Hari Ketika Langit Kehilangan Penjaganya, Awal Perjalanan Sang Abadi Menjadi Manusia

Hari Ketika Langit Kehilangan Penjaganya

Ada banyak hal yang tidak pernah berubah di langit.

Bintang tetap berputar pada jalurnya. Angin mengembara dari satu cakrawala ke cakrawala lain. Waktu mengalir tanpa pernah meminta izin kepada siapa pun. Selama ribuan tahun, semuanya berlangsung seperti yang seharusnya.

Dan selama ribuan tahun itu pula, ada seseorang yang menjaga keseimbangannya.

Tidak ada manusia yang mengetahui keberadaannya. Tidak ada kerajaan yang pernah menuliskan namanya dalam sejarah. Bahkan legenda-legenda kuno hanya mampu menggambarkannya sebagai sosok yang berdiri jauh di atas awan, mengawasi dunia tanpa pernah ikut campur.

Dari tempatnya berada, ia telah menyaksikan banyak hal.

Ia melihat peradaban lahir dari tanah kosong. Ia menyaksikan lautan menelan kota-kota besar. Ia melihat manusia membangun mimpi, kehilangan harapan, lalu kembali bangkit meskipun berkali-kali jatuh.

Awalnya semua itu hanyalah bagian dari tugas.

Namun semakin lama ia mengamati, semakin sering muncul pertanyaan yang tidak pernah bisa dijawab oleh para dewa.

Mengapa manusia tetap mampu tersenyum meskipun hidup mereka begitu singkat?

Pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun selama berabad-abad, tidak ada jawaban yang mampu memuaskannya.

Suatu malam, ketika langit berada dalam keheningan yang tidak biasa, ia kembali memandangi bumi.

Di bawah sana, jutaan manusia menjalani kehidupan mereka masing-masing. Ada yang sedang tertawa bersama keluarga. Ada yang bekerja hingga larut malam. Ada yang menangis karena kehilangan seseorang yang dicintai.

Mereka semua berbeda.

Tetapi ada satu hal yang sama.

Mereka terus menjalani hidup.

Bahkan ketika tahu bahwa suatu hari semuanya akan berakhir.

Untuk pertama kalinya, ia merasa iri kepada manusia.

Perasaan itu membuatnya terdiam cukup lama.

Kemudian ia mengambil keputusan yang akan mengubah segalanya.

Jika jawaban itu tidak bisa ditemukan dari langit, maka ia harus mencarinya di bumi.

Cahaya mulai muncul di sekeliling tubuhnya. Energi yang selama ribuan tahun menjadi bagian dari dirinya perlahan terlepas seperti ribuan serpihan bintang yang terbawa arus angin.

Langit berguncang.

Awan bergerak tidak beraturan.

Bintang-bintang berpendar lebih terang daripada biasanya.

Di berbagai tempat di bumi, beberapa orang tiba-tiba terbangun dari tidur tanpa mengetahui alasan yang jelas. Seekor burung hantu kehilangan arah terbang. Permukaan danau bergetar meskipun tidak ada angin yang menyentuhnya.

Baca Juga:  Balada Bernabéu: Pemanah Terakhir di Ujung Peradaban yang Terbakar

Alam semesta merasakan sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Sang penjaga langit meninggalkan tempatnya.

Sesaat kemudian, cahaya itu menghilang.

Dan langit menjadi kosong.

 


Ketika ia kembali membuka mata, hal pertama yang dilihatnya bukanlah awan atau bintang.

Melainkan deretan kabel listrik yang saling bersilangan di atas jalan sempit.

Suara kendaraan terdengar dari kejauhan. Aroma gorengan hangat bercampur dengan sisa bau hujan yang masih menempel di aspal.

Ia mencoba duduk.

Tubuhnya terasa berat.

Sangat berat.

Untuk pertama kalinya dalam keberadaannya, ia merasakan sesuatu yang asing.

Lelah.

Perasaan itu membuatnya bingung.

Dulu ia mampu menggerakkan badai hanya dengan satu pikiran. Kini bahkan untuk berdiri saja diperlukan usaha yang tidak sedikit.

Ia menunduk melihat kedua tangannya.

Tidak ada cahaya.

Tidak ada energi.

Tidak ada kekuatan.

Yang tersisa hanyalah tubuh manusia biasa.

Beberapa orang melewati gang tersebut tanpa memberikan perhatian berarti. Seorang pengendara motor melintas sambil membawa barang dagangan. Seorang ibu berjalan tergesa-gesa mengantar anaknya ke sekolah.

Tak seorang pun mengenalinya.

Tak seorang pun tahu siapa dirinya.

Perasaan itu terasa aneh.

