Gagalnya Negosiasi AS Iran Dorong Harga Minyak Melonjak dan Pasar Energi Bergejolak

Harga minyak dunia melonjak di atas US$100 per barel usai AS dan Iran gagal damai. Blokade Selat Hormuz picu kekhawatiran pasokan global. (Foto: infobanknews.com)

Harga minyak dunia melonjak di atas US$100 per barel usai AS dan Iran gagal damai

Harga minyak mentah dunia kembali melonjak dan menembus level psikologis US$100 per barel pada Senin (13/4/2026). Kenaikan ini terjadi setelah Amerika Serikat dan Iran gagal mencapai kesepakatan damai, yang memicu kekhawatiran serius terhadap pasokan energi global.

Berdasarkan data pasar, kontrak minyak mentah Brent naik sebesar US$6,71 atau sekitar 7,05 persen menjadi US$101,91 per barel. Jika dikonversi, harga tersebut setara sekitar Rp1,63 juta per barel. Sementara itu, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) AS juga mengalami lonjakan signifikan ke level US$104,16 per barel atau sekitar Rp1,66 juta.

Menurut laporan Reuters, kenaikan harga ini dipicu langsung oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Gagalnya negosiasi damai antara kedua negara membuat pasar kembali berada dalam kondisi tidak stabil.

Menurut Kepala Penelitian Energi MST Marquee, Saul Kavonic, situasi pasar saat ini kembali seperti sebelum adanya gencatan senjata. “Bedanya, sekarang AS akan memblokir aliran minyak yang tersisa hingga 2 juta barel per hari yang terkait dengan Iran melalui Selat Hormuz,” kata Saul Kavonic.

Langkah tersebut menjadi faktor utama yang mendorong lonjakan harga minyak, karena Selat Hormuz merupakan jalur vital distribusi energi dunia.

Dampak Blokade Selat Hormuz dan Respons Global

Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan akan memulai blokade terhadap jalur pelayaran Iran di Selat Hormuz setelah pembicaraan damai tidak mencapai kesepakatan. Kebijakan ini dijadwalkan mulai berlaku pada Senin (13/4) waktu setempat.

Menurut Komando Pusat AS atau CENTCOM, blokade ini akan diterapkan terhadap lalu lintas kapal yang menuju dan keluar dari pelabuhan Iran. Kebijakan ini berlaku secara imparsial untuk semua kapal yang terlibat dalam aktivitas tersebut, kecuali kapal yang menuju pelabuhan non Iran.

Langkah ini diperkirakan akan berdampak besar terhadap pasokan minyak global, mengingat volume minyak yang melewati jalur tersebut bisa mencapai hingga 2 juta barel per hari.

Analis pasar dari IG Market, Tony Sycamore, menilai kebijakan ini secara efektif akan menekan distribusi minyak Iran ke pasar global. Ia juga menyebut negara mitra Iran kemungkinan akan memberikan tekanan agar jalur pelayaran kembali dibuka demi menjaga stabilitas pasokan.

Di sisi lain, ketegangan semakin meningkat setelah Garda Revolusi Iran memperingatkan bahwa setiap kapal militer yang mendekati Selat Hormuz akan dianggap sebagai pelanggaran dan berpotensi ditindak tegas.

Meski situasi memanas, data pengiriman menunjukkan bahwa beberapa kapal tanker masih sempat melintasi Selat Hormuz sebelum kebijakan blokade diberlakukan. Namun, menjelang penerapan kebijakan tersebut, sejumlah kapal mulai menghindari jalur itu sebagai langkah antisipasi.

Kondisi ini mempertegas bahwa pasar energi global sangat sensitif terhadap konflik geopolitik, terutama yang melibatkan kawasan strategis seperti Timur Tengah.

Referensi:
CNN Indonesia

📚 ️Baca Juga Seputar Internasional

Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉

Kumpulan Artikel dan Berita Internasional Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia internasional — semua ada di sana!

✍️ Ditulis oleh: Fadjri Adhi Putra & Fahmi Fahrulrozi
📌 Editor: Redaksi Tren Media

Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.

📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral

Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!

BERITATERKAIT

BERITATERBARU

INSTAGRAMFEED