Waka MPR Eddy Soeparno Imbau Publik Tenang Soal BBM di Tengah Konflik Timur Tengah
Situasi geopolitik di Timur Tengah yang kembali memanas memicu kekhawatiran sebagian masyarakat mengenai pasokan bahan bakar minyak atau BBM di...
Read more
Kebijakan pendidikan di era Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Anwar Makarim menjadi sorotan dalam sidang dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook. Dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, kebijakan tersebut dianalogikan sebagai segelas kopi hitam yang telah diramu oleh orang-orang terdekat sang menteri sebelum diterapkan ke jajaran internal.
Perkara ini berkaitan dengan pengadaan laptop Chromebook dan Chrome Device Management yang diduga menimbulkan kerugian negara sebesar Rp 2,1 triliun. Nadiem Makarim didakwa terlibat dalam proses tersebut saat masih menjabat sebagai Mendikbudristek. Setelah mengajukan eksepsi, majelis hakim menolak permohonan tersebut dan memutuskan perkara dilanjutkan ke tahap pembuktian.
Kesaksian menarik muncul saat jaksa menghadirkan mantan Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah, Jumeri. Berdasarkan keterangan yang dibacakan jaksa dari berita acara pemeriksaan, Jumeri menyebut kebijakan digitalisasi pendidikan, termasuk persiapan Asesmen Kompetensi Minimum, telah disusun bersama lingkar terdekat Nadiem.
“Dapat saya jelaskan bahwa semua kebijakan digitalisasi pendidikan dibuat oleh Nadiem Anwar Makarim dengan orang dekatnya seperti Jurist Tan, Fiona, dan Ibrahim Arief alias Ibam. Kalau saya ibaratkan seperti segelas kopi hitam yang sudah dibuat dan diramu mereka,” kata jaksa saat membacakan pernyataan tersebut di persidangan.
Menurut Jumeri, perumpamaan kopi hitam itu menggambarkan posisi pejabat struktural eselon I dan II yang lebih banyak menerima keputusan akhir. Ia menjelaskan bahwa kebijakan datang dalam kondisi siap dijalankan tanpa banyak ruang untuk memberikan masukan substansial.
“Jadi kami eselon I dan II lebih banyak menerima kebijakan dari menteri dan staf khusus,” kata Jumeri, mantan Dirjen di lingkungan Kemendikbudristek.
Jaksa kemudian mendalami apakah orang-orang terdekat menteri tersebut lebih dipercaya dibanding pejabat struktural. Menanggapi pertanyaan itu, Jumeri mengakui adanya kesan demikian dalam praktik sehari-hari di kementerian.
“Yang dirasakan seperti itu,” ujarnya saat ditanya mengenai tingkat kepercayaan terhadap dirjen dan pejabat eselon dibanding staf khusus.
Kesaksian ini menjadi bagian penting dalam pembuktian perkara pengadaan Chromebook yang kini memasuki fase pemeriksaan saksi. Jaksa menilai keterangan tersebut relevan untuk menggambarkan pola pengambilan kebijakan dalam proyek digitalisasi pendidikan yang kini berujung pada proses hukum.
Referensi: Detik
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Nasional Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia nasional — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Dunia hiburan Indonesia berduka. Penyanyi Vidi Aldiano meninggal dunia setelah menjalani perjuangan panjang melawan kanker selama enam tahun. Kabar wafatnya...
Kebersihan perangkat rumah tangga sering kali kurang diperhatikan, termasuk mesin cuci. Banyak orang menganggap alat ini tidak perlu dibersihkan karena...