IDAI Peringatkan Dampak Polusi Udara pada Anak Bisa Tingkatkan Risiko Kanker
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan bahwa dampak polusi udara pada anak tidak hanya menyerang saluran pernapasan, tetapi juga dapat...
Read more
Bekerja di depan komputer selama berjam-jam telah menjadi bagian dari rutinitas banyak orang. Aktivitas ini memang sulit dihindari, terutama bagi pekerja kantoran maupun mereka yang bekerja dari rumah. Namun, di balik kebiasaan tersebut terdapat risiko kesehatan yang tidak boleh dianggap sepele.
Duduk terlalu lama merupakan salah satu bentuk gaya hidup sedenter, yaitu pola hidup dengan aktivitas fisik yang sangat minim. Kondisi ini telah lama dikaitkan dengan meningkatnya risiko berbagai penyakit kronis. Bahkan, sejumlah ahli menyebut kebiasaan duduk berkepanjangan sebagai “the new smoking” karena dampaknya yang dapat mengganggu kesehatan secara perlahan.
Menurut Frederick Ho dari Glasgow University, hasil penelitian menunjukkan bahwa duduk lebih dari 30 menit tanpa jeda berkaitan dengan meningkatnya risiko berbagai masalah kesehatan, termasuk kanker. “Data kami menunjukkan bahwa duduk selama lebih dari 30 menit berturut-turut sangat terkait dengan risiko kanker yang lebih tinggi. Kabar baiknya, mengurangi waktu duduk dengan sesuatu yang sederhana seperti berjalan kaki dapat memberikan perlindungan,” kata Frederick Ho.
Berdasarkan data dari penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal PLoS Medicine, studi yang melibatkan lebih dari 900 ribu orang selama sekitar satu dekade menemukan bahwa risiko kematian akibat kanker meningkat seiring bertambahnya waktu duduk setiap hari. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa menyelingi waktu duduk dengan aktivitas ringan setiap 30 menit dapat membantu menurunkan risiko tersebut.
Selain meningkatkan risiko kanker, duduk terlalu lama juga dapat memicu obesitas. Saat tubuh jarang bergerak, proses pembakaran lemak dan pengolahan gula menjadi kurang optimal. Akibatnya, kalori lebih mudah menumpuk dan meningkatkan berat badan. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa aktivitas fisik intensitas sedang selama sekitar 60 hingga 75 menit setiap hari dapat membantu mengurangi dampak buruk dari kebiasaan duduk terlalu lama.
Masalah lain yang sering muncul adalah gangguan pada punggung dan pinggul. Posisi duduk yang berlangsung lama, terutama dengan postur yang kurang baik, membuat otot fleksor pinggul memendek dan memberikan tekanan tambahan pada tulang belakang. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menyebabkan nyeri kronis serta mempercepat kerusakan pada cakram tulang belakang.
Dampaknya tidak berhenti pada kesehatan fisik. Menurut Megan Teychenne, hasil tinjauan penelitian yang dipublikasikan dalam BMC Public Health menunjukkan bahwa semakin lama seseorang menghabiskan waktu dengan duduk, semakin tinggi pula risiko mengalami kecemasan. Kurangnya aktivitas fisik juga diketahui dapat meningkatkan kemungkinan munculnya depresi karena tubuh kehilangan kesempatan untuk menghasilkan hormon yang membantu menjaga suasana hati.
Risiko berikutnya adalah penyakit jantung. Berdasarkan penelitian yang dikutip dari Harvard Gazette, orang yang menghabiskan lebih dari 10,6 jam sehari dalam kondisi tidak aktif memiliki risiko gagal jantung dan kematian akibat penyakit kardiovaskular sekitar 40 hingga 60 persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang lebih aktif bergerak. Menurut ahli kardiologi Ezimamaka Ajufo, risiko tersebut tetap ditemukan bahkan pada orang yang rutin berolahraga apabila masih menghabiskan waktu terlalu lama untuk duduk.
Gangguan metabolisme juga menjadi perhatian. Penelitian yang diterbitkan dalam Annals of Internal Medicine menunjukkan bahwa kurang bergerak berkaitan dengan meningkatnya risiko diabetes tipe 2. Menurut I-Min Lee dari Harvard Medical School, duduk terlalu lama diduga memengaruhi metabolisme gula dan lemak yang berperan penting terhadap munculnya diabetes maupun penyakit jantung.
Selain itu, duduk dalam waktu lama juga dapat menyebabkan gangguan pembuluh darah. Darah yang terlalu lama tertahan di area kaki berisiko memicu varises. Pada kondisi tertentu, dapat terbentuk gumpalan darah atau deep vein thrombosis (DVT). Kondisi ini tergolong serius karena gumpalan darah dapat berpindah ke organ lain, termasuk paru-paru, dan menyebabkan komplikasi yang mengancam jiwa.
Temuan serupa juga dijelaskan oleh Harvard Health Publishing yang menyebut bahwa terlalu banyak duduk berkaitan dengan meningkatnya risiko penyakit metabolik, gangguan jantung, hingga kematian dini. Karena itu, para ahli menyarankan untuk tidak hanya berfokus pada olahraga harian, tetapi juga mengurangi durasi duduk tanpa jeda sepanjang hari.
Cara paling sederhana untuk mengurangi dampaknya adalah dengan berdiri atau berjalan kaki ringan setiap 30 menit, melakukan peregangan singkat, menggunakan tangga jika memungkinkan, serta menyempatkan aktivitas fisik secara rutin setiap hari. Kebiasaan kecil tersebut dapat membantu menjaga metabolisme tubuh tetap aktif sekaligus mengurangi berbagai risiko kesehatan akibat gaya hidup sedenter.
Referensi:
CNN Indonesia
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Kesehatan Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia kesehatan — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Bekerja di depan komputer selama berjam-jam telah menjadi bagian dari rutinitas banyak orang. Aktivitas ini memang sulit dihindari, terutama bagi...
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan bahwa dampak polusi udara pada anak tidak hanya menyerang saluran pernapasan, tetapi juga dapat...