Dampak Timbal pada Anak Disorot, Ganggu IQ dan Perkembangan Otak
Paparan logam berat timbal masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan anak di Indonesia. Studi terbaru menunjukkan bahwa sebagian anak usia...
Read more
Perubahan cara berjalan sering kali dianggap sebagai masalah ringan akibat kelelahan atau kurang olahraga. Namun, kondisi ini ternyata dapat menjadi sinyal awal gangguan otak serius, termasuk demensia onset dini yang kini semakin banyak ditemukan pada usia muda.
Demensia dikenal sebagai gangguan kognitif progresif yang memengaruhi daya ingat, kemampuan berpikir, perilaku, dan aktivitas sehari-hari. Selama ini, demensia kerap dikaitkan dengan usia lanjut. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, para peneliti menemukan bahwa gejala demensia juga bisa muncul pada usia produktif, bahkan sejak awal 30-an.
Fenomena pergeseran usia ini mendorong banyak ahli untuk meneliti lebih dalam faktor pemicu demensia dini, mulai dari faktor genetik, gaya hidup, hingga gangguan neurologis tertentu. Salah satu gejala yang cukup menonjol dan sering tidak disadari adalah perubahan pada cara berjalan atau gait.
Menurut Dementia UK, organisasi yang fokus pada edukasi dan pendampingan penderita demensia, gangguan gerak dapat menjadi tanda awal demensia yang berbeda dari demensia pada lansia. Gejala ini berkaitan erat dengan fungsi otak yang mengatur koordinasi, keseimbangan, dan kesadaran spasial.
Berdasarkan panduan dari Dementia UK, terdapat lima perubahan utama pada gerakan tubuh yang dapat menjadi indikasi awal demensia onset dini. Gejala-gejala ini kerap muncul secara perlahan dan sering diabaikan karena dianggap tidak berbahaya.
Perubahan pertama adalah gaya berjalan yang tidak normal, seperti langkah menyeret, kecepatan berjalan yang melambat, atau langkah menjadi lebih pendek dari biasanya. Kondisi ini terjadi akibat gangguan pada area otak yang mengatur perencanaan dan eksekusi gerakan.
Kedua, gangguan keseimbangan yang ditandai dengan sering tersandung atau terjatuh tanpa sebab yang jelas. Penderita mungkin merasa tubuhnya kurang stabil saat berjalan di permukaan datar sekalipun.
Ketiga, gerakan yang tampak ceroboh, misalnya sering menabrak benda di sekitar, salah memperkirakan jarak, atau kesulitan bermanuver di ruang sempit. Hal ini berkaitan dengan penurunan kemampuan otak dalam memproses informasi visual dan spasial.
Keempat, muncul gerakan tidak terkendali, seperti tangan gemetar, kaku pada pergerakan mata, atau refleks tubuh yang melambat. Gejala ini sering disalahartikan sebagai efek stres atau kelelahan.
Kelima, penurunan ketangkasan dan mobilitas, di mana penderita mulai kesulitan melakukan aktivitas sederhana seperti mengancingkan baju, menulis, atau mengambil benda kecil.
Menurut Dementia UK, gejala-gejala tersebut sering berkaitan dengan demensia Lewy body dan penyakit Parkinson, dua kondisi neurologis yang memiliki keterkaitan erat dengan gangguan gerak dan fungsi otak.
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Perubahan cara berjalan sering kali dianggap sebagai masalah ringan akibat kelelahan atau kurang olahraga. Namun, kondisi ini ternyata dapat menjadi...
Paparan logam berat timbal masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan anak di Indonesia. Studi terbaru menunjukkan bahwa sebagian anak usia...