Sejarah Kiswah Ka’bah, Ternyata Tidak Selalu Berwarna Hitam
Ka'bah di Mekkah, Arab Saudi, menjadi pusat ibadah umat Islam di seluruh dunia. Bangunan berbentuk kubus ini diselimuti kain khusus...
Read more
Pemerintah Israel mengancam akan melanjutkan operasi militernya di Jalur Gaza setelah menerima sembilan dari total 28 sandera yang tewas. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan bahwa perjanjian gencatan senjata menuntut Hamas menyerahkan semua sandera, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal, serta menanggalkan seluruh persenjataannya.
“Jika Hamas menolak mematuhi kesepakatan tersebut, Israel akan melanjutkan pertempuran di Jalur Gaza,” ujar Israel Katz dalam pernyataannya. Menurut dia, Israel telah menyiapkan rencana militer menyeluruh untuk menghadapi kemungkinan pelanggaran kesepakatan itu.
Pada Rabu (15/10), Hamas menyerahkan dua jenazah sandera yang tewas dan menyebut bahwa itulah sisa jasad yang masih dapat dijangkau. Militer Israel kemudian memastikan identitas kedua jenazah tersebut sebagai seorang pria dan seorang perempuan warga Israel.
Hamas menjelaskan bahwa proses evakuasi jasad yang tersisa membutuhkan peralatan khusus dan upaya besar mengingat situasi medan yang rusak akibat perang berkepanjangan. Sebelumnya, pada Senin (13/10), kelompok itu juga telah menyerahkan 20 sandera yang masih hidup.
Bagian pertama dari rencana perdamaian 20 poin yang diajukan Presiden AS Donald Trump mencakup gencatan senjata di Gaza serta penyerahan seluruh sandera dari tangan Hamas.
Menurut dua penasihat tinggi di Washington, Amerika Serikat yakin Hamas akan mematuhi kewajibannya dalam perjanjian gencatan senjata. Melalui mediatornya, Hamas menyatakan berkomitmen untuk mencari dan menyerahkan semua jenazah sandera yang tersisa.
Namun, proses pencarian tidak mudah. Banyak jasad diyakini terkubur di bawah reruntuhan bangunan atau di dalam terowongan. “Situasi ini sangat rumit, kami terus memantau hingga semua sandera kembali,” kata salah satu penasihat tinggi AS.
Sementara itu, Hamas menuduh Israel melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan menewaskan sedikitnya 24 orang dalam penembakan sejak Jumat (10/10). Daftar dugaan pelanggaran tersebut telah diserahkan kepada mediator.
Pejabat militer Israel tidak memberikan tanggapan langsung, tetapi menyebut beberapa warga Palestina mendekati area yang dilarang dan dianggap mengancam posisi pasukan.
Di sisi lain, Komite Internasional Palang Merah (ICRC) memperingatkan adanya potensi pelanggaran gencatan senjata di Gaza. Presiden ICRC, Mirjana Spoljaric Egger, mengatakan bahwa kondisi di Gaza saat ini sangat rawan dan memprihatinkan.
“Tingkat penderitaan dalam dua tahun terakhir melebihi apa pun yang kita lihat selama beberapa dekade terakhir,” kata Egger kepada televisi Jerman. Ia menambahkan, jika pertempuran kembali pecah, kemungkinan Gaza pulih akan sangat kecil.
Egger juga menggambarkan bahwa Gaza kini berada dalam reruntuhan, tanpa infrastruktur dasar dan fasilitas publik yang layak. “Hampir tidak ada bangunan yang masih utuh, dan bantuan kemanusiaan besar dibutuhkan sebelum bisa memikirkan pembangunan kembali,” ujarnya.
ICRC menyerukan komunitas internasional untuk meningkatkan bantuan kemanusiaan bagi warga Gaza. Egger menegaskan, biaya operasi meningkat sementara anggaran organisasi terus menurun. “Tanpa dana yang cukup, kami tidak bisa melanjutkan pekerjaan kami,” katanya.
Referensi: Detik.
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Internasional Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia internasional — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Perilaku manipulatif sering muncul secara halus dan sulit dikenali, bahkan dalam hubungan sehari hari. Tanpa disadari, seseorang bisa terjebak dalam...
Menjaga kesehatan tubuh tidak cukup dilakukan hanya pada momen tertentu, tetapi perlu menjadi kebiasaan sehari-hari. Perubahan pola makan, aktivitas fisik...