Serangan Drone Ukraina di Rusia Tewaskan Remaja yang Sedang Berkendara Motor
Serangan drone yang diluncurkan oleh Ukraina kembali memakan korban jiwa di wilayah Belgorod, Rusia. Kali ini, dua remaja dilaporkan meninggal...
Read more
Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei resmi dipilih sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei. Penunjukan tersebut dilakukan oleh Majelis Pakar Iran setelah wafatnya Ali Khamenei akibat serangan militer Amerika Serikat dan Israel.
Pemilihan Mojtaba menandai babak baru dalam kepemimpinan Republik Islam Iran. Ia kini menjadi tokoh yang memegang kekuasaan tertinggi dalam sistem politik Iran, termasuk dalam urusan kebijakan luar negeri, militer, hingga program nuklir negara tersebut.
Berdasarkan keterangan dari Majelis Pakar Iran, pemilihan tersebut dilakukan oleh 88 ulama senior yang memiliki kewenangan menentukan pemimpin tertinggi Iran.
Salah satu anggota Majelis Pakar Iran, Mohsen Heidari Alekasir, menyatakan bahwa kandidat yang dipilih merupakan sosok yang sesuai dengan pesan mendiang Ali Khamenei.
“Bahkan Setan Besar telah menyebut namanya,” kata Alekasir dalam sebuah video pernyataan yang disampaikan beberapa hari setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut Mojtaba sebagai pilihan yang tidak dapat diterima.
Mojtaba Khamenei lahir pada tahun 1969 di kota suci Mashhad, Iran. Ia merupakan putra kedua dari Ayatollah Ali Khamenei yang selama puluhan tahun menjadi pemimpin tertinggi Iran.
Mojtaba tumbuh dalam lingkungan politik dan agama yang kuat. Pada masa mudanya, ia menyaksikan langsung perjuangan oposisi yang dipimpin ayahnya melawan pemerintahan Shah Iran sebelum Revolusi Iran pada 1979.
Sebagai seorang pemuda, Mojtaba juga pernah bertugas bersama militer Iran dalam perang Iran-Irak, konflik besar yang berlangsung pada dekade 1980-an.
Dalam pendidikan keagamaan, Mojtaba menempuh studi di Qom, kota yang menjadi pusat pembelajaran ajaran Syiah di Iran. Ia belajar di bawah bimbingan ulama konservatif dan memperoleh gelar Hojjatoleslam, sebuah gelar keagamaan yang berada satu tingkat di bawah Ayatollah.
Meski tidak pernah memegang jabatan resmi dalam pemerintahan Iran, Mojtaba dikenal memiliki pengaruh kuat di balik layar kekuasaan selama kepemimpinan ayahnya.
Menurut sejumlah sumber yang memahami dinamika politik Iran, Mojtaba sering disebut sebagai penjaga gerbang kekuasaan Ali Khamenei. Ia berperan penting dalam mengatur akses politik terhadap pemimpin tertinggi.
Selain itu, Mojtaba juga memiliki hubungan dekat dengan Garda Revolusi Iran atau IRGC, salah satu kekuatan militer paling berpengaruh di negara tersebut. Kedekatan ini membuatnya memiliki pengaruh luas di dalam struktur keamanan dan politik Iran.
Di bawah kepemimpinan ayahnya, Mojtaba juga diketahui memiliki hubungan dengan berbagai jaringan bisnis besar yang berada di bawah kendali lembaga-lembaga negara dan militer.
Dalam hal politik, Mojtaba dikenal sebagai tokoh yang menentang kelompok reformis di Iran. Ia juga dianggap skeptis terhadap upaya menjalin hubungan lebih dekat dengan negara Barat.
Pandangan tersebut berkaitan dengan perdebatan panjang mengenai program nuklir Iran, yang selama ini menjadi perhatian negara-negara Barat. Pemerintah Iran berulang kali menegaskan bahwa program nuklir mereka hanya digunakan untuk tujuan sipil.
Terlepas dari pengaruhnya yang besar, penunjukan Mojtaba sebagai pemimpin tertinggi Iran tidak lepas dari kritik.
Sebagian pengamat dan pengkritik politik di Iran menilai bahwa proses tersebut menyerupai politik dinasti, sesuatu yang dianggap bertentangan dengan semangat revolusi Iran tahun 1979 yang menggulingkan monarki.
Selain itu, beberapa pihak juga mempertanyakan kualifikasi keagamaan Mojtaba. Gelar Hojjatoleslam yang dimilikinya dinilai berada di bawah tingkat ulama yang biasanya menduduki posisi pemimpin tertinggi.
Namun, situasi politik Iran juga dipengaruhi oleh perkembangan sebelumnya. Salah satu kandidat kuat untuk posisi tersebut, mantan Presiden Ebrahim Raisi, meninggal dunia dalam kecelakaan helikopter pada tahun 2024.
Di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat pernah menjatuhkan sanksi terhadap Mojtaba pada tahun 2019. Departemen Keuangan AS menyatakan bahwa ia bertindak sebagai perwakilan pemimpin tertinggi dalam kapasitas resmi meskipun tidak memegang jabatan pemerintahan.
Dalam catatan pemerintah AS, Mojtaba disebut bekerja dekat dengan kantor pemimpin tertinggi serta menjalin kerja sama dengan komandan pasukan Quds IRGC dan milisi Basij, yang merupakan kelompok paramiliter yang berafiliasi dengan Garda Revolusi Iran.
Kini, dengan posisinya sebagai pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba diperkirakan akan memainkan peran penting dalam menentukan arah kebijakan negara tersebut di tengah ketegangan geopolitik yang masih berlangsung.
Referensi:
Detik
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Internasional Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia internasional — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Sebagian pengguna mungkin terkejut saat membuka fitur status di aplikasi WhatsApp. Pasalnya, tidak hanya konten dari kontak, kini iklan juga...
Apple mencatat kinerja penjualan yang solid berkat tingginya permintaan terhadap produk terbaru mereka, termasuk iPhone 17 dan MacBook Neo. Kondisi...