Sibukkan Dirimu dengan Mengurus Diri Sendiri: Sebuah Nasihat untuk Introspeksi

Di era digital dan media sosial saat ini, batas antara ruang privat dan publik semakin kabur. Sangat mudah bagi kita untuk mengetahui, mengomentari, bahkan menghakimi urusan orang lain yang sejatinya bukan kapasitas kita. Melalui salah satu ceramahnya, Ustadz Syafiq Riza Basalamah memberikan sebuah tamparan keras sekaligus nasihat lembut bagi kita semua: Sibukkanlah dirimu dengan mengurus diri sendiri.

Sebuah pesan sederhana, namun memiliki makna yang sangat dalam terkait pertanggungjawaban kita di akhirat kelak.

Tanggung Jawab Mutlak atas Diri Sendiri

Dalam Islam, setiap jiwa akan dimintai pertanggungjawaban atas amalannya masing-masing. Pahala dari ibadah yang kita lakukan, murni bermanfaat untuk diri kita sendiri, bukan untuk Allah atau orang lain. Sebaliknya, dosa yang kita perbuat tidak akan bisa dibebankan kepada pundak orang lain.

Orang yang menyadari hal ini akan memfokuskan energinya untuk memperbaiki diri. Mereka akan hidup dengan tenang, damai, dan justru lebih dicintai oleh sesama karena tidak pernah ikut campur dalam urusan yang bukan haknya.

Bahaya Mencari Aib Orang Lain

Sering kali, orang yang sibuk mengomentari keburukan orang lain sebenarnya sedang berusaha menutupi kekurangan di dalam dirinya sendiri. Menggunjing (ghibah) atau mencari-cari kesalahan orang lain (tajassus) adalah penyakit hati yang sangat berbahaya.

Allah mengibaratkan perbuatan ghibah layaknya seseorang yang memakan daging saudaranya sendiri yang sudah mati. Sebuah perumpamaan menjijikkan agar kita menjauhi dosa ini.

Terdapat sebuah ancaman yang jelas: Barangsiapa yang gemar mencari-cari kesalahan dan membuka aib saudaranya, maka Allah akan membongkar aibnya sekalipun ia bersembunyi di dalam rumahnya sendiri. Sebaliknya, siapa yang menutupi aib saudaranya, Allah akan menjaga kehormatannya.

Baca Juga:  Jadwal Puasa Tasua dan Asyura 2026 Lengkap dengan Keutamaan dan Sejarahnya

Ancaman Menjadi Manusia yang “Bangkrut”

Salah satu poin paling krusial yang perlu kita sadari adalah ancaman menjadi orang yang Muflis (bangkrut) di hari kiamat.

Orang yang bangkrut di akhirat bukanlah mereka yang miskin harta, melainkan mereka yang datang membawa segunung pahala shalat, puasa, dan sedekah, namun lisannya sering menyakiti, mem-bully, atau menuduh orang lain. Di pengadilan Allah nanti, pahala ibadah orang tersebut akan diambil dan diberikan kepada orang-orang yang pernah ia sakiti. Jika pahalanya habis, maka dosa korbannya akan ditimpakan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke dalam neraka. Hal ini menjadi pengingat keras agar kita senantiasa menjaga lisan dan jari-jari kita di media sosial.

Pengecualian: Kapan Membicarakan Orang Lain Diperbolehkan?

Meski hukum asalnya haram, ada kondisi tertentu di mana membicarakan orang lain diperbolehkan, yaitu ketika maslahatnya (kebaikannya) jauh lebih besar.

Sebagai contoh, jika ada seseorang yang bertanya kepada Anda mengenai rekam jejak seorang pria yang hendak melamar anak perempuannya. Jika Anda tahu pria tersebut memiliki tabiat buruk atau pergaulan yang merusak, Anda wajib menyampaikannya untuk menyelamatkan sang wanita. Ini bukan dalam rangka menggunjing, melainkan memberikan peringatan yang hak.

Amar Ma’ruf Nahi Mungkar Tetap Wajib

Pesan “urus dirimu sendiri” sering disalahartikan sebagai sikap apatis atau acuh tak acuh terhadap lingkungan sekitar. Padahal, Islam tetap mewajibkan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar (mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran).

Baca Juga:  Terlihat Indah Sebelum Dimiliki, Terasa Biasa Setelah Didapatkan: Hakikat Kenikmatan Dunia

Jika kita melihat teman atau keluarga melakukan maksiat (seperti riba, minum keras, atau meninggalkan shalat), kita tidak boleh membiarkannya dengan dalih “mengurus diri sendiri”. Pembiaran terhadap dosa yang terjadi secara terang-terangan dapat mengundang azab Allah yang tidak hanya menimpa pelaku dosa, tetapi juga orang-orang sholeh di sekitarnya.

Cegahlah kemungkaran tersebut sesuai dengan kemampuan kita:

  • Gunakan kekuasaan atau tindakan nyata jika memiliki wewenang.

  • Gunakan lisan yang baik untuk menasihati jika tidak memiliki wewenang.

  • Ingkari di dalam hati dan tinggalkan tempat maksiat tersebut sebagai batas minimal keimanan.

Mari Bermuhasabah

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah berpesan, “Hisablah (koreksi) diri kalian sendiri sebelum kalian dihisab.”

Kelak di Padang Mahsyar, kita akan disidang secara individu. Allah akan bertanya untuk apa umur kita dihabiskan, dari mana harta kita didapat, dan apakah ilmu kita diamalkan. Allah tidak akan bertanya tentang bagaimana kualitas ibadah tetangga kita, atau dari mana teman kita mendapatkan hartanya.

Maka, berhentilah menghitung-hitung dosa orang lain. Jadikan sisa waktu yang kita miliki di dunia ini untuk fokus bermuhasabah, menambal kekurangan amal ibadah, dan mempersiapkan jawaban terbaik saat kita berdiri sendiri di hadapan Sang Pencipta kelak.

Referensi : https://www.youtube.com/watch?v=rfnLhBuIcR4 | Ustadz Syafiq Riza Basalamah

📚 ️Baca Juga Seputar Ibadah

Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Ibadah Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia ibadah — semua ada di sana!

Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.

📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral

Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!

BERITATERKAIT

BERITATERBARU

INSTAGRAMFEED