Anemia Defisiensi Besi Masih Mengintai, Pakar UI Jelaskan Tanda dan Pencegahannya

Anemia defisiensi besi masih menjadi masalah gizi di Indonesia. Kenali gejala, dampak, dan cara mencegahnya sejak dini menurut pakar gizi Universitas Indonesia.

Anemia defisiensi besi masih menjadi masalah gizi di Indonesia

Anemia defisiensi besi masih menjadi salah satu masalah gizi yang berdampak besar terhadap kesehatan masyarakat di Indonesia. Kondisi ini banyak dialami anak-anak maupun ibu hamil dan kerap tidak disadari karena gejalanya berkembang secara perlahan. Akibatnya, penanganan sering terlambat ketika kadar hemoglobin sudah menurun.

Menurut Dr. dr. Dian Novita Chandra, M.Gizi, dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia sekaligus Sekretaris Indonesian Nutrition Association (INA), anemia defisiensi besi merupakan salah satu prioritas kesehatan nasional karena berpengaruh langsung terhadap pertumbuhan, daya tahan tubuh, hingga perkembangan otak anak.

“Anemia defisiensi besi ini banyak terjadi pada awal kehidupan. Periode ini sangat penting untuk pertumbuhan anak, imunitas, dan menjadi dasar kesehatan hingga masa dewasa,” kata Dr. Dian Novita Chandra, Sekretaris Indonesian Nutrition Association.

Berdasarkan informasi dari Kementerian Kesehatan RI, pemenuhan kebutuhan zat besi sejak dini menjadi salah satu langkah penting dalam mencegah gangguan pertumbuhan dan menjaga kualitas sumber daya manusia di masa depan.

Kenali Gejala, Dampak, dan Cara Mencegah Anemia Defisiensi Besi

Menurut Dr. Dian Novita Chandra, anemia defisiensi besi sering disebut sebagai silent condition karena gejalanya tidak khas. Pada tahap awal, tubuh hanya mengalami penurunan cadangan zat besi sehingga belum memunculkan keluhan yang mudah dikenali.

Seiring waktu, jika kebutuhan zat besi terus tidak terpenuhi, kadar hemoglobin mulai menurun dan berbagai gejala muncul, seperti:

  • Wajah tampak pucat
  • Tubuh mudah lelah
  • Nafsu makan menurun
  • Anak lebih sering sakit
  • Kurang aktif bermain
  • Sulit berkonsentrasi
Baca Juga:  Cereulide Jadi Sorotan, Ini Penjelasan Medis soal Racun di Susu Formula

Gejala tersebut sering dianggap sebagai kondisi biasa sehingga banyak keluarga baru mengetahui anak mengalami anemia setelah kondisinya semakin berat.

Padahal, dampak kekurangan zat besi tidak hanya menyebabkan tubuh lemas. Zat besi memiliki peran penting dalam pembentukan hemoglobin, perkembangan sistem saraf, pembentukan sel darah merah, hingga mendukung fungsi otak selama masa pertumbuhan.

Menurut Dr. Dian Novita Chandra, kekurangan zat besi yang berlangsung dalam waktu lama dapat menurunkan kemampuan belajar, konsentrasi, dan perhatian anak. Bahkan, sejumlah penelitian menunjukkan dampaknya dapat bertahan hingga usia dewasa apabila tidak ditangani sejak awal.

Untuk mencegah kondisi tersebut, pemenuhan kebutuhan zat besi harus dilakukan melalui pola makan yang seimbang. Sumber zat besi hewani seperti daging merah, hati, ikan, dan telur memiliki tingkat penyerapan lebih baik dibandingkan sumber nabati.

Sementara itu, sumber zat besi dari sayuran hijau, kacang-kacangan, dan serealia tetap bermanfaat jika dikombinasikan dengan makanan yang mengandung vitamin C, seperti jeruk, jambu biji, tomat, atau pepaya. Vitamin C membantu meningkatkan penyerapan zat besi non heme di dalam tubuh.

Menurut Kementerian Kesehatan RI, masyarakat juga perlu memperhatikan faktor yang dapat menghambat penyerapan zat besi, seperti konsumsi teh atau kopi bersamaan dengan waktu makan. Selain itu, kandungan fitat pada beberapa serealia dan kacang-kacangan dapat mengurangi penyerapan zat besi, meski proses pengolahan seperti fermentasi dapat membantu menurunkan efek tersebut.

Selain pola makan, deteksi dini menjadi langkah yang tidak kalah penting. Dr. Dian menjelaskan bahwa pemeriksaan risiko kekurangan zat besi sebaiknya dilakukan sebelum berkembang menjadi anemia. Saat ini mulai dikembangkan pendekatan skrining non invasif menggunakan iron calculator yang menilai risiko berdasarkan pola makan, asupan vitamin C, riwayat anemia pada ibu, hingga kondisi anak saat lahir.

Baca Juga:  Dampak Timbal pada Anak Disorot, Ganggu IQ dan Perkembangan Otak

Pendekatan tersebut diharapkan mampu membantu tenaga kesehatan maupun orang tua mengenali risiko lebih cepat sehingga intervensi dapat segera dilakukan.

Penelitian yang dilakukan tim peneliti terhadap anak usia 1 hingga 3 tahun di wilayah perkotaan Indonesia juga menunjukkan bahwa kombinasi edukasi gizi dan pangan fortifikasi yang mengandung zat besi serta vitamin C memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan edukasi saja. Anak-anak yang memperoleh kedua intervensi tersebut mampu memenuhi kebutuhan zat besi harian dengan lebih optimal dan mempertahankan kadar hemoglobin tetap normal selama masa pemantauan.

Menurut Dr. Dian Novita Chandra, pencegahan menjadi langkah paling efektif dibandingkan mengobati anemia yang sudah terjadi.

“Pesannya sederhana, kita mesti deteksi lebih awal, kita berikan gizi yang baik sehingga bisa mencegah anemia defisiensi besi dan menjaga agar Indonesia memiliki generasi yang lebih baik,” kata Dr. Dian Novita Chandra.

Referensi:
detikHealth

📚 ️Baca Juga Seputar Kesehatan

Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Kesehatan Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia kesehatan — semua ada di sana!

Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.

📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral

Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!

BERITATERKAIT

BERITATERBARU

INSTAGRAMFEED