Mungkin Ini Pintu Rezeki yang Kamu Abaikan Selama Ini
Rezeki bukan hanya soal bekerja lebih keras. Ada banyak orang yang siang malam bekerja tanpa kenal lelah, tetapi hidupnya tetap...
Read more
Fenomena Rashdul Kiblat kembali dapat dimanfaatkan masyarakat Indonesia untuk memastikan arah kiblat secara lebih akurat. Peristiwa astronomi yang terjadi ketika Matahari berada tepat di atas Ka’bah ini berlangsung pada pertengahan Juli 2026 dan menjadi salah satu metode sederhana yang telah lama digunakan untuk melakukan kalibrasi arah kiblat.
Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena tersebut berlangsung pada 15 hingga 17 Juli 2026. Puncak pengamatan untuk wilayah Indonesia bagian barat dan sebagian Indonesia tengah terjadi pada 16 Juli 2026 pukul 16.27 WIB atau 17.27 WITA.
Pada waktu tersebut, bayangan benda yang berdiri tegak akan mengarah tepat menuju Ka’bah sehingga dapat dijadikan acuan dalam menentukan arah kiblat tanpa memerlukan alat khusus.
Menurut BMKG, proses kalibrasi arah kiblat dapat dilakukan menggunakan peralatan sederhana yang mudah ditemukan di rumah. Masyarakat cukup menyiapkan tongkat, tiang, atau benda lain yang benar-benar berdiri tegak di atas permukaan datar.
Selain itu, waktu pengamatan harus disesuaikan dengan jam resmi BMKG agar hasilnya tetap akurat. Pengamat juga dianjurkan memilih lokasi yang mendapat sinar Matahari secara langsung tanpa terhalang bangunan maupun pepohonan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum melakukan pengukuran antara lain:
Saat Matahari mencapai posisi tepat di atas Ka’bah, amati bayangan yang terbentuk. Garis yang ditarik dari ujung bayangan menuju posisi tongkat merupakan arah kiblat yang dapat dijadikan acuan.
Berdasarkan penjelasan BMKG, ketepatan waktu menjadi faktor penting karena posisi Matahari berubah sangat cepat. Perbedaan waktu beberapa menit saja dapat memengaruhi hasil pengukuran.
Kalibrasi arah kiblat bukan berarti arah kiblat selalu berubah, melainkan untuk memastikan posisi yang digunakan selama ini tetap sesuai dengan arah Ka’bah.
Dalam praktiknya, beberapa bangunan dapat mengalami renovasi, perubahan tata ruang, atau kesalahan saat pengukuran awal sehingga perlu dilakukan pengecekan ulang. Fenomena Rashdul Kiblat menjadi kesempatan yang sangat baik karena tidak memerlukan perangkat pengukur profesional.
Menurut informasi dari BMKG, metode ini berlaku untuk wilayah Indonesia bagian barat serta sebagian wilayah Indonesia tengah yang masih mendapatkan sinar Matahari pada waktu pengamatan.
Sementara itu, wilayah Indonesia bagian timur memiliki metode pengamatan berbeda melalui fenomena Matahari berada di titik antipoda Ka’bah yang berlangsung pada waktu lain dalam setahun.
Fenomena astronomi ini rutin terjadi dua kali setiap tahun dan telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat maupun pengelola masjid untuk memastikan kembali arah kiblat dengan lebih presisi.
Bagi masyarakat yang ingin melakukan pengecekan, pengamatan sebaiknya dilakukan tepat pada waktu yang telah ditentukan serta mengikuti panduan resmi BMKG agar hasil kalibrasi dapat digunakan sebagai acuan.
View this post on Instagram
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉
Kumpulan Artikel dan Berita Ibadah Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia ibadah — semua ada di sana!Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Fenomena Rashdul Kiblat kembali dapat dimanfaatkan masyarakat Indonesia untuk memastikan arah kiblat secara lebih akurat. Peristiwa astronomi yang terjadi ketika...
Paruh kedua tahun 2026 menjadi momen yang dinantikan penggemar drama China. Sejumlah serial baru dari berbagai genre dipastikan hadir dengan...