Fitur Skills Gemini Chrome Resmi Hadir, Simpan Prompt Jadi Lebih Praktis
Google kembali menghadirkan inovasi terbaru pada layanan kecerdasan buatan mereka dengan meluncurkan fitur Skills di Gemini yang terintegrasi langsung di...
Read more
Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini tidak lagi hanya dipakai untuk mencari informasi, belanja online, atau membantu pekerjaan harian. Di Indonesia, AI mulai memegang peran yang jauh lebih personal. Berdasarkan data dari Kaspersky, tiga dari sepuluh pengguna AI di Indonesia mengaku memilih berbicara dengan AI ketika merasa sedih atau sedang tidak bahagia.
Fenomena ini menunjukkan perubahan besar dalam cara masyarakat berinteraksi dengan teknologi. AI tidak lagi hanya dianggap sebagai alat bantu digital, tetapi juga teman curhat virtual, terutama di kalangan generasi muda. Banyak yang merasa AI selalu tersedia, cepat merespons, serta tidak menghakimi seperti halnya interaksi sosial di dunia nyata.
Menurut Kaspersky, minat terbesar datang dari kalangan Generasi Z dan milenial. Mereka sudah terbiasa hidup berdampingan dengan teknologi sehingga interaksi digital terasa lebih natural. Sementara itu, kelompok usia yang lebih tua menunjukkan minat jauh lebih rendah. Hanya sebagian kecil pengguna berusia di atas 55 tahun yang memilih AI sebagai tempat berbagi perasaan.
Kemampuan AI modern dalam memahami konteks percakapan membuatnya terasa semakin “manusiawi”. Model AI generatif kini mampu menyusun kalimat empatik, memberikan saran, hingga menenangkan pengguna. Hal ini membuat sebagian orang lebih nyaman berbicara dengan AI saat sedang tertekan atau kesepian.
Namun, para pakar mengingatkan bahwa curhat ke AI tidaklah sama dengan berbagi cerita kepada psikolog atau orang terdekat. Menurut Kaspersky, setiap percakapan dengan AI pada dasarnya bukan interaksi personal yang sepenuhnya aman. Banyak chatbot AI dimiliki oleh perusahaan komersial yang memiliki kebijakan penggunaan dan pengolahan data sendiri.
Vladislav Tushkanov, Manajer Grup di Kaspersky AI Technology Research Center, menjelaskan bahwa AI belajar dari data dalam jumlah besar yang sebagian besar berasal dari internet. “AI belajar dari data, sebagian besar berasal dari internet. Artinya, ia bisa mengulang bias, kesalahan, dan asumsi yang keliru. Pengguna perlu bersikap kritis dan tidak menganggap AI sebagai pengganti manusia,” kata Vladislav Tushkanov.
Di balik interaksi yang terlihat aman, percakapan emosional dengan AI berpotensi digunakan untuk berbagai kepentingan, seperti:
Menganalisis kondisi psikologis pengguna
Menyusun profil perilaku digital
Menargetkan iklan secara agresif
Manipulasi berbasis data emosi
Dalam kondisi terburuk, data ini bisa disalahgunakan untuk phishing, penipuan berbasis emosi, pemerasan digital, hingga penyalahgunaan identitas. Risiko meningkat apabila pengguna membagikan detail sensitif seperti identitas, informasi keluarga, alamat, atau masalah pribadi yang sangat detail.
Pakar juga menegaskan bahwa informasi yang dibagikan ke AI berpotensi tersimpan di server pihak ketiga. Di sinilah letak ancaman privasi yang kerap tidak disadari pengguna.
Walaupun berisiko, penggunaan AI bukan berarti harus dihindari sepenuhnya. Menurut Kaspersky, ada beberapa langkah penting agar tetap aman saat menggunakan AI untuk keperluan personal:
Pertama, jangan pernah membagikan informasi sensitif seperti identitas pribadi, alamat, data keuangan, atau detail keluarga.
Kedua, perlakukan percakapan dengan AI seperti unggahan di media sosial, bukan ruang rahasia.
Ketiga, biasakan membaca kebijakan privasi dan pahami bagaimana data digunakan.
Keempat, gunakan layanan AI yang jelas asal-usulnya dan dioperasikan oleh penyedia tepercaya.
Kelima, lindungi perangkat dengan solusi keamanan digital untuk mencegah phishing atau tautan berbahaya.
Langkah-langkah ini penting agar pengguna tetap bisa memanfaatkan teknologi AI secara bijak, aman, dan bertanggung jawab.
Di saat yang sama, pakar mengingatkan bahwa AI tidak dapat menggantikan peran manusia sepenuhnya, terutama dalam hal dukungan emosional. Interaksi sosial nyata, berbicara dengan keluarga, teman, atau tenaga profesional seperti psikolog tetap menjadi pilihan terbaik apabila seseorang mengalami gangguan mental atau tekanan emosional yang berat.
Referensi: DetikInet
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Internet Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia internet — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Tim SAR gabungan akhirnya berhasil menemukan puing helikopter PK-CFX milik PT Matthew Air setelah melakukan pencarian intensif di wilayah Kabupaten...
Sebuah rekaman video memperlihatkan dua sejoli diduga bermesraan di dalam kedai Es Teh Indonesia cabang Kibin, dan menjadi perbincangan di...