Gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara di Eropa terus menimbulkan dampak serius. Suhu udara yang menembus lebih dari 35 derajat Celsius tidak hanya meningkatkan angka kematian, tetapi juga mengganggu sektor energi, transportasi, hingga aktivitas ekonomi di berbagai wilayah.
Berdasarkan informasi dari sumber utama, Prancis dan Spanyol menjadi dua negara yang mencatat dampak paling besar akibat cuaca panas berkepanjangan. Sementara itu, jutaan warga di berbagai negara Eropa masih diperkirakan menghadapi suhu tinggi dalam beberapa hari ke depan.
Korban Jiwa Bertambah, Energi dan Ekonomi Ikut Terdampak
Menurut Badan Kesehatan Masyarakat Prancis, sejak 24 Juni 2026 tercatat lebih dari 1.000 kematian tambahan dibandingkan periode normal sebelumnya. Sebagian besar korban merupakan kelompok lanjut usia yang berusia di atas 65 tahun.
“Sejak 24 Juni, sekitar 1.000 kematian tambahan telah diamati dibandingkan dengan kematian yang tercatat pada bulan-bulan sebelumnya,” demikian keterangan Badan Kesehatan Masyarakat Prancis.
Otoritas kesehatan juga menyebut sekitar 85 persen korban meninggal berusia lanjut dan banyak ditemukan meninggal di rumah, terutama di kawasan Ile-de-France yang mencakup Paris. Pemerintah mengingatkan pentingnya perhatian terhadap kelompok rentan, termasuk warga lanjut usia yang hidup sendiri.
Di Spanyol, berdasarkan data dari sistem pemantauan kematian MoMo, gelombang panas diperkirakan menyebabkan sedikitnya 212 kematian tambahan hanya dalam periode 21 hingga 24 Juni 2026. Perhitungan tersebut menggunakan metode excess mortality, yaitu membandingkan jumlah kematian aktual dengan rata-rata pada periode sebelumnya.
Sepanjang musim panas 2025, Spanyol bahkan mencatat 3.832 kematian yang berkaitan dengan cuaca panas, meningkat sekitar 87,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Gelombang panas kali ini juga menjangkau sebagian besar kawasan Eropa. Berdasarkan analisis prakiraan cuaca dari Layanan Meteorologi Jerman, sekitar 191 juta penduduk diperkirakan mengalami suhu minimal 35 derajat Celsius, sedangkan sekitar 381 juta orang menghadapi suhu di atas 30 derajat Celsius.
Negara-negara yang terdampak antara lain Jerman, Republik Ceko, Hungaria, Polandia, Italia, Austria, Prancis, hingga Belanda. Kawasan perkotaan diperkirakan mengalami suhu yang lebih tinggi akibat fenomena pulau panas perkotaan atau urban heat island.
Selain mengancam kesehatan masyarakat, suhu ekstrem juga mengganggu pasokan energi. Menurut perusahaan energi Swiss, Axpo, dua reaktor di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Beznau dihentikan sementara karena suhu Sungai Aare yang digunakan sebagai sistem pendingin terus meningkat.
“Suhu air pada Sungai Aare kembali mencapai 25 derajat Celsius. Kondisi pendinginan yang memadai belum terlihat akan tercapai,” kata pihak Axpo.
Di Prancis, perusahaan listrik EDF juga menghentikan operasional beberapa reaktor nuklir untuk menghindari pembuangan air pendingin bersuhu tinggi ke sungai yang berpotensi merusak ekosistem.
Belanda bahkan mengeluarkan peringatan merah untuk pertama kalinya karena suhu diperkirakan mendekati 40 derajat Celsius di beberapa wilayah. Pemerintah meminta masyarakat membatasi perjalanan yang tidak mendesak serta mengikuti arahan dari otoritas setempat.
Gelombang panas juga mulai memberikan tekanan terhadap perekonomian Jerman. Berdasarkan studi Allianz yang dikutip Deutsche Welle, suhu tinggi menurunkan produktivitas tenaga kerja sekaligus meningkatkan kebutuhan energi.
Studi tersebut memperkirakan kerugian ekonomi Jerman sepanjang periode 2026 hingga 2030 dapat mencapai sekitar 131 miliar dolar AS atau sekitar Rp2,12 kuadriliun, dengan asumsi kurs sekitar Rp16.200 per dolar AS.
“Jerman harus berhenti menganggap panas sebagai masalah musiman, ini adalah tugas permanen kebijakan ekonomi,” kata ekonom Allianz, Katharina Utermohl.
Para ahli menilai gelombang panas yang semakin sering terjadi menjadi tantangan besar bagi negara-negara Eropa. Selain meningkatkan risiko kesehatan masyarakat, kondisi tersebut juga menuntut kesiapan infrastruktur, sistem energi, dan kebijakan adaptasi terhadap perubahan iklim agar dampaknya dapat diminimalkan di masa mendatang.
Referensi:
DetikNews