Pemerintah Indonesia menempatkan penguatan ketahanan pangan dan percepatan swasembada pangan sebagai salah satu prioritas utama dalam menghadapi tantangan ekonomi dunia yang terus berkembang. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas pasokan kebutuhan pokok nasional di tengah ketidakpastian rantai pasok global.
Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pengamanan sektor pangan menjadi fokus utama pemerintah. Dalam pembahasan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun Anggaran 2027, ia menekankan pentingnya kemampuan Indonesia memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri.
Menurut Prabowo, pengalaman berbagai krisis global menunjukkan bahwa negara-negara pengekspor dapat sewaktu-waktu membatasi atau menghentikan distribusi pangan ke pasar internasional. Kondisi tersebut menjadi alasan kuat bagi Indonesia untuk meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri sekaligus memperbesar cadangan pangan nasional.
Produksi dan Cadangan Pangan Meningkat
Informasi terbaru menunjukkan produksi pangan nasional mencapai tingkat tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Peningkatan tersebut turut berdampak pada bertambahnya volume cadangan pemerintah hingga membutuhkan kapasitas penyimpanan tambahan.
Prabowo menyebutkan bahwa stok pangan yang tersimpan di fasilitas pemerintah terus bertambah sehingga sebagian harus ditempatkan di gudang tambahan. Data per 10 Mei 2026 menunjukkan cadangan beras pemerintah telah melampaui 5,3 juta ton, meningkat signifikan dibandingkan posisi akhir 2025 yang berada di kisaran 3,25 juta ton.
Selain memperkuat ketersediaan pangan dalam negeri, sektor pertanian dan perkebunan juga memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian nasional. Indonesia tetap mempertahankan posisinya sebagai pengekspor minyak kelapa sawit terbesar di dunia dengan nilai ekspor mencapai US$23 miliar atau sekitar Rp374 triliun (asumsi kurs Rp16.260 per dolar AS) sepanjang 2025.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan peningkatan stok dan produksi menunjukkan adanya sinergi antara pemerintah dan pelaku sektor pertanian. Menurutnya, dukungan pemerintah dari proses produksi hingga penyerapan hasil panen menjadi faktor yang mendorong semangat petani.
Data Badan Pusat Statistik juga mencatat nilai ekspor sektor pertanian sepanjang tahun lalu mencapai Rp756,59 triliun. Sementara itu, nilai impor sektor pertanian berhasil ditekan hingga turun sekitar Rp41 triliun.
Di sisi lain, pemerintah terus memperkuat industri pendukung pertanian, termasuk sektor pupuk nasional. Indonesia bahkan telah melakukan ekspor perdana pupuk urea ke Australia sebagai bagian dari upaya memperluas pasar internasional.
Prabowo turut mengingatkan pentingnya pengawasan distribusi pupuk bersubsidi agar tidak terjadi penyalahgunaan maupun penyelewengan. Pemerintah juga telah menurunkan harga pupuk hingga 20 persen untuk membantu petani memperoleh sarana produksi dengan biaya yang lebih terjangkau serta menjaga produktivitas pertanian nasional.
Referensi:
CNN Indonesia