Seorang anak perempuan influencer berinisial H, yakni C, diduga menjadi korban perundungan (bullying) dan pelecehan seksual yang dilakukan oleh teman sekolahnya di salah satu SMP Negeri di Jakarta Timur. Dugaan ini mencuat setelah korban menunjukkan perubahan perilaku dan akhirnya menceritakan pengalaman yang dialaminya kepada sang ibu.
Menurut H, peristiwa bermula ketika salah satu teman sekolah anaknya berinisial R mengajak C merayakan pergantian tahun baru 2026 bersama. Namun rencana tersebut tidak terlaksana karena C memilih ikut bersama keluarganya ke Yogyakarta.
“Nah kebetulan di tahun baru kemarin itu saya punya plan, saya bawalah ke Yogya. Nah pas ke Yogya akhirnya anak saya lebih milih pergi sama saya. Anak saya masih belum tahu rencananya dia (R),” kata H, orang tua korban, saat dikonfirmasi di Jakarta.
Setelah libur tahun baru, H mulai menyadari perubahan pada anaknya. C kerap menangis, terlihat murung, dan mengalami tekanan emosional di rumah. Menurut H, cerita baru terungkap ketika anaknya kembali masuk sekolah dan mendengar obrolan dari teman-temannya.
“Ternyata si R ini mempunyai rencana mau ngajak si C, itu di tahun baru kemarin mau dibawa ke mana gitu, terus mau dibius. Ya kan, mau dibius dengan tujuan pasti kita tahu lah arahnya,” ujar H.
Mendengar kabar tersebut, C kemudian menanyakan langsung kepada R. Namun, R berdalih bahwa pernyataan tersebut hanya candaan semata.
“Anak saya langsung tanya, kamu kemarin ngajakin aku tahun baruan tuh mau ngebius? Terus dia bilang iya tapi cuma bercanda kok. Semua selalu berdalihnya bercanda,” kata H.
Dugaan Perundungan Verbal dan Pembahasan Tidak Pantas
Selain dugaan rencana pembiusan, H juga mengungkapkan adanya pembahasan tidak pantas yang menyasar anak pertamanya dalam sebuah grup percakapan yang berisi puluhan siswa laki-laki.
“Dia punya grup cowok-cowok isinya sekitar 40 orang. Ternyata di grup itu juga ngebahas masalah anak pertama saya. Ada bahasan yang seharusnya tidak pantas,” kata H.
H menambahkan bahwa anaknya telah mengalami perundungan verbal sejak Februari 2025. Intensitas perundungan tersebut disebut semakin meningkat sejak November 2025, hingga akhirnya berdampak pada kondisi psikologis korban.
Sementara itu, Kepala Suku Dinas Pendidikan Jakarta Timur II, Horale, mengatakan pihaknya masih melakukan pendalaman terhadap laporan tersebut. Menurut Horale, koordinasi dengan dinas dan pihak terkait terus dilakukan untuk menelusuri fakta kejadian.
“Saat ini kami masih fokus pendalaman kasus yang terjadi dan berkoordinasi dengan dinas terkait,” kata Horale, Kepala Suku Dinas Pendidikan Jakarta Timur II.
Kasus ini menambah daftar perhatian terhadap pentingnya pengawasan lingkungan sekolah serta perlindungan anak dari segala bentuk kekerasan fisik maupun verbal.
Referensi: Liputan6