Nasib Guru PPPK Parepare Belum Digaji Berbulan-bulan, Ini Penjelasannya
Sebanyak 139 guru honorer berstatus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu di Kota Parepare, Sulawesi Selatan, menghadapi persoalan...
Read more
Dunia pendidikan di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, digemparkan oleh kabar meninggalnya Angga Bagus Perwira (12), siswa kelas VII G SMP Negeri 1 Geyer, pada Sabtu (11/10/2025). Korban diduga meninggal dunia akibat tindakan bullying atau penganiayaan yang dilakukan oleh teman-teman sekelasnya.
Menurut laporan Kompas, pihak sekolah mengaku terpukul dan berduka atas insiden tersebut. Kepala Sekolah SMPN 1 Geyer, Sukatno, menyampaikan rasa syok dan keprihatinannya saat ditemui wartawan pada Senin (13/10/2025).
Dalam penjelasannya, Sukatno mengatakan bahwa peristiwa yang merenggut nyawa Angga terjadi sekitar pukul 11.10 WIB, tepat pada jam istirahat kedua. Saat itu, suasana sekolah tengah ramai dan sebagian guru sedang beristirahat di ruang guru.
“Saya syok dan prihatin. Kenapa hal itu bisa terjadi. Itu pas jam istirahat kedua. Kami akan terus melakukan evaluasi meski sosialisasi soal bahaya bullying dan sebagainya sudah sering kita upayakan,” kata Sukatno.
Berdasarkan keterangan saksi, kejadian bermula di teras ruang kelas VII G, yang terletak di lantai dua gedung sekolah. Lokasi tersebut disebut cukup jauh dari ruang guru, sehingga tidak terpantau langsung oleh pengajar.
Sukatno menjelaskan, insiden dugaan perundungan itu berlangsung sangat cepat. Guru yang sedang berjaga tidak menyadari adanya keributan di area kelas.
“Kejadian pukul 11.10 saat istirahat kedua. Jadi waktu itu kami tidak tahu. Tiba-tiba ada siswa yang lapor dan kami langsung ke UKS membawa Angga ke Puskesmas. Namun Puskesmas menyatakan Angga sudah meninggal,” ungkap Sukatno dengan suara berat.
Pihak sekolah segera mengevakuasi korban ke Puskesmas Geyer, namun petugas medis menyatakan Angga sudah tidak bernyawa. Peristiwa ini mengejutkan seluruh civitas sekolah karena kelas VII G dikenal sebagai kelas unggulan yang berisi siswa-siswa berprestasi dan memiliki perilaku baik.
Dalam pernyataannya, Sukatno menyebut bahwa kelas tempat korban belajar termasuk kelas paling disiplin di antara kelas lainnya. Hal ini membuat pihak sekolah sulit mempercayai jika kekerasan bisa terjadi di sana.
“Kelas VII G kelas paling baik dibanding kelas VII lainnya. Kami memohon maaf sebesar-besarnya dan berduka cita atas meninggalnya siswa kami, Angga Bagus Perwira,” ujarnya.
Sukatno menambahkan bahwa selama ini pihak sekolah aktif memberikan edukasi tentang bahaya bullying dan kekerasan di lingkungan pendidikan. Sosialisasi tersebut dilakukan melalui kegiatan upacara, bimbingan konseling, dan kerja sama dengan aparat kepolisian.
Usai kejadian, pihak sekolah langsung melaporkan peristiwa tersebut ke Polres Grobogan. Menurut Sukatno, langkah ini diambil untuk memastikan proses hukum berjalan transparan dan adil bagi semua pihak.
“Setelah kejadian, kami langsung melapor ke Polres Grobogan. Kami juga sudah dimintai keterangan oleh Unit PPA Satreskrim. Kami sangat prihatin dan kami harap segera terungkap. Kami percayakan kepada polisi,” jelasnya.
Polisi pun segera melakukan penyelidikan mendalam. Hingga saat ini, belasan saksi telah diperiksa, termasuk teman-teman sekelas korban, guru, dan kepala sekolah.
Jenazah Angga dibawa ke RSUD Dr R Soedjati Soemodiardjo, Purwodadi, untuk dilakukan autopsi atas permintaan keluarga. Hasil autopsi awal menunjukkan adanya penggumpalan darah di kepala, yang mengindikasikan adanya kekerasan fisik.
