Berat Badan Tak Kunjung Turun Saat Diet? Bisa Jadi Asupan Serat Masih Kurang
Menjalani program diet tidak selalu berarti mengurangi porsi makan sebanyak mungkin. Dalam banyak kasus, berat badan yang sulit turun justru...
Read more
Unggahan seorang pasien pengguna BPJS Kesehatan yang mengaku menunggu ruang rawat inap selama delapan jam menjadi perhatian luas di media sosial. Perbincangan semakin berkembang setelah beredar komentar yang diduga berasal dari sejumlah tenaga kesehatan dan dinilai tidak menunjukkan empati. Belakangan, pasien tersebut dikabarkan meninggal dunia, sehingga kasus ini kembali menjadi sorotan publik.
Menurut Prof Tjandra Yoga Aditama, Guru Besar Fakultas Kedokteran, hal pertama yang perlu dilakukan adalah menyampaikan belasungkawa kepada keluarga pasien. Ia juga mengingatkan bahwa kronologi lengkap kejadian masih perlu dikonfirmasi sehingga masyarakat tidak terburu-buru menarik kesimpulan.
“Informasi komentar terhadap pasien yang tidak dapat ruang rawat jadi viral. Sambil menunggu konfirmasi bagaimana kejadian sebenarnya, turut berduka cita mendalam pada pasien yang meninggal,” kata Prof Tjandra Yoga Aditama.
Menurut Prof Tjandra Yoga Aditama, seorang dokter tidak hanya dituntut memiliki kemampuan medis, tetapi juga harus mampu memahami kondisi emosional pasien. Ia mengaitkan hal tersebut dengan istilah “einfuhlung”, yang berarti kemampuan untuk merasakan dan memahami sudut pandang orang lain.
Dalam praktik pelayanan kesehatan, dokter dinilai tidak hanya bertugas memeriksa dan mengobati penyakit, tetapi juga memahami berbagai keluhan yang menyertai kondisi pasien.
“Einfuhlung menggambarkan kemampuan seseorang untuk menyelami, meresapi, atau ikut merasakan isi jiwa dan sudut pandang orang lain. Dalam hal ini dokter perlu dan harus punya einfuhlung pada pasien,” ujar Prof Tjandra Yoga Aditama.
Ia menambahkan bahwa pasien sering kali menghadapi persoalan yang lebih luas daripada penyakit yang dideritanya. Oleh karena itu, tenaga kesehatan perlu menunjukkan empati yang memadai terhadap seluruh kondisi yang dialami pasien.
Selain menyoroti aspek empati, Prof Tjandra juga mengingatkan masyarakat agar lebih bijak menggunakan media sosial. Menurutnya, informasi yang viral belum tentu menggambarkan keseluruhan peristiwa sehingga perlu disikapi secara hati-hati.
Prof Tjandra juga menyoroti informasi mengenai pasien yang disebut menunggu delapan jam untuk memperoleh ruang rawat. Menurutnya, masih ada dua kemungkinan yang perlu dipahami, yakni pasien telah memperoleh penanganan medis namun belum mendapatkan kamar perawatan, atau pasien memang belum memperoleh pelayanan yang memadai. Kondisi tersebut, menurutnya, perlu dikaji secara menyeluruh sebelum menarik kesimpulan.
Di sisi lain, Kementerian Kesehatan turut menyayangkan munculnya komentar yang dinilai tidak berempati terhadap pasien. Kementerian mengingatkan tenaga medis dan tenaga kesehatan agar selalu mengedepankan profesionalisme, komunikasi yang baik, serta etika saat menggunakan media sosial. Masyarakat yang menemukan dugaan pelanggaran etik juga diminta menggunakan mekanisme pengaduan resmi melalui Konsil Kesehatan Indonesia (KKI).
Referensi:
detikHealth
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Kesehatan Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia kesehatan — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Sejarah kejahatan modern dan fenomena misteri tak terpecahkan mencatat banyak tragedi yang membuat publik mengelus dada. Namun, sangat sedikit kasus...
Kuota internet rollover menjadi topik yang banyak dibahas setelah adanya putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang mewajibkan operator seluler menyediakan opsi...