Bukan Sekadar Kista Ovarium, PCOS Resmi Berganti Nama Menjadi PMOS
Dunia kesehatan perempuan memasuki babak baru setelah istilah Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) resmi diubah menjadi Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome (PMOS)....
Read more
Penyakit gagal ginjal kronis tidak hanya menyerang kelompok lanjut usia. Dalam beberapa kasus, kondisi ini juga dapat terjadi pada usia muda dan berkembang tanpa disadari karena gejalanya sering dianggap sebagai keluhan kesehatan biasa.
Hal tersebut dialami oleh Niven Hopkins, seorang pria asal Inggris yang didiagnosis mengalami gagal ginjal kronis saat berusia 26 tahun. Pengalamannya menjadi pengingat bahwa tanda-tanda gangguan ginjal bisa muncul secara perlahan dan kerap luput dari perhatian.
Menurut Niven Hopkins, gejala awal yang ia rasakan muncul pada Juni 2024 ketika salah satu kakinya mendadak terasa sangat nyeri tanpa penyebab yang jelas.
“Kaki saya terasa sangat sakit, terasa seperti jari kaki saya patah. Yang aneh adalah saya tidak terbentur apa pun,” ungkap Niven Hopkins.
Awalnya, ia tidak terlalu memikirkan kondisi tersebut dan memilih beristirahat. Namun keesokan harinya, kaki yang sakit mulai membengkak, memerah, dan rasa nyerinya semakin hebat.
Niven sempat menduga dirinya mengalami serangan asam urat. Akan tetapi, beberapa hari kemudian rumah sakit memintanya datang untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa ia mengidap gagal ginjal stadium 4, sebuah kondisi ketika fungsi ginjal telah mengalami penurunan yang sangat signifikan.
Setelah menerima diagnosis tersebut, Niven mulai menyadari bahwa tubuhnya sebenarnya telah memberikan sejumlah tanda peringatan sejak lama.
Ia mengaku sering mengalami kelelahan ekstrem, tetapi menganggapnya sebagai dampak aktivitas sehari-hari. Selain itu, ia juga mengalami sakit punggung yang dianggap berasal dari olahraga dan latihan fisik yang rutin dijalaninya.
“Saya juga mengalami sakit punggung, yang saya anggap sebagai akibat dari olahraga. Saya berasumsi mengalami cedera mengangkat beban atau berlari,” ujarnya.
Gejala lain yang turut muncul adalah urine berbusa, kondisi yang sering dikaitkan dengan adanya protein berlebih dalam urine akibat gangguan fungsi ginjal. Namun saat itu, Niven tidak menganggapnya sebagai masalah serius.
Ia juga mengalami apa yang dikenal sebagai brain fog atau kabut otak, yaitu kondisi ketika seseorang sulit berkonsentrasi, mudah lupa, dan mengalami penurunan fokus.
“Kemudian ada kabut otak, yang menyebabkan sering lupa apa yang sedang saya katakan di tengah percakapan atau kehilangan fokus saat menulis e-mail. Gejala itu muncul perlahan, dan saya tidak mengaitkannya dengan sesuatu yang serius,” kata Niven.
Menurut informasi dari Mayo Clinic, gagal ginjal stadium 4 merupakan fase ketika ginjal mengalami kerusakan berat dengan fungsi yang tersisa sangat terbatas. Stadium ini menjadi tahap terakhir sebelum pasien memasuki stadium 5 atau gagal ginjal tahap akhir.
Dalam kasus Niven, pemeriksaan lebih lanjut menemukan bahwa penyakit yang dideritanya berkaitan dengan kelainan genetik yang diturunkan dalam keluarga. Ia mengungkapkan bahwa sang ibu sebelumnya juga pernah menjalani dua kali transplantasi ginjal.
Saat ini, kondisi Niven telah berkembang menjadi gagal ginjal stadium 5. Untuk mempertahankan fungsi tubuhnya, ia harus menjalani dialisis setiap hari menggunakan metode Automated Peritoneal Dialysis (APD).
“Ini disebut dialisis peritoneal otomatis (APD). Sebuah selang di perut saya menghubungkan saya ke mesin, yang melakukan pekerjaan yang tidak dapat lagi dilakukan ginjal saya,” jelasnya.
Proses tersebut berlangsung sekitar sembilan jam setiap malam saat ia tidur. Selain itu, Niven juga harus rutin memantau berat badan, tekanan darah, serta mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter.
Kisah ini menunjukkan bahwa gejala seperti kaki bengkak, kelelahan berkepanjangan, urine berbusa, sakit punggung tanpa penyebab jelas, hingga gangguan konsentrasi tidak selalu dapat dianggap sepele. Pemeriksaan kesehatan secara berkala menjadi langkah penting untuk mendeteksi gangguan ginjal lebih dini sebelum kondisi berkembang menjadi lebih serius.
Referensi:
Detik Health
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Kesehatan Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia kesehatan — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Nama Mathew Baker menjadi sorotan setelah mencatatkan sejarah baru bersama Timnas Indonesia. Pemain muda berdarah Indonesia-Australia itu resmi menjadi debutan...
Dunia kesehatan perempuan memasuki babak baru setelah istilah Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) resmi diubah menjadi Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome (PMOS)....