Harga Minyak Dunia Terus Naik, Ketegangan Selat Hormuz Bikin Pasar Waspada
Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Rabu (19/8/2026). Kenaikan ini memperpanjang tren positif selama empat hari berturut-turut, ketika pasar...
Read more
Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menegaskan pentingnya mempertahankan aliansi pertahanan dengan Amerika Serikat setelah Presiden AS Donald Trump memerintahkan pengurangan latihan militer bersama Washington dan Seoul.
Keputusan tersebut menjadi perhatian karena latihan militer AS dan Korea Selatan selama ini menjadi bagian penting dari kesiapan pertahanan menghadapi ancaman Korea Utara. Di sisi lain, Trump juga mengatakan komunikasi dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un berlangsung sangat positif.
Menurut Lee, hubungan pertahanan yang kuat dengan Washington tetap menjadi bagian penting bagi keamanan Korea Selatan. Dalam rapat kabinet pada Selasa (18/8), ia menekankan bahwa posisi Seoul sebagai sekutu akan semakin penting ketika kemampuan pertahanannya terus diperkuat.
“Ketika kita membangun kekuatan kita, nilai dan pentingnya kita sebagai sekutu akan semakin besar,” kata Lee.
Trump mengumumkan pada Minggu (16/8) bahwa Pentagon akan mengurangi latihan militer bersama Korea Selatan. Ia menyebut latihan tersebut tidak pantas dan bermusuhan.
Keputusan itu muncul ketika latihan Ulchi Freedom Shield sudah dimulai pada Senin (17/8). Latihan tersebut dirancang untuk meningkatkan kesiapan militer kedua negara menghadapi kemungkinan konflik dengan Korea Utara.
Sebelumnya, militer Korea Selatan dan AS menyatakan latihan tahun ini akan memiliki skala yang kurang lebih sama dengan latihan sebelumnya. Materi latihan juga memasukkan pembelajaran dari konflik terbaru, termasuk pengalaman pasukan Korea Utara dalam perang Rusia-Ukraina.
Kedua negara selama ini menegaskan bahwa latihan tersebut bersifat defensif. Kantor kepresidenan Korea Selatan juga menyatakan latihan tidak dimaksudkan untuk menyerang Korea Utara atau meningkatkan ketegangan di Semenanjung Korea.
Namun, sampai saat ini belum jelas bagian mana dari latihan yang akan dikurangi setelah perintah Trump.
Menurut Reuters, perubahan terhadap latihan gabungan tersebut menjadi bagian dari pembahasan lebih luas mengenai pembagian beban pertahanan antara Washington dan Seoul. Perubahan ini juga berlangsung ketika AS mendorong sekutu-sekutunya meningkatkan kontribusi terhadap keamanan kawasan.
Jepang ikut menaruh perhatian terhadap perkembangan tersebut. Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi mengatakan kerja sama keamanan antara Jepang, AS dan Korea Selatan sangat penting bagi stabilitas kawasan.
“Ketika Jepang menghadapi lingkungan keamanan paling serius dan kompleks di era pascaperang, kerja sama antara Jepang, Amerika Serikat dan Korea Selatan sangat penting bagi perdamaian dan stabilitas kawasan,” kata Koizumi saat berkunjung ke Australia.
Sementara itu, Trump mengaitkan keputusan pengurangan latihan dengan keengganan Korea Selatan membantu Washington dalam operasi militer terhadap Iran.
“Tunggu sebentar. Kami memiliki 39.000 tentara di sana, menjaga kalian dari Kim Jong Un, tetangga kalian, dan kalian tidak akan membantu kami dalam operasi militer yang sangat mudah di Iran. Itu aneh,” kata Trump.
Selain perubahan latihan militer, perhatian juga tertuju pada hubungan Trump dengan Kim Jong Un.
Pada Senin (17/8), Trump mengatakan Kim telah memberikan respons terhadap pendekatan yang disampaikannya. Ketika ditanya apakah Kim benar-benar telah merespons, Trump menjawab, “Ya, dia sudah.”
Trump menyebut komunikasi tersebut berada pada tahap sangat positif. Ia juga kembali memberikan pujian kepada pemimpin Korea Utara tersebut.
“Saya sebenarnya membuat situasinya jauh lebih aman. Kim Jong Un selalu memperlakukan saya dengan sangat hormat,” kata Trump. “Saya memahami dia. Dia memahami saya.”
Trump dan Kim sebelumnya telah bertemu tiga kali ketika Trump menjalani masa jabatan pertamanya sebagai presiden AS. Namun, keduanya belum bertemu kembali sejak Trump kembali menduduki Gedung Putih.
Kantor kepresidenan Korea Selatan berharap hubungan personal Trump dan Kim dapat membuka peluang bagi dialog yang lebih berarti antara Washington dan Pyongyang.
Meski demikian, Kementerian Unifikasi Korea Selatan mengatakan belum dapat memastikan apakah komunikasi antara Trump dan Kim benar-benar berlangsung seperti yang disampaikan Trump.
“Saluran komunikasi antara kedua pihak memang ada, tetapi kami tidak dapat memverifikasi isi spesifik dari pertukaran tersebut,” kata juru bicara Kementerian Unifikasi Korea Selatan.
Korea Utara sendiri belum memberikan tanggapan publik terkait klaim tersebut. Sebelumnya, Pyongyang menuduh AS dan Korea Selatan meningkatkan sifat provokatif latihan militer dan menyatakan akan merespons dengan tingkat pencegahan baru.
Perkembangan ini kemudian memunculkan pertanyaan mengenai keandalan komitmen keamanan AS di Asia Timur. Washington menempatkan sekitar 28.500 tentara di Korea Selatan sebagai bagian dari pertahanan negara tersebut sejak Perang Korea 1950-1953.
Senator Demokrat AS Jack Reed mengkritik keputusan pengurangan latihan. Menurutnya, Cina dan Rusia akan memperhatikan seberapa mudah AS mengubah komitmennya terhadap sekutu.
Di Korea Selatan, tingkat kepercayaan terhadap AS juga menjadi perhatian. Survei JoongAng Ilbo dan East Asia Institute menunjukkan 46,4 persen responden menilai AS sebagai mitra yang tidak dapat dipercaya, sedangkan 45,4 persen masih menganggap AS dapat dipercaya. Hasil tersebut menjadi catatan penting karena untuk pertama kalinya sejak pertanyaan itu diajukan pada 2017, jumlah responden yang tidak mempercayai AS lebih besar.
Profesor Ewha University Leif-Eric Easley menilai Trump melihat hubungan aliansi dengan pendekatan transaksional.
“Trump memandang aliansi sebagai investasi yang seharusnya memberikan dividen secara rutin, atau dana cadangan yang bisa ditarik ketika proyek lain tidak berjalan baik,” kata Easley.
Di tengah situasi tersebut, Seoul dan Washington masih membahas kontribusi praktis dan militer yang dapat diberikan Korea Selatan untuk membantu memulihkan kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
AS juga memindahkan kapal induk USS George Washington dari kawasan Pasifik menuju Timur Tengah untuk menggantikan USS Lincoln yang telah menjalani penugasan panjang. Pergerakan tersebut berlangsung ketika sekutu AS di kawasan semakin mendapat tekanan untuk meningkatkan belanja pertahanan.
Referensi:
Detik
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Internasional Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia internasional — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Rabu (19/8/2026). Kenaikan ini memperpanjang tren positif selama empat hari berturut-turut, ketika pasar...
Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menegaskan pentingnya mempertahankan aliansi pertahanan dengan Amerika Serikat setelah Presiden AS Donald Trump memerintahkan...