IRGC Ancam Balasan Keras Usai Kapal Iran Disita dan Ditembak AS di Teluk Oman
Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas setelah insiden penembakan dan penyitaan kapal berbendera Iran di perairan Teluk Oman....
Read more
Kabar mengenai tewasnya Yasser Abu Shahab, pemimpin geng bersenjata anti Hamas di Gaza, kembali menyoroti keberadaan Popular Forces atau Pasukan Rakyat Gaza. Menurut keterangan kelompok tersebut, Abu Shahab meninggal akibat luka tembak saat berusaha menengahi pertengkaran keluarga pada Kamis 4 Desember 2025. Mereka membantah rumor yang menyebut bahwa ia dibunuh oleh milisi Hamas.
Berdasarkan keterangan dua sumber Israel, mereka sempat berupaya mengevakuasi Abu Shahab ke rumah sakit sebelum ia meninggal. Namun nyawanya tidak dapat diselamatkan. Peran dan pengaruh Abu Shahab selama memimpin kelompok ini membuat kematiannya kembali memunculkan diskusi mengenai sepak terjang Popular Forces, terutama terkait hubungannya dengan Israel dan posisinya dalam konflik Gaza.
Popular Forces Gaza merupakan kelompok bersenjata yang dibentuk oleh Yasser Abu Shahab pada 2023. Kelompok ini muncul setelah Abu Shahab melarikan diri dari penjara Asda di Khan Younis, tempat ia ditahan sejak 2015 oleh otoritas Hamas atas tuduhan perdagangan narkoba. Menurut laporan Middle East Eye, pelariannya terjadi setelah fasilitas penahanannya dibom oleh Israel pada Oktober 2023.
Setelah melarikan diri, Abu Shahab mulai merekrut anggota baru dan membentuk basis kekuatan di sekitar perbatasan Kerem Shalom, titik strategis yang menghubungkan Gaza, Israel, dan Mesir. Dalam waktu singkat, ia berhasil mengumpulkan beberapa ratus anggota dan menguasai area di sekitarnya. Berdasarkan data dari dokumen PBB yang bocor, markas kelompok ini digambarkan layaknya kompleks militer dengan area terbatas yang diawasi oleh pasukan Israel.
Menurut Muhammad Shehada, peneliti di Dewan Eropa untuk Hubungan Luar Negeri, Popular Forces terlibat dalam berbagai aktivitas mulai dari menjarah bantuan kemanusiaan, melakukan misi pengintaian untuk Israel, hingga berperan sebagai milisi proksi yang ditempatkan pada wilayah-wilayah yang telah kosong dari penduduk. Kelompok ini diyakini menjadi alat bagi Israel untuk melemahkan kekuasaan Hamas di sejumlah titik di Gaza.
Seiring masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza, sejumlah sopir truk pernah menuduh kelompok Abu Shahab mencegat dan memaksa mereka membongkar muatan bantuan. Selain itu, Popular Forces juga dikaitkan dengan Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF), lembaga bantuan yang menuai sorotan karena dianggap tidak efektif dalam pendistribusian bantuan.
Popular Forces pertama kali tampil ke publik ketika Israel melancarkan operasi di Rafah pada Mei 2024. Setelah itu, kelompok ini memperluas pengaruhnya hingga wilayah Nasr, Rafah timur, dan Khan Younis. Posisi geografis yang strategis dan hubungan operasional dengan Israel membuat kelompok ini menjadi aktor kunci dalam dinamika konflik di Gaza.
Menurut sejumlah analis Timur Tengah, Popular Forces beroperasi dengan peran ganda. Di satu sisi, mereka bergerak sebagai kelompok kriminal bersenjata yang memanfaatkan kekosongan keamanan di Gaza. Di sisi lain, mereka tampil sebagai entitas yang mendapatkan dukungan logistik dari Israel untuk menjaga stabilitas keamanan di titik tertentu. Dalam berbagai laporan, Abu Shahab disebut sebagai figur yang diandalkan Israel dalam upaya mengikis kekuatan Hamas, terutama di wilayah selatan.
Keberadaan kelompok ini juga sering dikaitkan dengan perencanaan rekonstruksi Gaza yang akan dilakukan setelah tercapainya kesepakatan gencatan senjata. Menurut sejumlah analis, Israel memanfaatkan kelompok proksi seperti Popular Forces untuk mengamankan wilayah yang menjadi prioritas pembangunan pascaperang. Penggunaan kelompok bersenjata lokal sebagai proksi dianggap sebagai strategi untuk menghindari keterlibatan langsung militer Israel dalam pengawasan wilayah yang sensitif.
Hubungan Popular Forces dengan Israel telah lama menjadi perdebatan. Meski Israel tidak secara eksplisit mengakuinya, laporan berbagai lembaga internasional menyebutkan adanya koordinasi antara keduanya. Menurut sejumlah sumber keamanan regional, hubungan ini dinilai sebagai bagian dari strategi Israel untuk membentuk kekuatan tandingan yang dapat menahan dominasi Hamas di Gaza.
Di sisi lain, keberadaan Popular Forces juga memicu penolakan dari sebagian warga Gaza. Mereka menilai kelompok ini memanfaatkan situasi perang untuk memperkaya diri melalui penjarahan bantuan dan penguasaan wilayah kosong. Namun perhatian internasional tetap tertuju pada pengaruh kelompok ini dalam dinamika politik dan militer di Gaza, terutama setelah tewasnya Abu Shahab.
Kematian Abu Shahab menimbulkan pertanyaan mengenai masa depan Popular Forces. Sebagian analis memperkirakan kelompok ini akan tetap beroperasi karena memiliki struktur yang cukup kuat dan dukungan eksternal. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa perebutan kekuasaan internal dapat memicu instabilitas baru di kawasan selatan Gaza.
Referensi:
CNNIndonesia
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Internasional Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia internasional — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Kasus dugaan pencurian terjadi di salah satu resort di kawasan Ubud, Bali. Seorang warga negara asing (WNA) asal India diduga...
Seorang pria berusia 39 tahun diamankan aparat kepolisian di wilayah Kalideres, Jakarta Barat, setelah diduga melakukan pelecehan terhadap tiga anak...