Tren All You Can Eat Populer, Tapi Bisa Picu GERD Jika Makan Terlalu Banyak
Restoran dengan konsep all you can eat (AYCE) semakin populer di berbagai kota. Dengan membayar satu harga, pengunjung bisa menikmati...
Read more
Perubahan cara berjalan sering kali dianggap sebagai masalah ringan akibat kelelahan atau kurang olahraga. Namun, kondisi ini ternyata dapat menjadi sinyal awal gangguan otak serius, termasuk demensia onset dini yang kini semakin banyak ditemukan pada usia muda.
Demensia dikenal sebagai gangguan kognitif progresif yang memengaruhi daya ingat, kemampuan berpikir, perilaku, dan aktivitas sehari-hari. Selama ini, demensia kerap dikaitkan dengan usia lanjut. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, para peneliti menemukan bahwa gejala demensia juga bisa muncul pada usia produktif, bahkan sejak awal 30-an.
Fenomena pergeseran usia ini mendorong banyak ahli untuk meneliti lebih dalam faktor pemicu demensia dini, mulai dari faktor genetik, gaya hidup, hingga gangguan neurologis tertentu. Salah satu gejala yang cukup menonjol dan sering tidak disadari adalah perubahan pada cara berjalan atau gait.
Menurut Dementia UK, organisasi yang fokus pada edukasi dan pendampingan penderita demensia, gangguan gerak dapat menjadi tanda awal demensia yang berbeda dari demensia pada lansia. Gejala ini berkaitan erat dengan fungsi otak yang mengatur koordinasi, keseimbangan, dan kesadaran spasial.
Berdasarkan panduan dari Dementia UK, terdapat lima perubahan utama pada gerakan tubuh yang dapat menjadi indikasi awal demensia onset dini. Gejala-gejala ini kerap muncul secara perlahan dan sering diabaikan karena dianggap tidak berbahaya.
Perubahan pertama adalah gaya berjalan yang tidak normal, seperti langkah menyeret, kecepatan berjalan yang melambat, atau langkah menjadi lebih pendek dari biasanya. Kondisi ini terjadi akibat gangguan pada area otak yang mengatur perencanaan dan eksekusi gerakan.
Kedua, gangguan keseimbangan yang ditandai dengan sering tersandung atau terjatuh tanpa sebab yang jelas. Penderita mungkin merasa tubuhnya kurang stabil saat berjalan di permukaan datar sekalipun.
Ketiga, gerakan yang tampak ceroboh, misalnya sering menabrak benda di sekitar, salah memperkirakan jarak, atau kesulitan bermanuver di ruang sempit. Hal ini berkaitan dengan penurunan kemampuan otak dalam memproses informasi visual dan spasial.
Keempat, muncul gerakan tidak terkendali, seperti tangan gemetar, kaku pada pergerakan mata, atau refleks tubuh yang melambat. Gejala ini sering disalahartikan sebagai efek stres atau kelelahan.
Kelima, penurunan ketangkasan dan mobilitas, di mana penderita mulai kesulitan melakukan aktivitas sederhana seperti mengancingkan baju, menulis, atau mengambil benda kecil.
Menurut Dementia UK, gejala-gejala tersebut sering berkaitan dengan demensia Lewy body dan penyakit Parkinson, dua kondisi neurologis yang memiliki keterkaitan erat dengan gangguan gerak dan fungsi otak.
Selain perubahan cara berjalan, sebagian penderita demensia onset dini juga mengalami gangguan kesadaran spasial. Kondisi ini membuat seseorang sulit menilai jarak, arah, dan posisi benda di sekitarnya. Akibatnya, penderita lebih mudah tersesat atau mengalami kecelakaan ringan dalam aktivitas harian.
Beberapa pasien bahkan melaporkan halusinasi visual, terutama pada demensia Lewy body. Halusinasi ini dapat memperburuk kebingungan dan meningkatkan risiko cedera.
Gangguan lain yang kerap muncul adalah afasia, yaitu penurunan kemampuan berbahasa dan berkomunikasi. Gejala afasia meliputi bicara terputus-putus, sulit menemukan kata yang tepat, serta kalimat yang terdengar tidak jelas. Dalam beberapa kasus, penderita cenderung menarik diri dan menghindari komunikasi karena merasa frustrasi.
Menurut para ahli neurologi, kombinasi antara gangguan gerak, bahasa, dan kesadaran spasial merupakan sinyal penting yang tidak boleh diabaikan, terutama jika muncul pada usia muda tanpa riwayat cedera serius.
Pakar kesehatan menekankan bahwa deteksi dini sangat penting untuk memperlambat progresivitas demensia. Dengan mengenali tanda-tanda awal, penderita dapat segera menjalani pemeriksaan neurologis, perubahan gaya hidup, serta terapi yang sesuai untuk menjaga kualitas hidup.
Masyarakat diimbau untuk lebih peka terhadap perubahan fisik dan kognitif yang tidak biasa, baik pada diri sendiri maupun orang terdekat. Perubahan kecil pada cara berjalan bisa menjadi pesan penting dari tubuh bahwa otak membutuhkan perhatian lebih.
Referensi: DetikHealth
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Kesehatan Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia kesehatan — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Dunia hiburan Indonesia berduka. Penyanyi Vidi Aldiano meninggal dunia setelah menjalani perjuangan panjang melawan kanker selama enam tahun. Kabar wafatnya...
Kebersihan perangkat rumah tangga sering kali kurang diperhatikan, termasuk mesin cuci. Banyak orang menganggap alat ini tidak perlu dibersihkan karena...