Pesawat Militer AS Jatuh di Irak, Seluruh Awak Dikabarkan Tewas
Kecelakaan pesawat militer Amerika Serikat terjadi di wilayah Irak bagian barat dan menewaskan seluruh awak di dalamnya. Pesawat yang jatuh...
Read more
Musim dingin yang melanda Jalur Gaza kembali menelan korban jiwa dari kalangan paling rentan. Seorang bayi laki-laki berusia dua minggu meninggal dunia akibat hipotermia saat tinggal di area pengungsian di wilayah selatan Gaza. Tragedi ini terjadi di tengah kondisi hidup yang serba terbatas, meski gencatan senjata telah diberlakukan.
Bayi tersebut merupakan anak dari Eman Abu al-Khair, seorang ibu pengungsi berusia 34 tahun yang terpaksa meninggalkan rumahnya di bagian timur Khan Younis akibat kerusakan parah dampak serangan. Keluarga itu kemudian menetap di kawasan al-Mawasi, sebelah barat Khan Younis, dengan berlindung di tenda seadanya.
Eman mengenang malam tragis itu pada 13 Desember. Ia menidurkan bayinya yang bernama Mohammed seperti biasa. Namun, saat terbangun untuk memeriksa kondisi sang anak, ia mendapati tubuh Mohammed dalam keadaan sangat dingin dan hampir tidak bernapas.
“Tubuhnya dingin seperti es. Tangan dan kakinya membeku, wajahnya kaku dan kekuningan, dan dia hampir tidak bernapas. Saya segera membangunkan suami saya agar kami bisa membawanya ke rumah sakit, tetapi ia tidak dapat menemukan alat transportasi untuk membawa kami ke sana,” kata Eman Abu al-Khair, ibu korban.
Saat kejadian, hujan deras mengguyur area pengungsian dan suhu udara turun drastis. Tanpa perlindungan memadai, pakaian hangat, atau akses cepat ke layanan medis, kondisi Mohammed terus memburuk. Upaya membawa bayi tersebut ke rumah sakit baru dapat dilakukan saat fajar menyingsing dengan menggunakan gerobak sederhana.
“Begitu fajar menyingsing, kami bergegas menuju rumah sakit. Namun sayangnya, kami tiba terlambat. Kondisinya sudah kritis,” ujar Eman.
Staf medis di Rumah Sakit Bulan Sabit Merah di Khan Younis menyatakan kondisi Mohammed sangat parah saat tiba. Bayi tersebut mengalami kejang dan perubahan warna kulit menjadi biru, sehingga langsung dirawat di unit perawatan intensif anak dengan bantuan ventilator. Setelah menjalani perawatan selama dua hari, Mohammed meninggal dunia pada 15 Desember.
“Bayi saya tidak memiliki masalah medis. Hasil tesnya tidak menunjukkan penyakit apa pun. Tubuh mungilnya tidak mampu menahan dingin yang ekstrem di dalam tenda,” kata Eman dengan suara bergetar.
Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan Gaza, Mohammed Khalil Abu al-Khair dinyatakan meninggal akibat hipotermia akut yang dipicu suhu dingin ekstrem dan kondisi hidup yang keras di area pengungsian. Dalam pernyataan resmi, kementerian menyebutkan bahwa bayi tersebut sempat dirawat intensif sebelum akhirnya meninggal.
Dengan meninggalnya Mohammed, jumlah anak yang wafat akibat cuaca dingin di Gaza pada bulan ini bertambah menjadi empat orang. Sebelumnya, otoritas kesehatan setempat juga melaporkan tiga kematian serupa dalam sepekan terakhir, menandai krisis kemanusiaan yang kian memburuk seiring datangnya musim dingin.
Referensi: Detik News
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉
Kumpulan Artikel dan Berita Internasional Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia internasional — semua ada di sana!Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Belakangan ini media sosial diramaikan oleh klaim yang menyebut minum air putih hangat sebelum tidur dapat membuat ginjal lebih sehat....
Cuaca di wilayah Jakarta dan sekitarnya terasa lebih panas dibanding biasanya dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini dirasakan banyak warga...