Setiap manusia diberi jatah waktu yang sama: 24 jam dalam sehari. Tidak ada yang tahu berapa lama sisa umur yang masih Allah titipkan. Ada yang meninggal di usia muda, ada yang dipanggil ketika rambut telah memutih. Yang membedakan bukan panjang pendeknya usia, melainkan bagaimana usia itu digunakan.
Karena itulah Islam mengajarkan agar seorang muslim memandang waktu sebagai nikmat yang sangat berharga. Waktu bukan sekadar angka pada kalender, tetapi amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Umur Akan Ditanya di Hari Kiamat
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan, ilmunya bagaimana diamalkan, hartanya dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan, serta tubuhnya untuk apa digunakan.”
(HR. Tirmidzi no. 2417, dinilai sahih oleh Syekh Al-Albani)
Hadis ini menjadi pengingat bahwa setiap detik kehidupan memiliki nilai. Waktu yang kita habiskan untuk beribadah, bekerja mencari nafkah yang halal, belajar, berbuat baik kepada orang tua, maupun membantu sesama akan menjadi amal yang bernilai di sisi Allah.
Sebaliknya, waktu yang berlalu sia-sia tidak akan pernah bisa diputar kembali.
Mukmin yang Cerdas Selalu Mengingat Akhirat
Dalam hadis lain Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa orang yang paling cerdas bukanlah yang paling kaya atau paling tinggi pendidikannya.
Beliau bersabda bahwa mukmin yang paling cerdas adalah mereka yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelahnya.
Mengingat kematian bukan berarti menjadi pesimis. Justru sebaliknya, ia membuat seseorang lebih menghargai waktu, lebih semangat memperbaiki diri, dan tidak menunda taubat.
Menyia-nyiakan Waktu Lebih Buruk daripada Kematian
Ibnu Qayyim rahimahullah pernah berkata:
“Menyia-nyiakan waktu lebih buruk daripada kematian. Sebab menyia-nyiakan waktu memutuskanmu dari Allah dan negeri akhirat, sedangkan kematian hanya memutuskanmu dari dunia dan penghuninya.”
Kalimat ini mengandung makna yang sangat dalam. Kematian hanyalah perpindahan menuju kehidupan berikutnya. Namun ketika seseorang terus membuang waktunya dalam kemaksiatan, kelalaian, atau hal-hal yang tidak bermanfaat, ia kehilangan kesempatan untuk menambah bekal akhirat.
Padahal setiap hari yang berlalu adalah kesempatan yang tidak akan pernah datang kembali.
Waktu Laksana Pedang
Ada sebuah nasihat yang masyhur:
“Waktu itu seperti pedang. Jika engkau tidak memotongnya (menggunakannya dengan baik), maka ia akan memotongmu.”
Artinya, jika seseorang tidak menyibukkan dirinya dengan kebaikan, maka sangat mudah baginya tersibukkan oleh hal-hal yang sia-sia. Hari demi hari berlalu tanpa amal yang berarti, hingga akhirnya usia habis tanpa bekal.
Di era digital seperti sekarang, waktu sering habis tanpa disadari. Berjam-jam digunakan untuk menggulir media sosial, menonton hiburan tanpa manfaat, atau tenggelam dalam kesibukan dunia yang melupakan akhirat.
Masih Ada Kesempatan Selama Napas Berhembus
Kabar baiknya, selama Allah masih memberi kehidupan, pintu taubat masih terbuka.
Hari ini adalah kesempatan untuk memulai kembali.
- Menambah salat sunnah.
- Memperbanyak membaca Al-Qur’an.
- Menuntut ilmu agama.
- Memperbaiki hubungan dengan keluarga.
- Bersedekah.
- Memanfaatkan waktu untuk hal-hal yang bermanfaat.
Tidak ada kata terlambat selama matahari belum terbit dari barat dan ajal belum datang.
Penutup
Pertanyaan yang layak kita renungkan setiap hari bukanlah, “Berapa umurku sekarang?” tetapi “Apa yang sudah aku lakukan dengan sisa umurku?”
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang pandai memanfaatkan waktu, memperbanyak amal saleh, serta dipanggil dalam keadaan membawa bekal terbaik untuk bertemu dengan-Nya. Aamiin.