Printer Tidak Keluar Tinta? Kenali Penyebab dan Solusinya
Bayangkan Anda sedang mengejar deadline. File sudah selesai dibuat. Dokumen sudah diperiksa. Tinggal satu langkah terakhir: tekan Print. Printer menyala....
Read more
Refleksi diri biasanya identik dengan menulis jurnal, mencatat perasaan, atau mengevaluasi berbagai hal yang sudah dilakukan. Namun, cara untuk mengenali dan menghargai diri sendiri ternyata bisa datang dari sesuatu yang lebih sederhana dan dekat dengan keseharian, termasuk tren media sosial.
Salah satunya adalah tren TikTok My Favorite Person. Tren ini awalnya dibuat untuk menunjukkan apresiasi kepada orang yang dianggap istimewa, seperti anak, pasangan, teman, orang tua, hingga hewan peliharaan. Namun, konsep tersebut ternyata juga dapat diterapkan untuk melihat diri sendiri dengan cara yang lebih positif.
Tren ini menarik perhatian karena bukan sekadar menampilkan seseorang yang disayangi. Penggunanya diminta memperhatikan berbagai hal kecil yang membuat orang tersebut istimewa, mulai dari kebiasaan, cara berinteraksi, hingga karakter yang jarang dibicarakan secara langsung.
Menurut psikoterapis Dipesh Patel, MBA, MSW, LCSW/LICSW, tren My Favorite Person dapat dipandang sebagai bentuk kesadaran relasional. Seseorang diajak memperhatikan kualitas dan momen sehari-hari yang membuat orang yang dicintainya terasa istimewa.
Terapis Chloë Bean, LMFT, juga menjelaskan bahwa praktik tersebut memiliki unsur apresiasi dan rasa syukur. Ketika seseorang secara sengaja memperhatikan keunikan orang lain, penerima apresiasi dapat merasa dilihat dan dihargai.
Konsep yang sama kemudian bisa diarahkan kepada diri sendiri. Alih-alih hanya mencari hal yang disukai dari pasangan, anak, teman, atau hewan peliharaan, seseorang dapat mencoba bertanya, apa yang sebenarnya saya sukai dan hargai dari diri sendiri?
Menerapkan tren ini kepada diri sendiri pada dasarnya merupakan latihan untuk mengubah cara seseorang memandang dirinya. Fokusnya bukan hanya pada pencapaian, tetapi juga pada karakter, kebiasaan, nilai hidup, dan tindakan kecil yang sering dianggap tidak penting.
Menurut Chloë Bean, pendekatan tersebut dapat membantu seseorang menghargai diri berdasarkan siapa dirinya, bukan semata-mata berdasarkan apa yang berhasil dicapai.
Hal ini penting karena seseorang yang terbiasa mengkritik dirinya sendiri sering kali hanya memperhatikan kekurangan. Ketika gagal menyelesaikan pekerjaan, misalnya, perhatian langsung tertuju pada kesalahan. Sementara itu, usaha yang sudah dilakukan atau hal-hal yang berhasil diselesaikan justru mudah dilupakan.
Latihan apresiasi diri membantu mengubah pola tersebut. Seseorang mulai belajar memperhatikan bukti-bukti kecil bahwa dirinya mampu, peduli, bertanggung jawab, atau memiliki kualitas positif lainnya.
Bean menjelaskan bahwa ketika seseorang secara konsisten memperhatikan hal yang dihargai dari dirinya, proses tersebut dapat memperkuat pemahaman terhadap diri sendiri. Pemahaman diri yang lebih baik kemudian menjadi salah satu dasar dalam membangun kepercayaan diri.
Latihan ini juga dapat membantu mengurangi suara kritik dalam diri. Daripada terus mengatakan “Saya tidak cukup baik” atau “Saya belum melakukan apa-apa”, seseorang dapat menggantinya dengan pengamatan yang lebih konkret.
Misalnya, daripada mengatakan “Saya orang yang baik”, coba perhatikan tindakan spesifik seperti “Saya mendengarkan teman ketika dia sedang mengalami masalah” atau “Saya menyelesaikan tugas yang sempat saya tunda.”
Cara tersebut membuat apresiasi diri terasa lebih nyata. Pujian tidak berhenti sebagai kalimat umum, tetapi didasarkan pada pengalaman yang benar-benar terjadi.
