Emil Audero Kembali Bersinar, Masuk Best XI Serie A untuk Ketiga Kalinya
Kiper Timnas Indonesia, Emil Audero, kembali mencatatkan prestasi membanggakan di kompetisi Serie A musim 2025-2026. Penjaga gawang yang kini membela...
Read more
Perjalanan Timnas Indonesia U-22 di cabang sepakbola putra SEA Games 2025 harus berakhir lebih cepat dari harapan. Datang dengan status juara bertahan, Garuda Muda justru gagal melangkah ke semifinal setelah hanya finis di fase grup. Hasil ini dinilai memprihatinkan mengingat kualitas skuad dan persiapan yang telah dijalani.
Indonesia mengawali kiprah di Grup C dengan hasil negatif. Tim asuhan Indra Sjafri takluk 0-1 dari Filipina akibat gol Otu Banatao. Kekalahan tersebut membuat langkah Indonesia menjadi berat karena harus mengejar selisih gol besar pada laga kedua melawan Myanmar.
Menatap pertandingan di 700th Anniversary Stadium pada Jumat malam waktu Indonesia, peluang Indonesia sejatinya masih terbuka. Rekor pertemuan berpihak pada Merah Putih yang selalu menang dalam empat laga terakhir kontra Myanmar. Namun situasi klasemen peringkat kedua terbaik menuntut Indonesia menang dengan margin minimal tiga gol.
Pada laga penentuan itu, Indonesia hanya mampu menang 3-1. Hasil tersebut tidak cukup untuk mengantar Garuda Muda ke semifinal SEA Games 2025, meski skuad Indonesia tercatat sebagai salah satu tim dengan nilai pasar tertinggi di ajang tersebut.
Menurut pengamat sepakbola Indonesia, Mohamad Kusnaeni, kegagalan ini patut menjadi alarm serius bagi federasi. Ia menilai performa tim secara keseluruhan belum mencerminkan potensi sebenarnya.
“Sangat disayangkan memang kita gagal memanfaatkan peluang terakhir untuk lolos ke semifinal. Padahal kita punya kualitas tim yang sebetulnya sangat layak untuk lolos dari fase grup,” kata Mohamad Kusnaeni, pengamat sepakbola Indonesia.
Kusnaeni juga menyoroti pendekatan taktik yang diterapkan sepanjang turnamen. Ia menilai permainan Indonesia terlalu monoton, terutama pada babak pertama laga melawan Myanmar.
“Secara permainan, saya agak kecewa melihat miskinnya variasi serangan kita. Terlalu banyak mengandalkan bola-bola panjang dan lemparan jauh. Padahal keunggulan postur pemain seharusnya bisa dimaksimalkan dengan suplai bola yang lebih beragam ke kotak penalti,” ujarnya.
Ia menambahkan, skema serangan dari sisi sayap yang semestinya menjadi kekuatan utama tidak berjalan optimal. Akibatnya, para penyerang kesulitan menciptakan peluang karena minimnya pasokan bola. Perubahan strategi baru terlihat di babak kedua ketika pelatih memasukkan lebih banyak penyerang, namun gol tambahan datang saat lawan sudah kelelahan.
Kegagalan mempertahankan gelar SEA Games ini dinilai cukup memukul. Dengan komposisi pemain yang berkualitas dan persiapan yang relatif matang, hasil berhenti di fase grup memunculkan tuntutan evaluasi menyeluruh terhadap pembinaan dan strategi Timnas U-22 ke depan.
Referensi: detikSport
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Bola Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia bola — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Kabel charger sering kali menjadi perangkat yang kurang mendapat perhatian dalam penggunaan sehari-hari. Padahal, fungsinya sangat penting untuk menjaga daya...
Banyak pengguna mengira bahwa saat HP Android mulai lemot, satu-satunya solusi adalah mengganti perangkat baru. Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya...