Makhluk Pertama dari Balik Retakan, Rahasia Penjaga Taman Mulai Terungkap
Makhluk Pertama dari Balik Retakan Dua mata merah itu tidak berkedip. Mereka hanya menatap. Diam. Penuh rasa lapar. Dalam kegelapan...
Read more
Langit di atas kota berubah warna.
Merah gelap.
Seolah ada luka besar yang menganga di antara awan.
Perempuan itu tidak bergerak.
Tatapannya terpaku pada celah raksasa yang membelah cakrawala malam.
Untuk sesaat, ia merasa kembali ke masa yang sangat jauh. Masa yang bahkan hampir terlupakan.
Masa ketika para penjaga langit masih berdiri di gerbang-gerbang dunia.
Masa ketika perang besar belum terjadi.
Masa ketika sesuatu masih terkunci rapat di balik segel.
Di sampingnya, pria tua pemegang lentera tampak jauh lebih gelisah dibanding sebelumnya.
Itu pertama kalinya perempuan tersebut melihat ketakutan di wajahnya.
“Aku mengenal ekspresi itu,” katanya pelan.
Pria tua itu tidak menjawab.
Tatapannya masih tertuju ke langit.
“Kau pernah melihatnya juga, bukan?”
Hening.
Beberapa detik berlalu sebelum pria tua itu akhirnya berbicara.
“Bukan melihat.”
Ia menarik napas panjang.
“Aku pernah menjaganya.”
Getaran kembali mengguncang bangunan.
Beberapa buku jatuh dari rak.
Debu berhamburan dari langit-langit perpustakaan.
Di luar, suara petir bergema tanpa kilatan cahaya.
Perempuan itu menoleh.
“Apa sebenarnya yang berada di balik celah itu?”
Pria tua tersebut memegang lentera lebih erat.
Cahaya keemasan dari dalam lentera tampak berdenyut pelan.
Seolah merespons sesuatu.
“Kau masih ingat Gerbang Ketujuh?”
Jantung perempuan itu langsung berdegup lebih cepat.
Nama itu sudah sangat lama tidak disebut.
Gerbang Ketujuh.
Gerbang terakhir.
Gerbang yang tidak pernah boleh dibuka.
Tempat paling terlarang yang pernah ada di antara dunia para dewa.
Perempuan itu perlahan mengangkat kepala.
“Mustahil…”
“Itu juga yang kuharapkan.”
Pria tua tersebut tersenyum pahit.
“Sayangnya harapan jarang membantu keadaan.”
Tiba-tiba sesuatu bergerak di dalam retakan.
Lebih jelas dibanding sebelumnya.
Awan merah berputar membentuk pusaran raksasa.
Cahaya gelap memancar dari dalamnya.
Kemudian muncul sebuah tangan.
Bukan tangan manusia.
Bukan tangan makhluk.
Sesuatu yang jauh lebih besar.
Jauh lebih tua.
Hanya sebagian kecil ujung jarinya saja yang terlihat.
Namun ukurannya sudah melebihi gedung-gedung tertinggi di kota.
Perempuan itu membeku.
Untuk pertama kalinya sejak turun ke bumi, rasa takut benar-benar muncul.
Bukan takut karena kematian.
Melainkan takut karena mengenali apa yang sedang terjadi.
Jika makhluk itu berhasil masuk sepenuhnya ke dunia manusia…
Maka retakan tidak akan berhenti membesar.
Terdengar suara langkah.
Pelan.
Ringan.
Namun sangat familiar.
Perempuan itu langsung menoleh.
Di antara lorong rak buku yang gelap, seorang anak perempuan muncul.

Gaun kuning.
Rambut pendek.
Wajah tenang.
Anak misterius yang sebelumnya menghilang tanpa jejak.
Ia berjalan santai seolah tidak ada apa-apa.
Bahkan tidak tampak terkejut melihat makhluk-makhluk Pengembara Celah yang masih berkeliaran di antara rak.
Pria tua itu langsung berubah pucat.
Lebih pucat dibanding saat melihat retakan langit.
“Kau…”
Anak perempuan itu tersenyum.
“Halo, Penjaga Gerbang.”
Suasana mendadak membeku.
Perempuan itu menatap keduanya bergantian.
Jelas mereka saling mengenal.
Namun hal yang paling mengejutkan adalah ekspresi pria tua tersebut.
Untuk pertama kalinya, ia terlihat benar-benar takut.
Anak perempuan itu kemudian mengalihkan pandangan kepada perempuan misterius tersebut.
“Kakak akhirnya mulai ingat?”
Perempuan itu menggeleng.
“Siapa kamu sebenarnya?”
Anak itu tidak langsung menjawab.
Ia hanya memandang ke arah langit.
Ke arah tangan raksasa yang semakin keluar dari retakan.
Kemudian senyumnya perlahan menghilang.
“Aku orang yang gagal menghentikan itu.”
Seluruh perpustakaan bergetar hebat.
Lebih keras dari sebelumnya.
Rak-rak buku mulai roboh.
Jendela-jendela pecah.
Retakan merah di langit semakin melebar.
Dan untuk pertama kalinya…
Sesuatu dari balik celah menatap balik ke arah bumi.

Sebuah mata raksasa perlahan terbuka di dalam pusaran merah.
Mata itu begitu besar hingga menutupi sebagian langit malam.
Dan mata tersebut sedang melihat ke arah perpustakaan.
Tepat ke arah mereka.
(Bersambung…)
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Novel Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia novel — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Resep Rumahan Otentik ala Rumah Makan Padang Siapa yang bisa menolak kelezatan dendeng balado? Hidangan khas Sumatera Barat ini sudah...
Gerbang yang Tidak Pernah Boleh Dibuka Langit di atas kota berubah warna. Merah gelap. Seolah ada luka besar yang menganga...