Tren All You Can Eat Populer, Tapi Bisa Picu GERD Jika Makan Terlalu Banyak
Restoran dengan konsep all you can eat (AYCE) semakin populer di berbagai kota. Dengan membayar satu harga, pengunjung bisa menikmati...
Read more
Perubahan emosi, perilaku, hingga kebiasaan tidur yang terjadi terus-menerus bisa menjadi tanda awal gangguan jiwa. Sayangnya, banyak orang tidak menyadari gejala tersebut atau memilih mengabaikannya hingga kondisi semakin berat.
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa persoalan kesehatan mental di Indonesia jumlahnya jauh lebih besar dibandingkan data yang tercatat saat ini.
Menurut Budi, hasil skrining yang dilakukan pemerintah masih menunjukkan angka yang sangat kecil. “Dari hasil skrining yang kita lakukan, angkanya masih kecil sekali. Untuk orang dewasa bahkan masih di bawah 1 persen, sementara pada anak-anak sekitar 5 persen,” kata Budi, Senin 19 Januari.
Ia menegaskan, kecilnya angka tersebut bukan berarti masyarakat bebas dari gangguan kejiwaan. Banyak kasus belum teridentifikasi atau penderitanya belum berani mencari bantuan profesional.
Berdasarkan data dari World Health Organization, prevalensi gangguan jiwa secara global mencapai satu dari delapan hingga satu dari sepuluh orang. Jika dihitung dari jumlah penduduk Indonesia sekitar 280 juta jiwa, sedikitnya 28 juta orang berpotensi mengalami gangguan kesehatan mental.
Gangguan kesehatan mental umumnya menunjukkan gejala awal yang sebenarnya bisa dikenali sejak dini. Berikut beberapa tanda yang patut diperhatikan.
Perubahan pola tidur dan nafsu makan
Gangguan tidur seperti sulit tidur, sering terbangun, atau justru tidur berlebihan kerap berkaitan dengan masalah mental. Perubahan nafsu makan, baik kehilangan selera maupun makan berlebihan secara kompulsif, juga bisa menjadi indikator.
Mengutip informasi dari Mental Health Foundation, nutrisi yang buruk dapat memengaruhi fungsi otak, membuat pikiran terasa kabur, dan meningkatkan tekanan emosional.
Ledakan emosi dan sulit mengendalikan amarah
Luapan emosi berlebihan seperti marah tanpa sebab jelas, berteriak, menangis, hingga perilaku agresif patut diwaspadai. Kondisi ini bisa muncul pada gangguan kecemasan, depresi, hingga gangguan kontrol impuls. Pada anak-anak, gejalanya bisa berupa tantrum berlebihan, memukul, atau menggigit.
Kecemasan atau kemarahan berlebihan
Rasa cemas yang muncul terus-menerus dan mengganggu aktivitas sehari-hari merupakan tanda penting gangguan jiwa. Biasanya disertai rasa gelisah, tegang, mudah tersinggung, dan sulit berkonsentrasi. Pada anak, kecemasan sering terlihat dalam bentuk menarik diri atau menghindari interaksi sosial.
Perubahan emosi yang ekstrem
Perubahan suasana hati yang drastis dalam waktu singkat juga menjadi sinyal awal. Seseorang bisa sangat senang, lalu tiba-tiba marah atau sedih. Berdasarkan informasi dari Verywell Health, perubahan emosi ekstrem kerap muncul pada 40 hingga 60 persen kasus seperti depresi, gangguan kecemasan, hingga bipolar.
Kesedihan mendalam dan berkepanjangan
Perasaan hampa, putus asa, kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai merupakan ciri khas depresi. Pada kondisi berat, muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bunuh diri. Pada anak, gejala sering tampak sebagai mudah marah atau kehilangan minat bermain.
Gangguan konsentrasi dan pola pikir membingungkan
Gangguan mental juga memengaruhi cara berpikir. Kesulitan fokus, mudah lupa, hingga sulit membedakan kenyataan dengan imajinasi bisa terjadi pada gangguan kecemasan berat atau kondisi serius seperti skizofrenia.
Penurunan kinerja di sekolah atau tempat kerja
Kehilangan motivasi dan turunnya performa secara drastis sering menjadi tanda awal yang diabaikan. Pada anak dan remaja, hal ini terlihat dari penurunan nilai atau enggan bersekolah.
Menarik diri dari lingkungan sosial
Mengisolasi diri dari keluarga, teman, dan aktivitas sosial bisa menjadi indikasi gangguan mental. Individu biasanya tampak datar secara emosional dan kurang termotivasi menjalani aktivitas harian.
Perilaku melukai diri
Perilaku impulsif dan berisiko, termasuk menyakiti diri sendiri, merupakan tanda peringatan serius. Seseorang yang merasa sangat tertekan kerap menunjukkan rasa putus asa dan tidak berharga.
Deteksi dini sangat penting untuk mencegah gangguan berkembang menjadi kondisi yang lebih berat. Jika Anda atau orang terdekat mengalami perubahan perilaku drastis seperti di atas, segera mencari bantuan tenaga kesehatan profesional.
Referensi:
CNN Indonesia
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Kesehatan Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia kesehatan — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Dunia hiburan Indonesia berduka. Penyanyi Vidi Aldiano meninggal dunia setelah menjalani perjuangan panjang melawan kanker selama enam tahun. Kabar wafatnya...
Kebersihan perangkat rumah tangga sering kali kurang diperhatikan, termasuk mesin cuci. Banyak orang menganggap alat ini tidak perlu dibersihkan karena...