Tren AI Video Marketing untuk UMKM yang Semakin Populer di Indonesia
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) terus menghadirkan perubahan besar dalam dunia pemasaran digital. Salah satu tren yang...
Read more
Aplikasi video berbasis kecerdasan buatan (AI) buatan OpenAI, yaitu Sora, mencuri perhatian publik hanya beberapa hari setelah peluncurannya.
Dalam waktu kurang dari lima hari, Sora sudah menembus 1 juta unduhan di Amerika Serikat, sebuah capaian yang bahkan melampaui rekor awal ChatGPT.
Informasi ini dibagikan oleh Bill Peebles, Kepala Sora di OpenAI, melalui akun X resminya. Ia menyebut Sora mencapai angka unduhan fantastis itu lebih cepat dibanding ChatGPT, chatbot yang kini digunakan oleh lebih dari 800 juta pengguna aktif mingguan di seluruh dunia.
“Tim bekerja keras untuk mengimbangi pertumbuhan yang melonjak,” tulis Peebles, mengapresiasi antusiasme pengguna terhadap teknologi baru ini.
Sora hadir sebagai aplikasi video pendek berbasis teks. Pengguna cukup mengetikkan perintah (prompt), lalu sistem AI akan secara otomatis membuat video yang sesuai.
Menariknya, aplikasi ini gratis digunakan, namun masih bersifat undangan (invite only) dan hanya tersedia di perangkat iOS.
Walaupun terbatas, Sora langsung meroket ke posisi nomor satu di Apple App Store, menunjukkan betapa besar ketertarikan masyarakat terhadap konten kreatif berbasis AI.
Di tengah popularitasnya, Sora justru mendapat sorotan negatif terkait dugaan pelanggaran hak cipta.
Dikutip dari laporan CNBC, sejumlah video di platform tersebut menampilkan karakter dari serial terkenal seperti SpongeBob SquarePants, Rick and Morty, dan South Park.
Hal ini memicu reaksi keras dari Motion Picture Association (MPA), lembaga yang mewakili industri film, televisi, dan video rumahan.
“OpenAI perlu mengambil tindakan segera dan tegas untuk mengatasi masalah ini. Hukum hak cipta yang mapan melindungi hak-hak kreator dan berlaku di sini,” ujar Charles Rivkin, CEO MPA.
MPA menilai, meski AI membawa inovasi besar, tetap harus ada batasan etika dan perlindungan hukum untuk menjaga hak-hak kreator asli.
Menanggapi isu tersebut, Sam Altman, CEO OpenAI, menyampaikan bahwa pihaknya akan memberi pemegang hak cipta kendali lebih besar atas karakter dan karya yang muncul di Sora.
“Mohon beri kami sedikit kelonggaran,” kata Altman. Ia menjelaskan, timnya sedang menyempurnakan kebijakan agar teknologi AI tetap bisa digunakan secara aman, etis, dan tidak merugikan kreator.
Altman menegaskan bahwa tujuan utama OpenAI adalah memberdayakan kreativitas manusia, bukan menggantikannya.
Fenomena Sora menegaskan bahwa AI generatif kini semakin diminati masyarakat. Namun, di balik inovasinya yang menakjubkan, terselip tantangan besar dalam menjaga etika, hak cipta, dan keadilan bagi kreator.
OpenAI diharapkan mampu menemukan titik keseimbangan antara kebebasan berkreasi dengan tanggung jawab hukum, agar teknologi AI seperti Sora bisa terus berkembang tanpa menimbulkan konflik di industri kreatif global.
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉
Kumpulan Artikel dan Berita Internet Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia internet — semua ada di sana!Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan setelah hasil survei terbaru menunjukkan kebijakan tersebut merupakan program pemerintah yang paling...
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) resmi mengesahkan Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 mengenai Pengembangan dan Penguatan Sektor...