Kesaksian WNI Saat Gempa Besar di Jepang Guncangan Terasa Lama dan Kuat

Gempa kuat di Jepang picu peringatan tsunami. WNI ungkap guncangan lama dan situasi mencekam saat kejadian. (Foto: REUTERS/Issei Kato)

Gempa kuat di Jepang picu peringatan tsunami

Gempa kuat mengguncang wilayah timur laut Jepang dan memicu peringatan tsunami di sejumlah wilayah pesisir. Otoritas setempat sempat mengeluarkan perintah evakuasi bagi ratusan ribu warga sebelum akhirnya status peringatan diturunkan menjadi imbauan.

Berdasarkan data dari Badan Meteorologi Jepang, gempa tersebut awalnya berkekuatan 7,5 magnitudo, namun kemudian direvisi menjadi 7,7 magnitudo dengan kedalaman sekitar 19 kilometer.

Sekitar 156.000 warga di lima prefektur diminta meninggalkan rumah mereka sebagai langkah antisipasi terhadap potensi tsunami. Meski status peringatan telah diturunkan, masyarakat tetap diminta menjauhi kawasan pesisir karena gelombang kecil sekalipun berisiko.

Gelombang pertama setinggi sekitar 40 cm tercatat di Pelabuhan Miyako, Prefektur Iwate. Otoritas juga memperingatkan kemungkinan gelombang susulan yang lebih besar bisa terjadi, terutama di wilayah Hokkaido dan Iwate.

Kesaksian WNI dan Dampak Gempa

Seorang warga negara Indonesia, Sofya Suidasari, menceritakan pengalamannya saat gempa terjadi di distrik Minato, Tokyo. Ia mengatakan guncangan terasa cukup kuat dan berlangsung lama.

“Mungkin karena kantorku di lantai sembilan, jadi guncangannya terasa banget. Lampu gantung sampai bergerak,” kata Sofya.

Ia juga mengungkapkan bahwa getaran berlangsung lebih dari satu menit hingga membuatnya merasa pusing. “Guncangannya juga lama, sampai hampir dua menit. Aku sampai puyeng,” ujarnya.

Menurut Sofya, beberapa rekannya langsung bersiap menggunakan helm pelindung yang memang disediakan di kantor sebagai bagian dari standar kesiapsiagaan bencana di Jepang.

Setelah gempa mereda, ia bersama rekan-rekannya segera keluar gedung. Situasi di luar terlihat ramai karena banyak orang berusaha pulang menggunakan transportasi umum.

Sofya juga menjelaskan bahwa sistem mitigasi bencana di Jepang sangat ketat, termasuk prosedur penjemputan anak saat terjadi bencana. Orang tua harus menentukan siapa yang berhak menjemput anak dalam kondisi darurat.

Selain itu, sistem peringatan dini gempa juga telah terintegrasi dengan ponsel warga. Alarm akan berbunyi beberapa detik sebelum gelombang gempa tiba, memberikan waktu bagi masyarakat untuk bersiap.

Sementara itu, warga asing lainnya, David Park, turut merasakan gempa saat berada di Hakodate. Ia menggambarkan pengalaman tersebut sebagai sesuatu yang tidak biasa.

“Rasanya aneh melihat lantai dan dinding bergerak,” ujarnya.

Menurut David, guncangan berlangsung sekitar 20 hingga 30 detik. Meski tidak terjadi kepanikan besar, suasana tetap dipenuhi kewaspadaan.

Dampak gempa juga dirasakan pada sektor transportasi. Sejumlah layanan kereta cepat seperti Tohoku Shinkansen, Yamagata Shinkansen, dan Akita Shinkansen sempat dihentikan sementara.

Meski demikian, hingga saat ini belum ada laporan resmi terkait korban jiwa maupun kerusakan besar. Pemerintah Jepang memastikan kondisi pembangkit listrik tenaga nuklir di wilayah terdampak tetap aman.

Otoritas terus mengimbau masyarakat untuk mengikuti arahan evakuasi dan tetap waspada terhadap potensi gempa susulan maupun gelombang tsunami berikutnya.

Referensi:
Detik

📚 ️Baca Juga Seputar Internasional

Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉

Kumpulan Artikel dan Berita Internasional Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia internasional — semua ada di sana!

✍️ Ditulis oleh: Fadjri Adhi Putra & Fahmi Fahrulrozi
📌 Editor: Redaksi Tren Media

Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.

📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral

Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!

BERITATERKAIT

BERITATERBARU

INSTAGRAMFEED