Printer Tidak Keluar Tinta? Kenali Penyebab dan Solusinya
Bayangkan Anda sedang mengejar deadline. File sudah selesai dibuat. Dokumen sudah diperiksa. Tinggal satu langkah terakhir: tekan Print. Printer menyala....
Read more
Penggunaan kecerdasan buatan atau AI di lingkungan perguruan tinggi terus meningkat. Kehadiran ChatGPT dan berbagai asisten AI memang memberikan kemudahan bagi mahasiswa dalam mencari informasi, menyusun tulisan hingga menyelesaikan berbagai tugas akademik.
Namun, kemudahan tersebut mulai menimbulkan kekhawatiran baru. Ketika AI terlalu sering dijadikan jalan pintas, mahasiswa berisiko kehilangan kesempatan untuk melatih kemampuan berpikir, membaca, menulis dan memecahkan masalah secara mandiri.
Kekhawatiran ini bahkan mulai dikaitkan dengan kesiapan lulusan ketika memasuki dunia kerja. Sejumlah perusahaan disebut mulai mempertanyakan kualitas kemampuan dasar lulusan yang terbiasa menggunakan AI untuk mengerjakan berbagai tugas selama kuliah.
Fenomena tersebut terlihat dari cerita seorang eksekutif perusahaan keuangan di New York yang dikutip dalam laporan media internasional. Menurut eksekutif tersebut, sebagian karyawan baru yang dianggap sebagai generasi AI native datang ke tempat kerja dengan gagasan yang dinilai dangkal.
Perusahaan itu bahkan disebut mulai mempertimbangkan kembali perekrutan lulusan STEM yang sangat mengandalkan AI dan lebih melihat lulusan dari bidang humaniora. Alasannya sederhana, perusahaan tetap membutuhkan kemampuan berpikir kritis, bukan sekadar kemampuan menggunakan teknologi AI.
Di lingkungan kampus, persoalan serupa juga menjadi perhatian. Banyak mahasiswa kini menggunakan AI untuk membantu atau bahkan mengambil alih pengerjaan tugas akademik. Jika pola tersebut berlangsung terus-menerus, mahasiswa dapat kehilangan proses belajar yang sebenarnya menjadi bagian penting dari pendidikan tinggi.
Profesor etika dari Cal State Chico, Troy Jollimore, sebelumnya memperingatkan bahwa ada risiko mahasiswa menyelesaikan pendidikan dengan membawa gelar, tetapi memiliki kemampuan literasi yang sangat lemah.
Masalahnya bukan terletak pada penggunaan AI itu sendiri. AI dapat menjadi alat yang bermanfaat ketika digunakan untuk mencari sudut pandang, mendapatkan penjelasan tambahan, menguji ide atau memperbaiki tulisan. Persoalan muncul ketika mahasiswa menyerahkan proses berpikir kepada mesin.
Penelitian yang diterbitkan di Humanities and Social Sciences Communications pada 2026 juga menunjukkan gambaran yang lebih kompleks. Studi terhadap 698 mahasiswa di China menemukan bahwa persepsi terhadap kemampuan AI dapat berkaitan positif dengan kemampuan berpikir kritis ketika mahasiswa tetap terlibat aktif. Namun, terdapat jalur negatif ketika penggunaan tersebut berkembang menjadi ketergantungan AI, karena ketergantungan berkaitan dengan berkurangnya evaluasi mandiri.
Artinya, AI tidak otomatis membuat seseorang kehilangan kemampuan berpikir. Dampaknya sangat bergantung pada bagaimana teknologi tersebut digunakan.
Mahasiswa yang menggunakan ChatGPT sebagai alat bantu untuk menguji pemikiran masih menjalankan proses kognitifnya. Sebaliknya, mahasiswa yang langsung meminta AI membuat jawaban dan kemudian menyerahkannya tanpa memahami isinya berisiko melewatkan proses belajar.
Perubahan tersebut menjadi semakin penting karena dunia kerja tidak hanya membutuhkan kemampuan menggunakan AI.
Perusahaan tetap membutuhkan pekerja yang mampu membaca informasi dengan cermat, menulis secara jelas, memahami persoalan, menyampaikan argumen, berdiskusi dengan rekan kerja dan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang tersedia.
Kemampuan tersebut tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada chatbot.
Bahkan ketika AI semakin canggih, pengguna tetap harus mampu menilai apakah jawaban yang diberikan masuk akal atau justru mengandung kesalahan. Tanpa kemampuan dasar tersebut, seseorang akan kesulitan membedakan informasi yang benar dan keliru.
Penelitian lain yang terbit pada 2026 menunjukkan bahwa penggunaan ChatGPT dalam pendidikan sebenarnya dapat memberikan manfaat. Meta-analisis terhadap 35 studi dengan total 4.193 peserta menemukan dampak positif terhadap sejumlah hasil belajar mahasiswa. Namun, penelitian tersebut juga menekankan bahwa efektivitas ChatGPT bergantung pada konteks penggunaan, metode pembelajaran dan jenis pengetahuan yang dipelajari.
Dengan kata lain, masalahnya bukan apakah mahasiswa boleh menggunakan ChatGPT atau tidak. Yang lebih penting adalah apakah mahasiswa masih berpikir ketika menggunakan ChatGPT.
Konsep ini berkaitan dengan cognitive offloading, yaitu ketika seseorang memindahkan sebagian pekerjaan berpikir kepada alat eksternal. Kajian mengenai cognitive offloading menunjukkan bahwa strategi tersebut sebenarnya dapat membantu efisiensi dan pemecahan masalah. Namun, manfaatnya dapat berubah menjadi masalah apabila pengguna terlalu bergantung pada alat dan tidak lagi mengembangkan kemampuan internalnya.
Kondisi tersebut membuat pendidikan tinggi menghadapi tantangan baru. Kampus tidak cukup hanya mengajarkan mahasiswa bagaimana menggunakan AI. Mereka juga perlu memastikan mahasiswa tetap mendapatkan latihan yang memaksa mereka membaca, menulis, menyusun argumen, menghitung, berdiskusi dan memecahkan persoalan tanpa selalu bergantung pada mesin.
Perusahaan juga kemungkinan akan semakin melihat kemampuan tersebut ketika merekrut lulusan baru. Di tengah perkembangan AI, kemampuan menggunakan teknologi memang menjadi nilai tambah. Tetapi kemampuan untuk memeriksa hasil AI, mengajukan pertanyaan yang tepat dan mengambil keputusan akhir tetap membutuhkan manusia.
Karena itu, gelar sarjana di era ChatGPT tidak dengan sendirinya menjadi bukti bahwa seseorang siap bekerja. Nilai sebenarnya tetap bergantung pada kemampuan yang dibangun selama proses pendidikan.
Jika AI digunakan sebagai alat untuk memperkuat kemampuan berpikir, teknologi tersebut dapat membantu mahasiswa belajar lebih cepat dan mendalam. Tetapi jika AI digunakan sebagai pengganti proses berpikir, kemudahan yang ditawarkan justru dapat berubah menjadi jalan pintas yang membuat kemampuan dasar tidak pernah benar-benar terlatih.
Referensi:
detikINET
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita IT Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia it — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Jonathan Laramy, pria berusia 32 tahun, mengambil keputusan besar dengan meninggalkan pekerjaannya sebagai customer service untuk menjadi kreator video berbasis...
Penggunaan kecerdasan buatan atau AI di lingkungan perguruan tinggi terus meningkat. Kehadiran ChatGPT dan berbagai asisten AI memang memberikan kemudahan...