Menteri Israel Tolak Gencatan Senjata dan Sebut Lebanon Harus Jadi Target Israel

Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir menolak gencatan senjata di Lebanon dan melontarkan pernyataan kontroversial yang menuai perhatian.

Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir menolak gencatan senjata di Lebanon dan melontarkan pernyataan kontroversial yang menuai perhatian

Pernyataan kontroversial kembali datang dari Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir. Dalam sebuah wawancara dengan media lokal Israel, Ben-Gvir secara terbuka menolak kemungkinan gencatan senjata dengan Lebanon dan menyerukan sikap yang lebih agresif terhadap negara tetangga tersebut.

Menurut Ben-Gvir, Israel tidak seharusnya menyetujui kesepakatan gencatan senjata apa pun dengan Lebanon. Ia bahkan menyebut seluruh wilayah Lebanon seharusnya menjadi target operasi Israel.

“Israel tidak dapat menyetujui gencatan senjata di Lebanon,” kata Ben-Gvir dalam wawancara yang dikutip sejumlah media internasional.

Dalam pernyataan yang memicu perhatian luas, Ben-Gvir menyebut bahwa Lebanon seharusnya menjadi “taman bermain” bagi Israel. Pernyataan tersebut dianggap sebagai salah satu komentar paling keras yang pernah disampaikan pejabat tinggi Israel terkait hubungan dengan Lebanon dalam beberapa waktu terakhir.

“Lebanon, seluruh Lebanon, seharusnya menjadi taman bermain kita. Seluruh Lebanon seharusnya menjadi target kita,” ujar Ben-Gvir.

Politikus garis keras itu juga menolak pemisahan antara kelompok Hizbullah dan negara Lebanon. Menurutnya, anggota Hizbullah memiliki keterlibatan dalam pemerintahan sehingga tidak dapat diperlakukan sebagai entitas yang terpisah.

Ben-Gvir Desak Netanyahu Sampaikan Penolakan kepada Trump

Selain menolak gencatan senjata, Ben-Gvir juga melontarkan ancaman terhadap Beirut. Ia membandingkan masa depan ibu kota Lebanon tersebut dengan Beit Hanoun di Jalur Gaza yang mengalami kerusakan besar akibat konflik bersenjata.

“Persamaannya harus sangat sederhana dan jelas. Negara Israel harus aman. Jika Israel tidak aman, Beirut akan terlihat seperti Beit Hanoun,” kata Ben-Gvir.

Baca Juga:  Alasan Kuat Portugal Jadi Tujuan Warga Israel untuk Mengurus Paspor Baru

Dalam kesempatan terpisah saat rapat mingguan faksi Partai Otzma Yehudit di parlemen Israel atau Knesset, Ben-Gvir kembali menegaskan penolakannya terhadap kesepakatan yang tengah dibahas terkait Lebanon.

Ia mendesak Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, untuk menyampaikan secara langsung kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bahwa Israel tidak dapat menerima perjanjian gencatan senjata tersebut.

“Netanyahu perlu menemui Presiden Trump, memeluknya dan berkata kepadanya: ‘Presiden Trump, terima kasih, tetapi apa yang dapat kami lakukan, kami tidak dapat memenuhi perjanjian ini’,” ujar Ben-Gvir.

Menurut Ben-Gvir, Israel harus memiliki kebebasan penuh dalam merespons setiap ancaman keamanan yang dianggap membahayakan warga maupun personel militernya.

“Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Amerika, tetapi garis merah kami adalah melukai tentara dan melukai warga sipil,” katanya.

Pernyataan tersebut muncul di tengah upaya diplomatik yang sedang berlangsung untuk menjaga stabilitas kawasan Timur Tengah. Sejumlah negara dan organisasi internasional terus mendorong penyelesaian konflik melalui jalur negosiasi guna menghindari eskalasi yang lebih luas antara Israel, Lebanon, dan kelompok Hizbullah.

Sementara itu, hingga kini belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Lebanon terkait komentar terbaru Ben-Gvir. Namun pernyataan tersebut diperkirakan akan menambah ketegangan dalam hubungan kedua negara yang selama bertahun-tahun berada dalam situasi konflik dan saling curiga.

Referensi:
detikNews

Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.

📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral

Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!

BERITATERKAIT

BERITATERBARU

INSTAGRAMFEED