Slow Jogging Sedang Tren, Apakah Benar Lebih Efektif Membakar Kalori?

Slow jogging sedang populer sebagai olahraga ringan. Dokter menjelaskan apakah aktivitas ini benar lebih efektif membakar kalori dibanding jogging biasa.

Slow jogging sedang populer sebagai olahraga ringan

Tren slow jogging semakin ramai diperbincangkan di media sosial. Aktivitas ini menarik perhatian karena menawarkan cara berolahraga dengan kecepatan santai, sehingga dinilai lebih mudah dilakukan oleh berbagai kelompok usia. Tidak sedikit pula yang menyebut slow jogging lebih efektif membakar kalori dibandingkan jogging biasa.

Namun, benarkah anggapan tersebut didukung oleh bukti ilmiah?

Menurut dr. Listya Tresnanti Mirtha, SpKO, Subsp.APK(K), MARS, dokter spesialis kedokteran olahraga dari Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), hingga saat ini belum ada bukti yang menunjukkan bahwa slow jogging mampu membakar kalori lebih banyak dibandingkan jogging dengan intensitas sedang apabila durasi latihan dan karakteristik individu sama.

Ia menjelaskan bahwa jumlah kalori yang terbakar saat berolahraga dipengaruhi oleh berbagai faktor, bukan hanya jenis aktivitas yang dilakukan.

“Kalori yang terbakar tetap dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti berat badan, durasi latihan, intensitas, dan efisiensi gerakan,” kata dr. Listya Tresnanti Mirtha kepada sumber utama.

Pernyataan tersebut sejalan dengan berbagai panduan kesehatan yang menyebutkan bahwa pengeluaran energi selama olahraga dipengaruhi oleh kombinasi intensitas aktivitas, waktu latihan, berat badan, usia, hingga kondisi kebugaran seseorang.

Konsistensi Menjadi Manfaat Utama Slow Jogging

Slow jogging merupakan bentuk aktivitas aerobik yang dilakukan dengan kecepatan sekitar 3 hingga 5 kilometer per jam. Kecepatannya memang mendekati jalan cepat, tetapi tubuh tetap melakukan gerakan berlari sehingga otot-otot besar seperti paha, bokong, dan betis bekerja secara berulang.

Baca Juga:  Cara Efektif Bakar Lemak Perut Tanpa ke Gym

Menurut dr. Listya Tresnanti Mirtha, meskipun kelompok otot besar tetap aktif selama melakukan slow jogging, kondisi tersebut tidak otomatis membuat pembakaran kalori lebih tinggi dibandingkan jogging biasa.

“Memang selama slow jogging otot-otot besar seperti otot paha, bokong, dan betis tetap bekerja secara berulang, tetapi belum ada bukti yang menunjukkan slow jogging membakar kalori lebih banyak daripada jogging dengan intensitas sedang jika durasi dan karakteristik individunya sama,” jelasnya.

Berdasarkan informasi dari Harvard Medical School, jumlah kalori yang terbakar ketika berolahraga sangat bergantung pada tingkat intensitas dan lamanya aktivitas dilakukan. Semakin lama seseorang bergerak, semakin besar pula total energi yang digunakan tubuh. Karena itu, olahraga berintensitas ringan tetap mampu memberikan manfaat apabila dilakukan secara rutin dan dalam durasi yang cukup.

Inilah yang menjadi keunggulan utama slow jogging. Aktivitas ini terasa lebih ringan sehingga banyak orang mampu mempertahankan latihan dalam waktu lebih lama dibandingkan olahraga dengan intensitas tinggi. Bagi pemula, lansia, atau mereka yang baru kembali aktif berolahraga, pendekatan seperti ini sering kali lebih nyaman dijalankan.

Menurut dr. Listya Tresnanti Mirtha, manfaat terbesar slow jogging justru berasal dari kemampuannya membantu seseorang membangun kebiasaan berolahraga secara konsisten.

“Yang justru menarik adalah karena terasa lebih nyaman, banyak orang akhirnya mampu berolahraga lebih lama dan lebih rutin,” ujarnya.

Baca Juga:  Perhatikan Bahaya Makanan Kukusan yang Dibiarkan di Suhu Ruang

Ia menambahkan bahwa manfaat kesehatan dalam jangka panjang lebih banyak dipengaruhi oleh konsistensi daripada memilih olahraga yang paling berat.

“Singkatnya, sebenarnya olahraga terbaik bukan yang paling berat, tetapi yang paling bisa kita lakukan secara konsisten,” kata dr. Listya Tresnanti Mirtha.

Selain membantu menjaga kebugaran, olahraga aerobik yang dilakukan secara rutin juga diketahui berkontribusi terhadap kesehatan jantung, membantu mengontrol berat badan, meningkatkan daya tahan tubuh, serta mendukung kesehatan mental. Oleh karena itu, memilih jenis olahraga yang sesuai dengan kemampuan masing-masing menjadi langkah penting agar aktivitas fisik dapat dilakukan secara berkelanjutan.

Referensi:
Detik Health

📚 ️Baca Juga Seputar Kesehatan

Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Kesehatan Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia kesehatan — semua ada di sana!

Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.

📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral

Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!

BERITATERKAIT

BERITATERBARU

INSTAGRAMFEED