Terungkap Alasan Kenapa Semakin Tua Semakin Sulit Tidur Nyenyak
Perubahan usia tidak hanya berdampak pada kondisi fisik, tetapi juga memengaruhi pola tidur. Banyak orang mulai merasakan bahwa semakin bertambah...
Read more
Tren diet Switch-On dari Korea Selatan kini ramai diperbincangkan karena diklaim mampu menurunkan lemak tubuh hanya dalam beberapa minggu tanpa mengorbankan massa otot. Berdasarkan keterangan dari seorang spesialis obesitas Korea Selatan, Dr Park Yong-woo, pola diet ini dirancang untuk mengaktifkan kembali metabolisme tubuh melalui kombinasi minuman protein, puasa terkontrol, serta penghindaran makanan cepat saji dan bahan olahan.
Menurut keterangan yang beredar, banyak pelaku diet ini mengaku mampu menurunkan berat badan sekitar 4 hingga 4,5 kilogram dalam waktu empat minggu. Menariknya, mereka juga menyebut tidak mengalami rasa lemas yang biasanya muncul pada program diet ekstrem. Hal ini membuat diet Switch-On semakin viral di media sosial.
Inti dari diet Switch-On adalah membantu tubuh beralih dari pembakaran karbohidrat menjadi pembakaran lemak tanpa mengurangi massa otot. Menurut Dr Park Yong-woo, konsep ini diterapkan melalui kombinasi asupan protein tinggi, pengaturan pola makan, intermittent fasting, serta disiplin olahraga ringan hingga sedang.
Selama menjalani diet Switch-On, pelaku dianjurkan untuk menghentikan konsumsi gula, alkohol, kafein, tepung, dan makanan olahan. Asupan makanan difokuskan pada sumber protein berkualitas, seperti ayam, ikan, telur, tahu, kacang-kacangan, serta sayuran tinggi serat. Asupan cairan minimal dua liter per hari juga sangat dianjurkan, termasuk probiotik untuk menjaga kesehatan pencernaan, tidur setidaknya enam jam per malam, serta olahraga ringan secara teratur.
Program ini biasanya berlangsung selama beberapa minggu dengan tahapan tertentu. Pada minggu pertama, fokus utamanya adalah pembersihan sistem pencernaan. Menurut penjelasan Dr Park, pelaku diet dianjurkan mengonsumsi minuman protein hingga empat kali sehari disertai aktivitas jalan kaki. Mulai hari keempat, makan siang tinggi protein dan rendah karbohidrat diperbolehkan. Tahap ini diklaim membantu mengurangi rasa kembung dengan cepat.
Pada minggu kedua, pola puasa mulai diterapkan bersama pengurangan konsumsi minuman protein menjadi dua hingga tiga kali sehari. Makan malam tetap difokuskan tanpa karbohidrat. Di tahap ini mulai dikenalkan puasa 24 jam sebanyak satu kali. Sementara itu, kopi hitam sudah diperbolehkan dalam jumlah terbatas.
Memasuki minggu ketiga dan keempat, program diet masuk ke fase penuh. Puasa 24 jam dilakukan dua hingga tiga kali dalam seminggu. Makan siang tetap kaya protein, sedangkan makan malam lebih ringan. Setelah olahraga, karbohidrat sehat seperti ubi jalar, labu, tomat, atau pisang bisa dikonsumsi dalam porsi kecil. Menurut Dr Park, minuman protein dipilih sebagai penahan lapar agar pelaku diet tidak perlu menghitung kalori harian.
Tren ini semakin viral setelah banyak pengguna media sosial membagikan foto perubahan tubuh mereka. Berdasarkan laporan Times of India, ada testimoni yang menyebut penurunan berat badan hingga 4 kilogram hanya dalam enam hari, serta penurunan lemak sekitar 2 kilogram dalam empat minggu, sambil tetap merasa bertenaga.
Meski terdengar menjanjikan, diet Switch-On bukan tanpa risiko. Pengurangan drastis pada asupan kafein dan karbohidrat bisa memicu sakit kepala, perubahan suasana hati, hingga rasa lelah pada fase awal. Menurut sejumlah ahli gizi, puasa berkepanjangan juga tidak dianjurkan bagi penderita penyakit jantung, gangguan gula darah, atau kondisi medis tertentu.
Diet ini juga berpotensi membuat sebagian orang cepat bosan karena konsumsi minuman protein yang berulang. Selain itu, pembatasan kalori yang ekstrem dalam jangka panjang dikhawatirkan dapat memperlambat metabolisme dan menimbulkan kekurangan nutrisi bila tidak dilakukan dengan pengawasan tenaga medis.
Sampai saat ini, belum ada uji klinis berskala besar yang secara khusus membuktikan efektivitas jangka panjang diet Switch-On. Karena itu, bagi mereka yang sehat dan termotivasi, metode ini bisa menjadi cara untuk memperbaiki pola makan dan meningkatkan disiplin. Namun, sangat disarankan untuk tetap memulai secara bertahap, memantau kondisi tubuh, dan berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi sebelum mencoba.
Pada prinsipnya, penurunan berat badan yang aman tetap bertumpu pada gaya hidup seimbang, aktivitas fisik rutin, dan pengaturan asupan nutrisi sesuai kebutuhan tubuh masing-masing.
Referensi: DetikHealth
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Kesehatan Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia kesehatan — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Kasus dugaan pencurian terjadi di salah satu resort di kawasan Ubud, Bali. Seorang warga negara asing (WNA) asal India diduga...
Seorang pria berusia 39 tahun diamankan aparat kepolisian di wilayah Kalideres, Jakarta Barat, setelah diduga melakukan pelecehan terhadap tiga anak...