Sejarah Kiswah Ka’bah, Ternyata Tidak Selalu Berwarna Hitam
Ka'bah di Mekkah, Arab Saudi, menjadi pusat ibadah umat Islam di seluruh dunia. Bangunan berbentuk kubus ini diselimuti kain khusus...
Read more
Korea Utara tengah menghadapi kekeringan parah yang disebut tidak biasa dan jarang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap ketahanan pangan di negara yang dikenal memiliki keterbatasan infrastruktur dan ekonomi tersebut.
Berdasarkan laporan kantor berita pemerintah setempat, kondisi kekeringan kini meluas di sebagian besar wilayah. Situasi ini membuat pemerintah dan para pekerja pertanian harus bekerja ekstra untuk melindungi tanaman.
“Kekeringan yang tidak biasa baru-baru ini terus berlanjut di sebagian besar wilayah negara, sebuah fenomena yang jarang terlihat pada tahun-tahun sebelumnya,” demikian laporan resmi yang disampaikan pemerintah.
Menurut laporan tersebut, berbagai upaya dilakukan untuk mengurangi dampak kekeringan, terutama pada tanaman awal musim seperti gandum dan jelai.
Pemerintah setempat disebut mengerahkan tenaga kerja untuk memperbaiki infrastruktur air, termasuk pintu air waduk dan saluran irigasi yang terdampak berkurangnya pasokan air.
“Kota dan kabupaten bertanggung jawab melakukan perbaikan pada pintu air waduk dan saluran air sesuai dengan berkurangnya pasokan air,” lapor pemerintah.
Selain itu, para pekerja juga menerapkan berbagai langkah teknis untuk meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kondisi kering. Upaya tersebut diharapkan mampu menjaga stabilitas pertumbuhan tanaman di tengah tekanan cuaca ekstrem.
Menurut Elizabeth Salmon, pelapor khusus PBB untuk hak asasi manusia di Korea Utara, masalah kekurangan pangan memang sudah menjadi perhatian utama bahkan sebelum kekeringan ini terjadi.
“Kekurangan pangan sudah menjadi perhatian utama di negara tersebut,” kata Elizabeth Salmon dalam pernyataannya pada Februari lalu.
Kondisi ini semakin diperparah oleh perubahan iklim global yang menyebabkan cuaca ekstrem menjadi lebih sering terjadi. Para ahli menyebut fenomena seperti El Nino berpotensi kembali dan membawa dampak berupa panas berkepanjangan, kekeringan, hingga hujan lebat di berbagai wilayah Asia.
Sebagai perbandingan, Korea Selatan juga mengalami kekeringan berkepanjangan pada tahun sebelumnya. Kota pesisir Gangneung bahkan sempat memberlakukan pembatasan penggunaan air, termasuk mematikan sebagian besar meteran air rumah tangga.
Selain itu, Korea Selatan mencatat musim panas terpanas dalam sejarah, sementara Korea Utara juga mengalami bulan Juni dengan suhu tertinggi yang pernah tercatat.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa dampak perubahan iklim semakin nyata di kawasan Asia Timur, dengan risiko yang lebih besar bagi negara dengan keterbatasan sumber daya seperti Korea Utara.
Referensi:
Detik
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Internasional Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia internasional — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Laptop yang sudah lama digunakan sering kali mengalami penurunan performa. Aktivitas sederhana seperti membuka banyak tab browser, menjalankan aplikasi, atau...
Perusahaan teknologi global Microsoft terus meningkatkan investasi di bidang cloud dan kecerdasan buatan atau AI. Namun, pertumbuhan bisnis cloud perusahaan...