Gencatan Hampir Usai Iran Siapkan Strategi Baru di Medan Perang
Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat jelang berakhirnya gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat. Pemerintah Iran menegaskan siap...
Read more
Puluhan negara industri memutuskan untuk melepas cadangan minyak strategis terbesar dalam sejarah sebagai respons terhadap gangguan pasokan energi global. Langkah ini diambil setelah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah yang berdampak langsung pada jalur distribusi minyak dunia.
Menurut Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA), sebanyak 400 juta barel minyak akan dilepas ke pasar global guna mengimbangi potensi kekurangan pasokan. Kebijakan tersebut diambil setelah Iran mengancam akan memblokade Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia.
Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol menyampaikan bahwa keputusan tersebut merupakan hasil kesepakatan bersama dari negara negara anggota lembaga tersebut.
” Skala tantangan yang kita hadapi di pasar minyak benar benar belum pernah terjadi. Karena itu, saya sangat senang negara negara anggota IEA merespons dengan langkah darurat kolektif yang juga belum pernah dilakukan sebelumnya,” kata Fatih Birol, Direktur Eksekutif IEA.
IEA sendiri merupakan organisasi internasional yang mengoordinasikan kebijakan energi serta pengelolaan cadangan minyak strategis milik 32 negara industri di kawasan Eropa, Amerika Utara, dan Asia Pasifik.
Menurut data dari IEA, jumlah 400 juta barel minyak setara dengan sekitar empat hari konsumsi minyak global, atau volume yang biasanya melewati Selat Hormuz selama kurang lebih 20 hari dalam kondisi normal.
Ketegangan di Selat Hormuz menjadi pemicu utama krisis energi saat ini. Jalur laut tersebut selama ini menjadi titik penting dalam perdagangan minyak dunia karena lebih dari 20 persen pasokan minyak global melewati wilayah tersebut.
Blokade yang diumumkan Iran terjadi setelah konflik militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memanas sejak akhir Februari. Serangkaian serangan terhadap kapal di kawasan tersebut semakin memperburuk situasi.
Dalam beberapa hari terakhir, setidaknya tiga kapal diserang di sekitar Selat Hormuz. Salah satunya adalah kapal kargo berbendera Thailand bernama Mayuree Naree yang terbakar setelah terkena serangan di perairan dekat Oman.
Menurut otoritas maritim Thailand, serangan tersebut memicu kebakaran di atas kapal dan menyebabkan beberapa awak mengalami luka luka. Angkatan Laut Oman kemudian dikerahkan untuk melakukan evakuasi terhadap seluruh awak kapal yang berjumlah 20 orang.
Tidak hanya di Selat Hormuz, serangan juga dilaporkan terjadi di wilayah Irak. Menurut keterangan militer Irak, dua kapal tanker minyak asing menjadi target sabotase di Pelabuhan Al Faw.
” Dua kapal tanker menjadi sasaran tindakan sabotase pengecut,” kata Letnan Jenderal Saad Maan, juru bicara militer Irak.
Ia menambahkan bahwa insiden tersebut terjadi di perairan teritorial Irak dan dinilai sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan negara tersebut.
Ketegangan ini memicu lonjakan harga minyak dunia. Pada awal perdagangan di pasar Asia, minyak jenis Brent sempat melonjak lebih dari sembilan persen dan melampaui US$100 per barel atau sekitar Rp1.550.000 per barel jika dikonversi dengan asumsi kurs Rp15.500 per dolar AS.
Namun harga tersebut kemudian terkoreksi dan berada di kisaran US$97,50 per barel atau sekitar Rp1.511.250.
Sebelum konflik meningkat pada akhir Februari, harga minyak global masih berada di kisaran US$60 per barel karena pasokan yang relatif melimpah.
Selain pelepasan cadangan oleh negara anggota IEA, pemerintah Amerika Serikat juga mengumumkan rencana melepas 172 juta barel minyak dari cadangan darurat nasionalnya sebagai bagian dari langkah internasional untuk menekan harga energi.
Distribusi cadangan minyak tersebut diperkirakan akan dimulai pada pekan depan dan berlangsung selama sekitar 120 hari.
Di sisi lain, sejumlah negara produsen minyak di Timur Tengah mulai menyiapkan strategi alternatif untuk menjaga kelancaran pasokan energi. Arab Saudi misalnya meningkatkan pengiriman minyak melalui jaringan pipa EastWest Pipeline yang menghubungkan ladang minyak di Teluk Persia dengan terminal ekspor di Laut Merah.
CEO perusahaan energi raksasa Aramco, Amin Nasser, menyebut situasi saat ini sebagai salah satu krisis terbesar yang pernah dihadapi industri minyak dan gas di kawasan tersebut.
Sementara itu, negara negara produsen lain seperti Uni Emirat Arab juga memanfaatkan jaringan pipa alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada jalur Selat Hormuz.
Meski demikian, kapasitas jaringan pipa alternatif tersebut dinilai masih belum cukup untuk sepenuhnya menggantikan volume minyak yang biasanya melewati Selat Hormuz setiap harinya.
Referensi:
Detik
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Internasional Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia internasional — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Aksi tawuran antar kelompok gengster kembali terjadi di kawasan Kebon Harjo, Kecamatan Semarang Utara, pada Selasa (21/04/2026) sekitar pukul 03.00...
Seorang pengelola arisan berinisial NNS (31) alias Saska J menjadi sorotan setelah diduga terlibat kasus penipuan dengan nilai mencapai miliaran...