Iran Ajukan Proposal Gencatan Senjata Baru ke AS Lewat Pakistan
Iran kembali mengambil langkah diplomatik dengan mengirimkan proposal gencatan senjata terbaru kepada Amerika Serikat melalui Pakistan sebagai mediator. Langkah ini...
Read more
Peta politik Israel kembali memanas menjelang pemilihan umum yang dijadwalkan berlangsung akhir tahun ini. Dua mantan perdana menteri, Naftali Bennett dan Yair Lapid, resmi mengumumkan rencana pembentukan koalisi baru untuk menantang dominasi Perdana Menteri saat ini, Benjamin Netanyahu.
Berdasarkan laporan dari Reuters, kedua tokoh tersebut sepakat untuk menggabungkan kekuatan politik mereka dalam satu wadah baru bernama Together. Koalisi ini akan dipimpin oleh Bennett, yang dikenal memiliki latar belakang politik sayap kanan, sementara Lapid berasal dari spektrum politik tengah melalui Partai Yesh Atid.
Dalam konferensi pers bersama, Lapid menegaskan tujuan utama pembentukan koalisi tersebut. “Kita berdiri di sini bersama demi anak-anak kita. Negara Israel harus mengubah arah,” kata Lapid.
Bennett juga menyampaikan pesan serupa dengan menekankan perlunya perubahan kepemimpinan di Israel. “Setelah 30 tahun, sudah saatnya berpisah dengan Netanyahu dan membuka babak baru bagi Israel,” ujarnya.
Koalisi Bennett dan Lapid bukanlah hal baru dalam politik Israel. Keduanya pernah bekerja sama pada 2021 dengan menggandeng partai Arab Raam atau United Arab List yang dipimpin Mansour Abbas. Saat itu, mereka berhasil membentuk pemerintahan koalisi.
Namun, pemerintahan tersebut hanya bertahan kurang dari 18 bulan. Perbedaan pandangan, terutama terkait isu Palestina, menjadi penyebab utama keretakan koalisi.
Menanggapi langkah politik terbaru ini, Netanyahu terlihat tidak terlalu khawatir. Ia bahkan mengingatkan publik bahwa Bennett dan Lapid pernah bekerja sama sebelumnya dan kemungkinan akan mengulang pola yang sama.
“Mereka pernah melakukannya sekali, mereka akan melakukannya lagi,” kata Netanyahu melalui unggahan di Telegram.
Selama puluhan tahun, Netanyahu dikenal sebagai salah satu tokoh politik paling kuat di Israel. Sejak pertama kali menjabat pada era 1990-an, ia kerap menjadi figur sentral yang sulit dikalahkan dalam pemilu.
Pada pemilu 2022, Netanyahu berhasil membentuk pemerintahan yang disebut sebagai pemerintahan paling kanan dalam sejarah Israel. Koalisi tersebut tetap bertahan meski dihadapkan pada berbagai isu domestik dan internasional.
Namun, posisinya mulai mengalami tekanan setelah serangan Hamas pada Oktober 2023 yang memicu konflik besar dengan Palestina.
Berdasarkan data dari Times of Israel pada 19 Maret, partai Likud yang dipimpin Netanyahu diperkirakan meraih 28 kursi di parlemen dari total 120 kursi, turun dari 34 kursi sebelumnya. Meski tetap menjadi partai terbesar, jumlah tersebut belum cukup untuk membentuk mayoritas pemerintahan.
Sementara itu, survei lain dari N12 News Israel menunjukkan Partai Yesh Atid milik Lapid mengalami penurunan signifikan dengan hanya meraih tujuh kursi dari sebelumnya 24 kursi.
Namun, koalisi baru yang digagas Bennett dan Lapid diprediksi mampu meraih hingga 60 kursi jika berhasil menggabungkan sejumlah faksi kecil lainnya.
Hal ini membuka peluang terbentuknya kekuatan baru yang dapat menyaingi dominasi Netanyahu dalam pemilu mendatang.
Referensi:
CNNIndonesia
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman ๐ Kumpulan Artikel dan Berita Internasional Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia internasional โ semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
๐ฑ Saluran Trenmedia ๐ณ Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang โ update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Kabar baik datang bagi pengguna komputer, mulai dari gamer hingga perakit PC. Harga RAM di pasaran akhirnya menunjukkan tren penurunan,...
Kabar penting bagi para pecinta game di Tanah Air. Harga PlayStation 5 atau PS5 dipastikan mengalami kenaikan yang cukup signifikan...