Libur Waisak 2026, CFD Jakarta Ditiadakan pada Minggu 31 Mei
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta resmi meniadakan kegiatan Hari Bebas Kendaraan Bermotor atau Car Free Day (CFD) pada Minggu 31 Mei...
Read more
Kasus tragis terjadi di Medan, Sumatera Utara, ketika seorang anak berusia 12 tahun melukai ibunya dengan pisau hingga meninggal dunia. Peristiwa itu terjadi pada Rabu, 10 Desember 2025, saat sang ibu sedang tertidur di rumah.
Menurut Kapolrestabes Medan Kombes Calvin Simanjuntak, salah satu pemicu tindakan kekerasan tersebut adalah rasa sakit hati karena sang ibu menghapus game online yang sering dimainkan anaknya. Selain itu, anak tersebut juga disebut kerap memainkan game bertema kekerasan dengan pisau serta menonton serial anime yang menampilkan adegan serupa.
Psikolog dari Ibunda.id, Danti Wulan Manunggal, menjelaskan bahwa game online, khususnya yang memuat unsur kekerasan, memang dapat memengaruhi perilaku agresif pada anak. Namun, ia menegaskan bahwa pengaruh tersebut tidak berlangsung secara langsung.
“Ya, namun tidak secara otomatis atau linier,” kata Danti Wulan Manunggal, Psikolog Ibunda.id.
Lebih jauh, menurut Danti, berbagai penelitian psikologi menunjukkan bahwa paparan konten kekerasan yang intens dapat memengaruhi kognisi dan emosi anak. Hanya saja, efeknya tidak sama pada setiap individu, tergantung faktor kerentanan serta lingkungan yang membentuknya.
“Penelitian psikologi menunjukkan bahwa paparan konten kekerasan yang intens dapat memengaruhi kognisi dan emosi, tetapi efeknya berbeda-beda pada setiap anak,” sambungnya.
Dalam penjelasannya, Danti menerangkan sejumlah mekanisme psikologis yang bisa terjadi pada anak ketika sering terpapar game online yang memuat adegan kekerasan.
1. Desensitisasi atau penurunan kepekaan
Paparan berulang terhadap adegan kekerasan, misalnya penggunaan pisau dalam game, bisa membuat anak menganggap kekerasan sebagai sesuatu yang wajar atau normal. Akibatnya, empati terhadap rasa sakit orang lain dapat menurun secara perlahan.
2. Priming atau aktivasi pikiran agresif
Ketika anak merasa stres, marah, atau terancam, otak lebih mudah memunculkan ide agresi yang pernah ia lihat dalam permainan. Misalnya saat game online miliknya dihapus, pola pikir agresif ini bisa muncul lebih cepat.
3. Identifikasi karakter
Berbeda dengan film, dalam game anak memainkan peran sebagai pelaku langsung. Ia mengendalikan senjata dan mendapatkan reward dari aksinya. Hal ini bisa memperkuat internalisasi perilaku agresif.
Menurut Danti, dalam kasus di Medan ini, game online lebih berperan sebagai pemicu (trigger) sekaligus model perilaku yang kemudian ditiru oleh anak.
“Namun ada faktor kerentanan lain (seperti kematangan emosi, adiksi, dan kemungkinan masalah kesehatan mental yang tidak terdeteksi) yang membuat tragedi ini terjadi,” ujar Danti.
Karena itu, pengawasan orang tua terhadap aktivitas digital anak menjadi sangat penting, termasuk memantau jenis konten yang dikonsumsi serta kondisi emosional anak sehari-hari.
Dalam kasus ini, aparat kepolisian masih terus melakukan penyelidikan lanjutan terkait latar belakang keluarga, kondisi psikologis anak, serta faktor lingkungan yang mungkin ikut berpengaruh.
Referensi: Kompas
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Nasional Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia nasional — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Momen Idul Adha memang selalu identik dengan stok daging kambing yang melimpah di rumah. Tapi jujur saja, kadang banyak orang...
Siapa yang langsung lapar hanya dengan membayangkan aroma tumisan babat yang pedas, manis, dan wangi kecap? Buat pecinta jeroan, babat...