Perjalanan Jeje Adriel Hadapi Kanker Limfoma Hodgkin Stadium Dua
Kisah seorang pemuda asal Jakarta Utara bernama Jeje Adriel menjadi sorotan setelah ia mengungkapkan dirinya mengidap kanker limfoma Hodgkin stadium...
Read more
Sebuah banner film bertajuk Aku Harus Mati tengah menjadi perhatian di tengah aktivitas masyarakat di jalan raya. Visual besar yang terpampang di ruang publik itu memicu kekhawatiran, terutama dari kalangan ahli kesehatan jiwa yang menilai pesan tersebut bisa berdampak serius bagi kondisi psikologis sebagian orang.
Menurut dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, psikiater sekaligus Anggota Bidang Pengabdian Masyarakat PP-PDSKJI, pesan yang disampaikan melalui media luar ruang tidak bisa dianggap sekadar promosi hiburan biasa. Ia menegaskan bahwa konten visual di ruang publik memiliki pengaruh yang lebih dalam dibanding yang terlihat di permukaan.
“Di sekitar kita, banyak orang yang kelihatannya baik baik saja tapi sesungguhnya sedang berjuang diam-diam sunyi untuk tetap bertahan hidup. Mereka tampak tenang, tetapi di dalam pikirannya sedang terjadi peperangan yang berat,” kata dr. Lahargo.
Menurutnya, kalimat seperti Aku Harus Mati bisa menjadi pemicu psikologis bagi individu yang sedang mengalami depresi atau trauma. Dalam kondisi tertentu, pesan tersebut tidak lagi dipahami sebagai judul film, melainkan bisa memperkuat pikiran negatif yang sudah ada.
Berdasarkan penjelasan dr. Lahargo, ruang publik seperti jalan raya merupakan tempat yang dilalui oleh berbagai lapisan masyarakat. Mulai dari anak-anak, remaja, hingga individu yang mungkin sedang mengalami tekanan emosional berat.
Dalam konteks ini, konsep psychological safety atau keamanan psikologis menjadi sangat penting. Menurutnya, setiap pesan yang ditampilkan di ruang terbuka seharusnya tidak hanya menarik perhatian, tetapi juga mempertimbangkan dampaknya terhadap kesehatan mental.
Ia juga mengingatkan adanya fenomena yang dikenal sebagai Werther Effect, yaitu kondisi di mana paparan konten terkait kematian atau bunuh diri dapat memicu perilaku serupa pada individu yang rentan.
Menurut dr. Lahargo, tidak semua konten yang viral atau menarik perhatian aman bagi masyarakat luas. Terutama jika pesan tersebut mengandung narasi yang sensitif dan berpotensi disalahartikan.
“Ada judul yang menjual rasa takut, tetapi bisa melukai mereka yang sedang berjuang untuk tetap hidup. Pesan di ruang publik seharusnya mempertimbangkan psychological safety. Bukan hanya menarik perhatian, tetapi juga aman bagi kesehatan mental masyarakat,” tegasnya.
Ia pun mengajak pelaku industri kreatif untuk lebih berhati-hati dalam menyampaikan pesan di ruang publik. Hal yang terlihat biasa bagi sebagian orang, bisa memiliki dampak besar bagi mereka yang sedang berada dalam kondisi mental yang rapuh.
Referensi:
Detik
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Kesehatan Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia kesehatan — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Kabel charger sering kali menjadi perangkat yang kurang mendapat perhatian dalam penggunaan sehari-hari. Padahal, fungsinya sangat penting untuk menjaga daya...
Banyak pengguna mengira bahwa saat HP Android mulai lemot, satu-satunya solusi adalah mengganti perangkat baru. Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya...