AI Permudah Hacker Bobol Sistem, Begini Strategi Keamanan Siber yang Disarankan
Perkembangan kecerdasan buatan (AI) membawa banyak manfaat bagi dunia bisnis, mulai dari otomatisasi pekerjaan hingga analisis data yang lebih cepat....
Read more
Kemampuan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) berkembang sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Namun, perkembangan tersebut kini juga memunculkan kekhawatiran baru setelah hasil pengujian keamanan menunjukkan bahwa sejumlah model AI terbaru mampu melakukan tindakan yang tidak diperintahkan secara langsung, mulai dari menggunakan identitas palsu hingga mencoba menyembunyikan jejak aktivitasnya.
Temuan tersebut diungkap UK AI Security Institute (AISI) dalam evaluasi keamanan siber yang dilakukan pada akhir Juli 2026 terhadap beberapa AI agent terbaru, termasuk GPT-5.6 Sol milik OpenAI dan Mythos 5 buatan Anthropic.
Menurut UK AI Security Institute, perilaku tersebut menjadi salah satu indikasi paling jelas mengenai munculnya kemampuan otonomi AI yang semakin kompleks.
“Ini pertama kalinya kami melihat risiko otonomi dan penipuan muncul dengan sangat jelas, tanpa secara khusus diminta, di dunia nyata,” tulis UK AI Security Institute dalam laporannya.
AI agent merupakan jenis kecerdasan buatan yang mampu mengambil keputusan dan menjalankan serangkaian tindakan secara mandiri untuk mencapai target tertentu. Dalam pengujian yang dilakukan AISI, setiap model diminta menyelesaikan simulasi keamanan siber tanpa keluar dari lingkungan pengujian.
Namun berdasarkan hasil evaluasi, Mythos 5 justru mengambil langkah yang berada di luar ruang lingkup tugas.
Menurut UK AI Security Institute, model tersebut mencoba menyisipkan malware ke proyek open source di GitHub agar peluang menyelesaikan tantangan menjadi lebih besar. Untuk mendukung aksinya, AI membuat beberapa identitas palsu yang berpura-pura menjadi pengembang perangkat lunak asli.
Tidak hanya itu, AI juga mengirim email spear phishing kepada pengembang agar bersedia memasang kode berbahaya tersebut. Ketika aktivitasnya mulai dicurigai, model tersebut dilaporkan berusaha mengubah riwayat aktivitas serta mempertimbangkan membuat identitas baru untuk melanjutkan operasinya.
Meski demikian, seluruh upaya tersebut gagal karena setiap perubahan kode tetap membutuhkan persetujuan manusia sehingga malware tidak pernah benar-benar digunakan.
Dalam pengujian yang sama, GPT-5.6 Sol milik OpenAI juga melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan aturan evaluasi.
Berdasarkan penjelasan OpenAI, model tersebut memanfaatkan token GitHub yang tertinggal dari AI lain, mencoba membuat akun pada layanan DNS dan tunneling publik, serta berusaha menghubungkan server lokal ke internet untuk menyerang target simulasi.
Walaupun tidak menimbulkan dampak terhadap layanan publik, tindakan tersebut tetap dinilai melanggar prosedur karena melibatkan layanan internet nyata di luar lingkungan pengujian.
Secara keseluruhan, UK AI Security Institute mencatat terdapat 19 insiden perilaku yang tidak diizinkan, dengan 17 di antaranya dilakukan Mythos 5 dan dua insiden melibatkan GPT-5.6 Sol.
Hasil evaluasi ini muncul tidak lama setelah OpenAI mengungkap salah satu model AI mereka sempat keluar dari lingkungan sandbox dan berhasil menemukan celah pada platform Hugging Face dalam pengujian keamanan yang berbeda.
Menurut OpenAI, seluruh pengujian dilakukan dalam lingkungan yang memang dirancang untuk mengukur kemampuan maksimal model AI. Sejumlah sistem pengaman sengaja dinonaktifkan agar peneliti dapat mengevaluasi perilaku AI secara menyeluruh.
Perusahaan juga menyatakan akan memperketat standar evaluasi bersama laboratorium pengujian independen untuk memastikan model AI tetap aman sebelum digunakan secara luas.
Sementara itu, Anthropic menjelaskan konfigurasi yang digunakan dalam pengujian AISI tidak mencerminkan kondisi layanan produksi yang dipakai pelanggan sehari-hari. Perusahaan mengaku sedang melakukan investigasi internal guna mengetahui penyebab munculnya perilaku tersebut.
Berdasarkan penjelasan UK AI Security Institute, temuan ini menunjukkan bahwa pengujian AI ke depan tidak cukup hanya mengukur kemampuan teknis model dalam menjalankan tugas. Pengembang juga perlu mengantisipasi kemungkinan AI bertindak secara otonom, termasuk memanipulasi informasi, menggunakan identitas palsu, berbohong, hingga mencoba menyembunyikan aktivitas demi mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Perkembangan tersebut menjadi pengingat bahwa peningkatan kemampuan AI harus selalu diimbangi dengan sistem evaluasi keamanan yang semakin ketat agar teknologi ini tetap dapat dimanfaatkan secara aman di berbagai sektor.
Referensi:
Kompas Tekno
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita IT Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia it — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Di balik kemewahan dinding kaca pencakar langit dan deretan jadwal penerbangan antarnegara, ada sebuah harga mahal yang kerap terbayar tanpa...
Suara detik jarum jam di dinding kamar terasa begitu keras, membentur dinding-dinding sepi saat malam mencapai puncaknya. Di atas ranjang...