Pengiran Raabi’atul Adawiyyah menjadi sorotan setelah Sultan Brunei Hassanal Bolkiah mencabut gelar kerajaan yang disandangnya. Keputusan tersebut diumumkan Kantor Kepala Protokol Kerajaan Brunei pada Sabtu (8/8/2026).
Pencabutan gelar itu merupakan titah langsung Sultan Hassanal Bolkiah. Menurut Penjabat Kepala Protokol Kerajaan, Pengiran Haji Raffizanna Pengiran Haji Razali, keputusan tersebut telah ditetapkan oleh Sultan.
Langkah kerajaan ini menarik perhatian karena Raabi’atul Adawiyyah merupakan istri Pangeran Abdul Malik, salah satu putra Sultan Hassanal Bolkiah. Setelah menikah dengan anggota keluarga kerajaan, Raabi’atul selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu sosok perempuan yang mendampingi keluarga kerajaan dalam sejumlah kegiatan resmi.
Pihak kerajaan menyebut pencabutan gelar dilakukan karena perilaku yang dianggap tidak pantas, mencoreng nama baik kerajaan, serta menunjukkan kurangnya rasa hormat kepada Sultan Hassanal Bolkiah.
Meski demikian, Kerajaan Brunei tidak menjelaskan secara rinci tindakan atau perilaku yang menjadi alasan pencabutan gelar tersebut. Karena itu, berbagai spekulasi yang berkembang di luar keterangan resmi sebaiknya tidak dianggap sebagai fakta.
Profil Raabi’atul Adawiyyah dan Kehidupan Bersama Keluarga Kerajaan
Raabi’atul Adawiyyah lahir pada 1992 dan berasal dari keluarga yang juga memiliki latar belakang bangsawan atau pengiran. Ia merupakan anak kedua dari 10 bersaudara.
Sebelum masuk ke lingkungan kerajaan melalui pernikahannya, Raabi’atul menjalani pendidikan di sejumlah sekolah di Brunei. Ia pernah bersekolah di Al-Falaah School, Rimba I Primary School, Menglait Secondary School, dan Rimba Secondary School.
Raabi’atul juga memiliki latar belakang di bidang teknologi informasi. Setelah menyelesaikan pendidikan pada 2012, ia sempat bekerja sebagai System Data Analyst di sebuah perusahaan konsultan teknologi informasi di Brunei.
Setahun kemudian, ia melanjutkan karier sebagai IT Instructor di HAD Technologies. Latar belakang tersebut menunjukkan bahwa sebelum menjadi bagian dari keluarga kerajaan, Raabi’atul telah memiliki pengalaman profesional di sektor teknologi.
Selain bidang teknologi, Raabi’atul juga dikenal aktif dalam kegiatan keagamaan sejak usia muda. Ia beberapa kali mengikuti kompetisi membaca Al Quran dan pernah mewakili sekolahnya dalam berbagai kegiatan tersebut.
Kehidupannya berubah setelah menikah dengan Pangeran Abdul Malik pada April 2015. Pernikahan tersebut digelar di Istana Nurul Iman dan menjadi salah satu acara kerajaan yang mendapat perhatian luas.
Dalam pernikahan itu, Raabi’atul tampil dengan busana yang dihiasi emas, berlian, dan zamrud. Buket bunga yang digunakannya juga dibuat dengan unsur permata dan logam mulia sehingga menambah kemewahan acara tersebut.
Dari pernikahannya dengan Pangeran Abdul Malik, Raabi’atul memiliki empat orang anak. Setelah menjadi bagian dari keluarga kerajaan, ia beberapa kali mendampingi suaminya dalam kegiatan resmi.
Salah satu kegiatan tersebut adalah kunjungan resmi ke Singapura pada 2016. Di Brunei, Raabi’atul juga pernah mendampingi Pangeran Abdul Malik ketika menjalankan sejumlah tugas sebagai wakil pribadi Sultan.
Pencabutan gelar pada 2026 kemudian menjadi perubahan besar dalam status publik Raabi’atul di lingkungan kerajaan. Keputusan tersebut diumumkan ketika ia masih berstatus sebagai istri Pangeran Abdul Malik.
Hal yang menjadi perhatian adalah alasan resmi pencabutan gelar tidak disertai penjelasan mengenai tindakan spesifik yang dianggap tidak pantas. Kerajaan hanya menyampaikan bahwa keputusan tersebut berkaitan dengan perilaku yang dinilai mencoreng nama baik kerajaan dan kurang menghormati Sultan.
Dengan demikian, informasi mengenai alasan pencabutan gelar perlu dibedakan antara keterangan resmi kerajaan dan berbagai kabar atau spekulasi yang beredar. Berdasarkan keterangan resmi yang tersedia, belum ada penjelasan lebih jauh mengenai tindakan spesifik yang menjadi pemicu keputusan tersebut.
Profil Raabi’atul sendiri menunjukkan perjalanan yang cukup beragam, mulai dari pendidikan di Brunei, pengalaman bekerja di bidang teknologi informasi, aktivitas keagamaan, hingga kehidupan sebagai istri seorang pangeran.
Pernikahannya dengan Pangeran Abdul Malik pada 2015 membuat namanya semakin dikenal di lingkungan kerajaan. Selama bertahun-tahun, ia juga tampil dalam sejumlah kegiatan resmi bersama suaminya sebelum akhirnya status gelar kerajaannya dicabut melalui titah Sultan Hassanal Bolkiah.
Referensi:
CNN Indonesia