Pemulangan WNI dari Wilayah Konflik Myanmar, Mayoritas Terlibat Online Scam
Sebanyak 90 Warga Negara Indonesia dipulangkan dari wilayah konflik Myawaddy, Myanmar, setelah diduga terlibat dalam aktivitas penipuan daring atau online...
Read more
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi sorotan internasional setelah berulang kali salah menyebut Greenland sebagai Iceland dalam pidatonya di hadapan para pemimpin dunia di Forum Ekonomi Dunia atau World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss. Insiden tersebut terjadi saat Trump membahas isu geopolitik dan keamanan global yang melibatkan kawasan Arktik.
Menurut keterangan Gedung Putih, kesalahan ucapan tersebut tidak mencerminkan kebingungan Presiden AS. Gedung Putih membantah anggapan bahwa Trump keliru memahami perbedaan antara Greenland dan Iceland, meskipun dalam pidatonya ia beberapa kali menyebut nama negara yang berbeda dari maksud sebenarnya.
Trump, yang kini berusia 79 tahun, memang tengah gencar mendorong gagasan agar Amerika Serikat mengakuisisi Greenland, wilayah otonomi Denmark yang dinilai strategis karena letaknya di kawasan Arktik. Berdasarkan pernyataan Trump sebelumnya, ancaman keamanan dari Rusia dan China di wilayah Lingkaran Arktik menjadi alasan utama di balik dorongan tersebut.
Pada Rabu, 21 Januari, Trump bahkan mengumumkan adanya kerangka kerja kesepakatan masa depan terkait Greenland. Ia juga menyatakan pembatalan rencana tarif terhadap negara-negara Eropa yang menentang langkah AS tersebut. Namun, pernyataan ini justru dibarengi kritik keras terhadap sekutu NATO yang dinilai kurang mendukung kebijakan Washington.
“Saya membantu NATO, dan sampai beberapa hari terakhir, ketika saya memberitahu mereka tentang Iceland, mereka menyukai saya,” kata Trump dalam pidatonya. Ia kemudian menambahkan bahwa pasar saham AS mengalami penurunan akibat Iceland, pernyataan yang secara konteks jelas merujuk pada Greenland, bukan negara Islandia di Atlantik Utara yang dikenal dengan lanskap vulkaniknya.
Kesalahan penyebutan itu memicu reaksi publik, termasuk dari kalangan jurnalis. Seorang jurnalis, Libbey Dean, menulis di media sosial X bahwa Trump tampak mencampuradukkan Greenland dan Iceland hingga tiga kali. Menanggapi kritik tersebut, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt memberikan pembelaan.
“Tidak, Libby. Pernyataan tertulisnya menyebut Greenland sebagai potongan es karena memang itulah adanya. Hanya Anda yang mencampuradukkan semuanya di sini,” kata Leavitt, sembari secara sengaja salah menuliskan nama jurnalis tersebut.
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Perubahan cara berjalan sering kali dianggap sebagai masalah ringan akibat kelelahan atau kurang olahraga. Namun, kondisi ini ternyata dapat menjadi...
Paparan logam berat timbal masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan anak di Indonesia. Studi terbaru menunjukkan bahwa sebagian anak usia...