman listrik terjadi hampir setiap hari, bahkan di sejumlah wilayah...
Read more
Jumlah korban tewas akibat demonstrasi besar-besaran di Iran terus bertambah. Kelompok hak asasi manusia yang berbasis di Amerika Serikat, Human Rights Activists News Agency (HRANA), melaporkan sebanyak 2.403 orang meninggal dunia dalam rangkaian unjuk rasa yang berlangsung hingga Selasa, 13 Januari.
Menurut laporan HRANA, korban jiwa tersebut mencakup warga sipil dari berbagai kelompok usia, termasuk anak-anak di bawah 18 tahun. Angka ini menunjukkan lonjakan signifikan dibandingkan laporan sebelumnya yang mencatat sekitar 1.850 korban tewas. Hingga kini, laporan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen oleh media internasional.
Iran telah diguncang gelombang demonstrasi sejak 28 Desember lalu. Aksi unjuk rasa yang awalnya berlangsung damai berubah menjadi bentrokan setelah aparat keamanan terlibat dalam penindakan terhadap massa. Sejumlah wilayah dilaporkan mengalami kerusuhan, dengan massa membakar gedung-gedung pemerintah dan masjid, serta merobek bendera nasional Iran.
Aksi protes di Iran pada mulanya dipicu oleh krisis ekonomi yang berkepanjangan. Melemahnya mata uang nasional dan meningkatnya harga kebutuhan pokok memicu kemarahan publik. Seiring waktu, tuntutan massa berkembang menjadi desakan perubahan politik, termasuk seruan agar kepemimpinan Ayatollah Ali Khamenei diakhiri.
Pemerintah Iran menuding bahwa demonstrasi tersebut ditunggangi oleh kekuatan asing. Menurut sejumlah pejabat Iran, Amerika Serikat dan Israel diduga berada di balik dukungan terhadap gerakan protes yang mereka sebut sebagai upaya melemahkan stabilitas nasional. Tuduhan ini dibantah secara tidak langsung oleh kedua negara, yang sejak awal menyatakan dukungan terhadap hak rakyat Iran untuk menyuarakan aspirasi.
Ketegangan semakin meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan membuka sejumlah opsi untuk merespons situasi di Iran, termasuk kemungkinan intervensi militer. Pernyataan tersebut memicu reaksi keras dari Teheran. Pemerintah Iran menegaskan siap mempertahankan kedaulatan negara dan menyatakan akan melakukan serangan antisipasi jika Amerika Serikat dan Israel terlibat langsung.
Situasi di Iran hingga kini masih belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Bentrokan antara aparat keamanan dan massa terus terjadi di sejumlah kota, sementara komunitas internasional memantau perkembangan dengan penuh kekhawatiran atas meningkatnya korban jiwa dan potensi eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Referensi: CNN Indonesia
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Internasional Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia internasional — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Konten lokal menunjukkan taringnya di platform Netflix Indonesia. Pada periode 2-8 Februari 2026, sebanyak tujuh dari sepuluh film terpopuler di...
Julian Alvarez kembali menunjukkan ketajamannya bersama Atletico Madrid. Penyerang asal Argentina itu mencetak satu gol dalam kemenangan telak 4-0 atas...