Selama ribuan tahun, keberadaannya selalu diketahui oleh seluruh penghuni langit. Kini ia berada di tengah keramaian, tetapi tidak dianggap istimewa sama sekali.

Seorang penjual gorengan yang sedang menata dagangan akhirnya menghampirinya.

“Mbak, tidak apa-apa?”

Ia mengangkat kepala perlahan.

Pria itu tampak khawatir.

“Anda sakit?”

Perempuan itu mencoba menjawab, tetapi tidak tahu harus mengatakan apa.

“Rumahnya di mana?”

Ia kembali terdiam.

Pertanyaan itu terdengar sederhana.

Namun ia tidak memiliki jawaban.

Ia tidak punya rumah di bumi.

Ia tidak punya keluarga.

Bahkan ia tidak tahu harus memperkenalkan dirinya sebagai siapa.

Melihat kebingungannya, pria tersebut hanya mengangguk pelan.

“Mungkin masih syok. Duduk dulu saja.”

Perempuan itu memperhatikan wajah pria tersebut.

Tidak ada rasa takut.

Tidak ada rasa hormat berlebihan.

Hanya kepedulian sederhana yang muncul begitu saja.

Perasaan itu terasa hangat dengan cara yang belum pernah ia pahami sebelumnya.


Menjelang siang, ia berjalan tanpa tujuan.

Kota terasa begitu berbeda dibandingkan apa yang selama ini ia lihat dari kejauhan.

Di atas langit, manusia terlihat seperti titik-titik kecil yang bergerak. Namun dari dekat, setiap orang memiliki cerita yang berbeda.

Baca Juga:  Elegi Sayap Besi: Pelarian Terakhir di Ufuk Senja

Seorang pengemudi ojek online tersenyum kepada pelanggan meskipun wajahnya terlihat lelah.

Seorang pedagang tetap menawarkan dagangannya meskipun belum banyak pembeli.

Seorang anak kecil tertawa keras hanya karena melihat gelembung sabun beterbangan.

Hal-hal sederhana itu terus menarik perhatiannya.

Ia mulai memahami bahwa kehidupan manusia tidak dibangun oleh keajaiban besar.

Melainkan oleh ribuan momen kecil yang sering dianggap biasa.

Saat sedang duduk di halte tua di pinggir jalan, seseorang tiba-tiba berdiri di hadapannya.

Seorang anak perempuan.

Usianya sekitar tujuh tahun.

Anak itu menatapnya cukup lama.

Terlalu lama untuk ukuran seorang anak kecil.

“Kakak sedang tersesat?” tanyanya.

Perempuan itu mengangguk pelan.

Anak tersebut tersenyum.

Lalu berkata sesuatu yang membuat jantungnya berdegup lebih cepat.

“Kakak dari langit, ya?”

Waktu seolah berhenti sesaat.

Ia menatap anak itu tanpa berkedip.

Bagaimana mungkin?

Tidak ada manusia yang seharusnya mengetahui asal-usulnya.

Namun sebelum sempat bertanya, anak tersebut sudah berlari menuju seberang jalan.

Beberapa detik kemudian ia menghilang di tengah keramaian.

Perempuan itu segera berdiri.

Pandangannya menyapu seluruh area.

Tetapi anak tadi sudah tidak terlihat lagi.

Seolah tidak pernah ada.

Angin tiba-tiba berembus lebih dingin.

Naluri yang selama ini tertidur mendadak muncul kembali.

Ada sesuatu yang salah.

Sangat salah.

Ia mengangkat kepala.

Di antara awan putih yang bergerak perlahan, terlihat garis tipis membelah langit.

Retakan kecil.

Hampir tidak terlihat oleh manusia biasa.

Namun cukup jelas bagi seseorang yang pernah menjaga keseimbangan dunia.

Retakan itu tidak seharusnya ada.

Dan keberadaannya hanya memiliki satu arti.

Sesuatu di langit mulai berubah.

Sementara jauh di tempat yang tidak dapat dijangkau manusia, sepasang mata perlahan terbuka dari tidur yang telah berlangsung selama ribuan tahun.

Pemilik mata tersebut memandang ke arah bumi.

Lalu tersenyum.

“Jadi akhirnya kau pergi juga.”

(Bersambung…)

PREVIEW EPISODE BERIKUTNYA

Perempuan misterius itu mulai mencoba hidup sebagai manusia biasa. Namun sebelum ia memahami dunia yang baru dimasukinya, sosok yang mengetahui rahasia asal-usulnya muncul lebih dahulu.

📚 ️Baca Juga Seputar Ruang Imajinasi

Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Ruang Imajinasi Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia ruang imajinasi — semua ada di sana!

Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.

📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral

Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!

BERITATERKAIT

BERITATERBARU

INSTAGRAMFEED