Menurut laporan Kompas, dugaan kuat sementara adalah penganiayaan atau pemukulan yang menyebabkan cedera fatal di kepala korban. Polisi kini menelusuri kronologi peristiwa tersebut berdasarkan keterangan saksi dan bukti forensik.
Kapolres Grobogan AKBP Dedy Anung Kurniawan membenarkan bahwa penyelidikan kasus ini dilakukan secara serius. Polisi telah membentuk tim khusus dari Unit PPA (Perlindungan Perempuan dan Anak) untuk mengusut kasus kematian siswa tersebut.
“Kami masih memeriksa saksi-saksi dan menunggu hasil lengkap autopsi. Kami akan pastikan penyelidikan berjalan profesional,” ujar Dedy.
Pihak kepolisian juga tengah mengumpulkan barang bukti dari lokasi kejadian, termasuk rekaman CCTV dan keterangan siswa lain yang berada di sekitar lokasi saat kejadian.
Keluarga korban yang tinggal di Desa Ledokdawan, Kecamatan Geyer, meminta agar kasus ini diusut tuntas dan pelaku segera diproses hukum. Mereka menilai kejadian ini tidak bisa dianggap sebagai insiden biasa, mengingat adanya tanda-tanda kekerasan fisik.
Sejumlah tokoh masyarakat dan lembaga perlindungan anak di Jawa Tengah juga turut memberikan perhatian terhadap kasus ini. Mereka mendesak agar pihak sekolah memperketat pengawasan terhadap siswa saat jam istirahat, terutama di area yang jauh dari pantauan guru.
Peristiwa tragis ini kembali menjadi alarm bagi dunia pendidikan Indonesia, khususnya dalam upaya pencegahan bullying di lingkungan sekolah.
Menurut data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), sepanjang tahun 2024 terdapat lebih dari 2.200 laporan kasus kekerasan anak di lingkungan pendidikan, baik dalam bentuk fisik, verbal, maupun digital.
Kasus Grobogan menambah panjang daftar tersebut dan menunjukkan bahwa pengawasan di sekolah masih memiliki celah, terutama pada waktu istirahat atau di area-area yang tidak terpantau guru.
“Sekolah seharusnya menjadi tempat aman bagi anak-anak untuk belajar dan tumbuh. Jika pengawasan longgar, potensi kekerasan bisa muncul kapan saja,” ujar salah satu pemerhati pendidikan di Jawa Tengah.
Pasca kejadian ini, sejumlah pihak mendorong Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) untuk turun langsung meninjau kasus tersebut.
Langkah investigasi internal dianggap perlu agar sistem pengawasan sekolah dapat dievaluasi menyeluruh.
Selain itu, banyak pihak berharap program pendidikan karakter dan anti-bullying yang selama ini berjalan bisa diperkuat dengan kebijakan nyata, bukan sekadar sosialisasi.
Para pakar pendidikan sepakat bahwa pencegahan kasus seperti ini tidak bisa hanya diserahkan kepada pihak sekolah.
Keterlibatan orang tua, guru, dan lingkungan sosial sangat penting dalam membangun komunikasi yang terbuka dan empati di antara siswa.
Menurut KPAI, anak-anak pelaku bullying sering kali memiliki latar belakang keluarga dengan kurangnya pengawasan atau komunikasi emosional. Oleh karena itu, sinergi keluarga dan sekolah harus diperkuat agar kejadian serupa tidak terulang.
Pasca tragedi tersebut, SMP Negeri 1 Geyer kini tengah menyiapkan pendampingan psikologis bagi seluruh siswa.
Guru Bimbingan Konseling (BK) juga diminta untuk melakukan sesi konseling khusus agar para siswa dapat memahami bahaya dan konsekuensi dari tindakan kekerasan.
“Kami akan memperkuat kegiatan bimbingan konseling agar kejadian serupa tidak terulang. Semua siswa perlu dibimbing agar belajar menghargai sesama,” kata Sukatno.
Referensi:
Kompas
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Nasional Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia nasional — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Sebuah kisah menyentuh sekaligus mengejutkan viral di media sosial. Seorang pria harus menerima kenyataan pahit setelah memergoki kekasihnya bersama pria...
Kecelakaan lalu lintas terjadi di kawasan Setiabudi, Bandung, saat sebuah mobil box melaju kencang dan kehilangan kendali di tikungan. Insiden...