Temuan mengenai self-love juga sejalan dengan penjelasan psikolog di Indonesia. Berdasarkan keterangan psikolog klinis Hanna Monareh yang dikutip ANTARA, self-love merupakan bagian dari proses merawat kesehatan mental. Mencintai diri sendiri bukan berarti bersikap egois, melainkan menghargai kesejahteraan dan memperlakukan diri secara baik.
Dengan begitu, menggunakan tren media sosial sebagai sarana refleksi bukan berarti seseorang harus mengikuti tren secara mentah. Justru, konsep yang ada dapat dimanfaatkan sebagai pemicu untuk melakukan kebiasaan yang lebih sehat, seperti mengenali kelebihan, menerima kekurangan, dan mengurangi kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain.
Bagi orang yang terbiasa merendahkan diri atau memiliki kritik batin yang kuat, mengapresiasi diri sendiri mungkin terasa aneh pada awalnya. Karena itu, latihan tidak perlu langsung dilakukan dalam bentuk video atau dibagikan ke media sosial.
Langkah pertama bisa dilakukan dengan menjawab beberapa pertanyaan sederhana.
Coba tanyakan kepada diri sendiri: Bagaimana saya menunjukkan kepedulian kepada orang lain? Apa yang berhasil saya lakukan minggu ini? Apa yang membuat saya tertawa? Bagaimana saya memperlakukan orang yang tidak saya kenal? Nilai apa yang penting bagi saya?
Pertanyaan tersebut membantu mengalihkan perhatian dari kekurangan menuju berbagai sisi diri yang selama ini mungkin terabaikan.
Chloë Bean menyarankan agar seseorang mencatat kualitas dirinya dengan rasa ingin tahu, bukan dengan penghakiman. Tidak perlu mencari sesuatu yang besar. Satu hal positif setiap hari sudah cukup untuk memulai.
Misalnya, hari ini seseorang menyadari bahwa dirinya mampu menyelesaikan pekerjaan meski sedang tidak bersemangat. Besok, ia mungkin menyadari bahwa dirinya sabar menghadapi anggota keluarga. Pada hari berikutnya, ia bisa mencatat bahwa dirinya berani mengatakan tidak terhadap sesuatu yang tidak sesuai dengan kebutuhan.
Semakin spesifik pengamatan tersebut, semakin mudah seseorang melihat pola positif dalam dirinya.
Cara berikutnya adalah memilih waktu ketika pikiran sedang tenang. Jangan menunggu sampai sedang berada dalam kondisi sangat tertekan untuk memaksa diri melakukan apresiasi.
Saat latihan dilakukan dalam kondisi lebih tenang, seseorang dapat mengamati dirinya tanpa terlalu terbawa oleh emosi negatif. Jika kemudian muncul suara batin yang mengatakan bahwa kegiatan tersebut terasa konyol atau tidak penting, hal itu tidak perlu langsung dilawan.
Pikiran seperti itu justru dapat dipandang sebagai bagian dari pola lama yang sedang berubah.
Pendekatan tersebut juga sejalan dengan pandangan mengenai self-love yang pernah disampaikan psikolog di Indonesia. Hanna Monareh menjelaskan bahwa mencintai diri dapat dilakukan melalui tindakan positif yang membuat seseorang merasa dihargai, termasuk merawat diri, melakukan aktivitas yang disukai, berolahraga, serta menerima kelebihan dan kekurangan diri.
Pada akhirnya, inti dari adaptasi tren My Favorite Person bukanlah membuat konten yang terlihat sempurna. Yang lebih penting adalah belajar memperlakukan diri sendiri dengan perhatian yang selama ini mungkin lebih mudah diberikan kepada orang lain.
Tren tersebut juga menunjukkan bagaimana konten media sosial dapat memiliki sisi yang berbeda dari sekadar hiburan. Format sederhana yang awalnya digunakan untuk memberikan kejutan dan pujian kepada orang terdekat dapat diubah menjadi latihan untuk mengenali kualitas diri.
Namun, mengikuti tren tetap tidak harus menjadi tujuan utama. Jika ingin menggunakannya untuk membangun kepercayaan diri, fokus sebaiknya diarahkan pada proses mengenali diri dan memberikan apresiasi yang realistis.
Referensi:
Kompas.com
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Tips Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia tips — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Perselingkuhan dalam hubungan sering kali langsung dikaitkan dengan hubungan seksual bersama orang lain. Padahal, pengkhianatan terhadap pasangan dapat muncul dalam...
Refleksi diri biasanya identik dengan menulis jurnal, mencatat perasaan, atau mengevaluasi berbagai hal yang sudah dilakukan. Namun, cara untuk mengenali...