Psikolog Soroti Kasus Bunuh Diri Anak, Bukan Sekadar Soal Alat Tulis

Psikolog Anna Surti Ariani menegaskan keputusan bunuh diri anak tidak dipicu satu faktor. Literasi digital dan komunikasi orang tua jadi kunci. (Foto: Istimewa/jangkauindonesia.com)
Psikolog Anna Surti Ariani menegaskan keputusan bunuh diri anak tidak dipicu satu faktor. Literasi digital dan komunikasi orang tua jadi kunci. (Foto: Istimewa/jangkauindonesia.com)

Psikolog Anna Surti Ariani menegaskan keputusan bunuh diri anak tidak dipicu satu faktor

Kasus bunuh diri anak laki laki berusia 10 tahun di Kecamatan Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur NTT, memicu keprihatinan luas. Banyak pihak mempertanyakan faktor yang melatarbelakangi peristiwa tersebut, termasuk dugaan pengaruh media sosial.

Psikolog anak dan keluarga, Anna Surti Ariani S.Psi, M.Si, menegaskan bahwa keputusan bunuh diri pada anak tidak pernah disebabkan oleh satu faktor tunggal. Menurut Anna, yang akrab disapa Nina, persoalan ini jauh lebih kompleks.

“Masalahnya bukan hanya di sosmed-nya ya, tapi juga literasinya bagi yang mendapatkan sosmed itu,” kata Anna Surti Ariani dalam acara detikSore, Rabu 4 Februari 2026.

Menurut Nina, jika seorang anak sudah terpapar media sosial, maka orang tua memiliki tanggung jawab besar untuk mendampingi dan memberikan pemahaman. Anak perlu diberi penjelasan bahwa apa yang dilihat di media sosial belum tentu mencerminkan kenyataan yang sebenarnya.

“Kalau anak sudah sampai terpapar sosmed, artinya orang tua juga punya tanggung jawab untuk membuat anaknya paham bahwa apa yang dilihat di sosmed itu tidak selalu hal-hal yang sesungguhnya,” ujarnya.

Akumulasi Masalah Emosional dan Pentingnya Komunikasi

Nina menekankan bahwa media sosial hanyalah salah satu faktor. Keputusan untuk mengakhiri hidup, termasuk percobaan bunuh diri, biasanya merupakan hasil dari akumulasi persoalan yang tidak terselesaikan.

“Jadi yang perlu kita cermati adalah tidak mungkin penyebab bunuh diri itu hanya satu macam saja. Artinya tidak mungkin kalau hanya gara-gara faktor ekonomi, hanya karena ditolak alat sekolahnya kemudian seorang anak memutuskan bunuh diri,” kata Anna Surti Ariani.

Ia menjelaskan kemungkinan adanya tumpukan masalah lain, seperti perasaan tidak dihargai, pengalaman perundungan di sekolah, sering dianggap kurang, hingga merasa tidak diterima di lingkungannya.

Menurut Nina, orang tua memang tidak harus selalu memenuhi semua permintaan anak. Namun, cara menyampaikan penolakan atau keterbatasan ekonomi sangat menentukan dampaknya terhadap kondisi psikologis anak.

“Katakanlah orang tua tidak mampu membelikan sesuatu, maka janganlah menyampaikannya sambil marah-marah, jangan pula sambil nangis-nangis berlebihan,” katanya.

Cara komunikasi yang kurang tepat bisa membuat anak merasa bersalah atau bahkan menganggap dirinya sebagai beban keluarga. Dalam kondisi emosional yang rentan, perasaan tersebut dapat memperburuk keadaan.

Karena itu, Nina menegaskan pentingnya keterbukaan antara orang tua dan anak. Orang tua perlu memahami apa yang diakses, dibaca, dan dirasakan anak. Hal ini hanya bisa terwujud jika hubungan dibangun dengan komunikasi yang sehat dan penuh empati.

Isu kesehatan jiwa pada anak bukan perkara sepele. Berdasarkan berbagai literatur kesehatan mental, depresi pada anak dapat muncul dalam bentuk perubahan perilaku, menarik diri dari lingkungan, hingga penurunan minat pada aktivitas yang sebelumnya disukai.

Jika anak menunjukkan tanda tanda tersebut, orang tua dianjurkan segera mencari bantuan profesional seperti psikolog atau psikiater. Layanan konsultasi kesehatan jiwa juga tersedia secara daring, termasuk melalui laman Healing119.id.

Pendekatan yang komprehensif, mulai dari literasi digital, komunikasi efektif, hingga dukungan emosional yang konsisten, menjadi langkah penting dalam mencegah tragedi serupa.

Referensi:
DetikHealth

📚 ️Baca Juga Seputar Nasional

Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Nasional Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia nasional — semua ada di sana!

✍️ Ditulis oleh: Fadjri Adhi Putra & Fahmi Fahrulrozi
📌 Editor: Redaksi Tren Media

Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.

📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral

Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!

BERITATERKAIT

BERITATERBARU

INSTAGRAMFEED