Nafkah untuk Keluarga: Pengeluaran yang Berubah Menjadi Pahala
Bekerja Mencari Nafkah Bukan Sekadar Urusan Dunia Banyak orang setiap hari berangkat bekerja sejak pagi hingga petang. Mereka menghabiskan tenaga,...
Read more
Di zaman modern, banyak perbuatan yang dahulu jelas-jelas dianggap salah kini sering dibungkus dengan istilah yang lebih menarik, lebih modern, bahkan terdengar profesional.
Nama diubah.
Istilah diperhalus.
Kemasan diperindah.
Namun pertanyaannya, apakah perubahan nama bisa mengubah hakikat sebuah perbuatan di sisi Allah?
Jawabannya tentu tidak.
Dalam Islam, kebenaran dan kebatilan tidak ditentukan oleh istilah yang digunakan manusia, melainkan oleh hukum Allah dan Rasul-Nya.
Karena itu, seorang muslim dituntut untuk melihat hakikat suatu perbuatan, bukan sekadar nama yang diberikan kepadanya.
Sejak dahulu para ulama telah mengingatkan bahwa salah satu fitnah akhir zaman adalah ketika manusia mulai mengganti nama-nama kemaksiatan agar terlihat lebih dapat diterima.
Sesuatu yang haram diberi nama baru.
Perbuatan dosa dikemas dengan istilah modern.
Akibatnya, sebagian orang tidak lagi merasa bersalah ketika melakukannya.
Padahal hakikatnya tetap sama.
Yang haram tetap haram.
Yang halal tetap halal.
Perubahan istilah tidak mampu mengubah hukum Allah.
Salah satu contoh yang sering dibahas para ulama adalah praktik riba.
Dalam kehidupan modern, riba sering dibungkus dengan berbagai istilah bisnis dan keuangan yang terdengar lebih menarik.
Sebagian orang bahkan menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa karena sudah menjadi bagian dari sistem ekonomi.
Padahal Allah memberikan peringatan yang sangat keras terhadap praktik riba.
Islam mengajarkan bahwa keberkahan harta tidak hanya diukur dari jumlahnya, tetapi juga dari cara memperolehnya.
Harta yang banyak belum tentu membawa ketenangan jika diperoleh melalui jalan yang dilarang Allah.
Dalam berbagai budaya, minuman keras sering diberi nama yang elegan dan terkesan mewah.
Ada yang dikaitkan dengan gaya hidup modern.
Ada yang dianggap simbol pergaulan kelas atas.
Namun Rasulullah ﷺ telah menjelaskan bahwa segala sesuatu yang memabukkan hukumnya haram.
Yang menjadi ukuran bukan nama minumannya, melainkan efek dan hakikatnya.
Jika memabukkan dan menghilangkan akal sehat, maka hukumnya tetap sama meskipun diberi nama yang berbeda.
Di era media sosial, banyak perilaku yang bertentangan dengan syariat justru dipromosikan sebagai bagian dari gaya hidup.
Hubungan yang tidak sesuai syariat dianggap biasa.
Pergaulan bebas dipandang sebagai kebebasan pribadi.
Padahal Islam menjaga kehormatan manusia dengan menetapkan batasan-batasan yang jelas.
Batasan tersebut bukan untuk menyulitkan, tetapi untuk melindungi manusia dari kerusakan yang lebih besar.
Salah satu dampak paling berbahaya dari perubahan istilah adalah hilangnya rasa bersalah.
Ketika dosa terus-menerus diberi nama yang indah, manusia perlahan mulai menganggapnya sebagai sesuatu yang normal.
Awalnya merasa bersalah.
Lama-kelamaan menjadi biasa.
Kemudian membela perbuatannya.
Bahkan mengajak orang lain melakukannya.
Padahal Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa salah satu tanda buruknya hati adalah ketika seseorang tidak lagi merasa berdosa saat bermaksiat.
Dalam kehidupan modern, opini manusia sering berubah-ubah.
Apa yang dianggap salah hari ini bisa dianggap benar esok hari.
Apa yang dianggap tabu dulu bisa menjadi tren sekarang.
Namun hukum Allah tidak berubah mengikuti perkembangan zaman.
Kebenaran tetaplah kebenaran.
Dan kebatilan tetaplah kebatilan.
Seorang muslim diperintahkan untuk menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai standar penilaian, bukan sekadar mengikuti arus masyarakat.
Pesan ini tidak seharusnya dijadikan alat untuk merendahkan atau menghakimi orang lain.
Sebaliknya, ini menjadi bahan muhasabah bagi diri sendiri.
Karena setiap manusia memiliki dosa dan kekurangan.
Tugas kita bukan mencari-cari kesalahan orang lain, tetapi memperbaiki diri dan saling mengingatkan dengan cara yang baik.
Jika melihat kemungkaran, sampaikan dengan hikmah.
Jika melihat kesalahan, doakan agar Allah memberikan hidayah.
Karena semua manusia membutuhkan rahmat dan ampunan Allah.
Nama yang indah tidak akan mengubah hakikat sebuah perbuatan.
Yang menentukan halal dan haram bukanlah istilah yang dibuat manusia, melainkan ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Karena itu, jangan sampai kita tertipu oleh kemasan yang menarik dan istilah yang terdengar modern.
Lihatlah hakikatnya.
Timbanglah dengan Al-Qur’an dan Sunnah.
Dan mintalah kepada Allah agar selalu diberikan kemampuan untuk membedakan antara kebenaran dan kebatilan.
Semoga Allah menjaga hati kita dari fitnah zaman, menjauhkan kita dari kemaksiatan yang dinormalisasi, serta menjadikan kita hamba yang selalu mencari kebenaran dan mengikuti petunjuk-Nya.
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Ibadah Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia ibadah — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Kabar terbaru dari industri game menyebut bahwa peluncuran PlayStation 6 (PS6) kemungkinan tidak akan terjadi pada tahun 2027 seperti yang...
Kabar baik bagi pemilik kendaraan bermotor. Kini pembayaran pajak kendaraan bermotor (PKB) untuk perpanjangan STNK tahunan dapat dilakukan secara bertahap...