Rupiah Melemah ke Rp17.614 per Dolar AS, Sentimen Global Jadi Tekanan Utama

Rupiah melemah ke Rp17.614 per dolar AS pada perdagangan Jumat pagi akibat penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi AS. Foto: Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Rupiah melemah ke Rp17

Nilai tukar rupiah kembali berada di zona merah pada pembukaan perdagangan Jumat (15/5/2026). Mata uang Garuda tercatat berada di level Rp17.614 per dolar AS atau melemah 84 poin dibanding perdagangan sebelumnya.

Pelemahan ini terjadi di tengah penguatan dolar AS yang masih mendominasi pasar global. Berdasarkan data perdagangan pagi, rupiah terkoreksi sekitar 0,48 persen seiring tekanan eksternal yang memengaruhi mayoritas mata uang dunia.

Tidak hanya rupiah, sejumlah mata uang Asia juga mengalami pelemahan. Won Korea Selatan turun 0,50 persen, baht Thailand melemah 0,28 persen, ringgit Malaysia terkoreksi 0,39 persen, serta peso Filipina turun 0,13 persen.

Selain itu, yuan China tercatat melemah 0,14 persen, yen Jepang turun 0,11 persen, dolar Singapura melemah 0,15 persen, dolar Hong Kong turun tipis 0,01 persen, dan rupee India melemah 0,06 persen.

Tekanan serupa juga terjadi pada mata uang negara maju. Poundsterling Inggris turun 0,28 persen, dolar Australia melemah 0,47 persen, euro Eropa terkoreksi 0,19 persen, franc Swiss melemah 0,23 persen, dan dolar Kanada turun 0,16 persen.

Penguatan Dolar AS Jadi Faktor Utama

Analis pasar uang Lukman Leong menjelaskan pelemahan rupiah dipengaruhi oleh penguatan indeks dolar AS di pasar global. Menurut Lukman Leong, pelaku pasar saat ini menaruh perhatian besar pada pertemuan Presiden China Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Meski pertemuan tersebut memunculkan optimisme di pasar keuangan, investor masih menunggu hasil resmi pembicaraan kedua pemimpin negara tersebut.

“Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi AS ke level tertinggi dalam setahun turut menekan rupiah. Kondisi itu dipicu data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan pasar sehingga meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed,” kata Lukman Leong.

Kenaikan imbal hasil obligasi AS atau US Treasury membuat investor global cenderung memindahkan aset mereka ke instrumen berbasis dolar AS yang dianggap lebih aman dan memberikan keuntungan lebih tinggi. Situasi ini ikut memperkuat posisi dolar terhadap berbagai mata uang dunia, termasuk rupiah.

Berdasarkan sentimen tersebut, Lukman memproyeksikan rupiah bergerak di kisaran Rp17.500 hingga Rp17.650 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini.

Pelaku pasar juga diperkirakan masih akan memantau arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat atau The Fed dalam beberapa waktu ke depan. Jika tekanan inflasi AS terus meningkat, peluang kenaikan suku bunga acuan diperkirakan semakin besar dan berpotensi memberi tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang.

Kondisi ini membuat pasar keuangan global bergerak lebih hati-hati, termasuk di Indonesia. Investor domestik kini menanti langkah lanjutan pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal yang masih tinggi.

Referensi:
CNN Indonesia

📚 ️Baca Juga Seputar Nasional

Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Nasional Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia nasional — semua ada di sana!

✍️ Ditulis oleh: Fadjri Adhi Putra & Fahmi Fahrulrozi
📌 Editor: Redaksi Tren Media

Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.

📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral

Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!

BERITATERKAIT

BERITATERBARU

INSTAGRAMFEED