Waspadai Gejala Awal Kanker Kulit Melanoma dengan Metode ABCDE
Melanoma merupakan salah satu jenis kanker kulit yang paling berbahaya karena dapat menyebar ke organ tubuh lain apabila tidak segera...
Read more
Pola makan sehari-hari ternyata tidak hanya memengaruhi kesehatan tubuh secara umum, tetapi juga dapat berperan terhadap risiko munculnya kanker mulut. Selain faktor yang sudah dikenal seperti konsumsi alkohol, kebiasaan merokok, dan infeksi Human Papillomavirus (HPV), sejumlah penelitian menunjukkan bahwa konsumsi daging olahan juga patut diwaspadai.
Menurut Kelly F. Moyer, MD, ahli THT di University of Maryland Medical Center, makanan yang memicu peradangan memiliki kaitan erat dengan meningkatnya risiko kanker mulut. Salah satu yang paling sering dikonsumsi masyarakat adalah daging olahan, seperti sosis, bacon, ham, hingga hot dog.
Menurut Alessandro Villa, DDS, PhD, MPH, Kepala Divisi Kedokteran Mulut, Onkologi Mulut, dan Kedokteran Gigi di Herbert Wertheim Cancer Institute, daging olahan telah dikaitkan dengan meningkatnya risiko kanker rongga mulut dan orofaring.
Berdasarkan data dari International Agency for Research on Cancer (IARC), daging olahan masuk dalam kelompok karsinogen Grup 1, yaitu kategori yang memiliki bukti ilmiah kuat sebagai penyebab kanker pada manusia.
“Yang berarti ada cukup bukti yang menghubungkannya dengan kanker pada manusia,” kata Alessandro Villa.
Menurut Villa, salah satu penyebabnya adalah kandungan nitrat dan nitrit yang umum digunakan sebagai bahan pengawet. Senyawa tersebut dapat berubah menjadi N-nitroso, yaitu zat yang bersifat karsinogenik atau berpotensi memicu kanker.
Senada dengan itu, ahli gizi onkologi Tejal Parekh, RDN, LDN, menjelaskan bahwa nitrat dan nitrit ditambahkan ke dalam daging olahan untuk memperpanjang masa simpan sekaligus menjaga warna dan kualitas produk. Berbagai penelitian juga mengaitkan konsumsi senyawa tersebut dengan peningkatan risiko beberapa jenis kanker, termasuk kanker payudara dan kanker prostat.
Selain kandungan pengawet, cara memasak juga ikut berpengaruh. Menurut Kelly F. Moyer, memanggang, membakar, atau mengasap daging pada suhu sangat tinggi dapat menghasilkan hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH) dan amina aromatik heterosiklik (HAA).
“Daging yang dipanggang, diasap, dan dibakar juga bisa bermasalah karena proses memasak dengan suhu tinggi menghasilkan bahan kimia yang disebut hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH) dan amina aromatik heterosiklik (HAA), yang dapat menyebabkan kerusakan langsung pada DNA dalam sel,” kata Kelly F. Moyer.
Paparan zat tersebut dalam jangka panjang diduga meningkatkan peluang terbentuknya sel kanker.
Tidak hanya itu, konsumsi makanan ultra-proses juga diketahui dapat memicu peradangan kronis. Menurut Moyer, kondisi peradangan ringan yang berlangsung terus-menerus di rongga mulut dapat mengurangi kemampuan tubuh memperbaiki sel-sel yang rusak sehingga meningkatkan risiko terjadinya kanker.
Villa juga menambahkan bahwa kandungan zat besi heme dalam daging merah olahan diduga ikut berkontribusi terhadap proses karsinogenesis atau pembentukan sel kanker.
Faktor lain yang mulai mendapat perhatian para peneliti adalah perubahan pada mikrobioma mulut. Menurut Moyer, pola makan yang buruk dapat mengganggu keseimbangan lebih dari 700 spesies bakteri alami di dalam mulut. Kondisi yang dikenal sebagai disbiosis ini dapat memicu peradangan kronis dan menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan sel abnormal.
Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan bahwa menjaga pola makan yang kaya buah, sayuran, serta makanan bergizi dapat membantu mempertahankan keseimbangan mikrobioma mulut sekaligus mendukung kesehatan rongga mulut secara keseluruhan.
Menurut Ammar Sukari, MD, masyarakat perlu segera memeriksakan diri apabila mengalami tanda-tanda yang mengarah pada kanker mulut.
Beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain:
Semakin cepat gejala dikenali, semakin besar peluang penanganan dilakukan sebelum kanker berkembang ke stadium yang lebih lanjut. Oleh karena itu, membatasi konsumsi daging olahan, memperbanyak makanan bergizi, menghindari rokok dan alkohol, serta rutin memeriksakan kesehatan mulut menjadi langkah penting untuk membantu menurunkan risiko kanker mulut.
Referensi:
detikHealth
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Kesehatan Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia kesehatan — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Artificial Intelligence (AI) kini menjadi bagian penting dalam aktivitas kerja sehari-hari. Mulai dari membuat dokumen, merangkum informasi, hingga membantu analisis...
Sony resmi mengumumkan perubahan besar dalam strategi distribusi game PlayStation. Mulai Januari 2028, seluruh game PlayStation baru tidak lagi dirilis...