Blokade Laut AS ke Iran Berlanjut, Setiap Kapal Dipantau Ketat
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah militer AS menegaskan akan terus memberlakukan blokade maritim di wilayah pelabuhan...
Read more
Perkembangan baru muncul dalam dinamika politik Timur Tengah. Suriah kini mulai menunjukkan sinyal membuka dialog dengan Israel, mengikuti jejak sejumlah negara Arab lain yang lebih dulu menjalin hubungan dengan negara tersebut.
Selama ini, Suriah dikenal sebagai salah satu negara yang belum memiliki hubungan diplomatik formal dengan Israel. Namun, perubahan mulai terlihat di bawah kepemimpinan Presiden Ahmed Al Sharaa.
Menurut pernyataan yang disampaikan dalam forum diplomatik di Antalya, Turki, Presiden Al Sharaa mengungkapkan bahwa pihaknya tengah mempertimbangkan negosiasi jangka panjang dengan Israel. Fokus utama pembahasan adalah terkait Dataran Tinggi Golan, wilayah strategis yang hingga kini masih berada di bawah kendali Israel.
“Jika kita mencapai kesepakatan, kita bisa memasuki negosiasi jangka panjang untuk menyelesaikan masalah Dataran Tinggi Golan yang diduduki,” kata Ahmed Al Sharaa.
Berdasarkan informasi dari forum tersebut, Suriah juga ingin membentuk aturan baru yang dapat mengaktifkan kembali perjanjian pemisahan pasukan atau bahkan menyusun kesepakatan baru yang menjamin keamanan kedua pihak.
Langkah ini muncul setelah perubahan kepemimpinan di Suriah pasca jatuhnya Bashar Al Assad pada Desember 2024. Sejak saat itu, dinamika hubungan Suriah dengan Israel mengalami pergeseran signifikan.
Dataran Tinggi Golan menjadi sumber konflik utama antara Suriah dan Israel selama puluhan tahun. Wilayah tersebut direbut Israel dalam Perang Arab Israel 1967 dan hingga kini masih menjadi sengketa internasional.
Menurut data dari berbagai sumber internasional, Israel bahkan telah mencaplok sebagian wilayah tersebut dan menempatkan pasukan di zona penyangga yang dipantau Perserikatan Bangsa Bangsa.
Presiden Al Sharaa menilai bahwa Israel telah melanggar perjanjian penarikan pasukan yang disepakati pada tahun 1974. Oleh karena itu, Suriah mendorong adanya kesepakatan baru yang dapat menjamin stabilitas kawasan.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Suriah Asaad Al Shaibani sebelumnya juga menyebut bahwa negosiasi awal telah berlangsung. Namun, pembahasan tersebut belum mencakup isu utama terkait Dataran Tinggi Golan.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara konsisten menyatakan bahwa negaranya tidak berniat mengembalikan wilayah Golan kepada Suriah. Hal ini menunjukkan bahwa proses negosiasi ke depan kemungkinan akan berjalan kompleks.
Langkah Suriah membuka dialog ini sejalan dengan tren normalisasi hubungan antara Israel dan sejumlah negara Arab melalui Abraham Accord. Sebelumnya, negara seperti Mesir, Yordania, Uni Emirat Arab, Maroko, dan Sudan telah lebih dulu menjalin hubungan diplomatik dengan Israel.
Perubahan sikap Suriah ini dinilai sebagai sinyal penting dalam peta geopolitik Timur Tengah. Upaya dialog yang mulai dibuka berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan, meski tantangan besar masih menghadang dalam proses negosiasi ke depan.
Referensi:
CNN Indonesia
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉
Kumpulan Artikel dan Berita Internasional Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia internasional — semua ada di sana!Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Sebuah toko frozen food di kawasan Legok mengalami kerugian besar setelah kepercayaan pemilik toko dimanfaatkan oleh pelanggan lama yang ternyata...
Perubahan usia tidak hanya berdampak pada kondisi fisik, tetapi juga memengaruhi pola tidur. Banyak orang mulai merasakan bahwa semakin bertambah...