Komet MAPS Hancur di Dekat Matahari, Ini Fakta Menarik di Baliknya
Fenomena komet C/2026 A1 atau MAPS menjadi salah satu peristiwa astronomi yang paling dinantikan pada April 2026. Namun, harapan untuk...
Read more
Pemimpin dari layanan kecerdasan buatan terkenal telah mempertimbangkan ide ambisius: membangun data center di luar angkasa. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap lonjakan kebutuhan energi dan kapasitas pengolahan data yang terus meningkat di Bumi.
Berdasarkan laporan dari media internasional, CEO perusahaan AI besar itu dilaporkan sedang menjajaki investasi besar ke perusahaan roket rintisan bernama Stoke Space. Tujuannya: mendapatkan saham pengendali agar bisa memanfaatkan roket tersebut sebagai wahana peluncuran pusat data ke orbit.
Diskusi mengenai rencana tersebut dilaporkan berlangsung sejak musim panas lalu dan terus berlanjut hingga musim gugur 2025. Meskipun belum ada kesepakatan final, niat untuk membeli atau bermitra dengan perusahaan roket menunjukkan keseriusan inisiatif ini.
Saat ini, terdapat lebih dari 5.000 data center AI di Amerika Serikat saja. Jumlah tersebut diperkirakan akan tumbuh pesat seiring dengan meningkatnya permintaan komputasi AI. Menurut laporan investasi sektor teknologi, permintaan listrik untuk data center AI diproyeksikan naik sekitar 50 persen pada 2027, dan hingga 165 persen pada 2030. Beban ini membuat perusahaan menghadapi tekanan besar pada infrastruktur kelistrikan dan lingkungan.
Dengan menempatkan data center di luar angkasa, pendiri layanan AI tersebut berharap bisa memanfaatkan energi matahari secara langsung melalui panel surya dengan lebih efisien. Ide ini terinspirasi dari konsep futuristik seperti bola Dyson yang mengumpulkan energi matahari dalam skala besar.
Dalam wawancaranya, sang CEO menyampaikan bahwa meskipun teknologi dan logistik akan sangat menantang, ia percaya langkah ini bisa menjadi bagian dari solusi jangka panjang. “Mungkin kita akan menempatkan (data center) di luar angkasa. Saya berharap saya punya jawaban yang lebih konkret untuk Anda, tetapi sepertinya, kita masih tertatih-tatih dalam hal ini,” ujarnya.
Rencana ini menghadapi sejumlah tantangan signifikan. Pertama, penggunaan roket berulang kali untuk mengangkut perangkat keras ke orbit memerlukan teknologi peluncuran yang sangat andal dan ekonomis. Perusahaan roket tujuan, Stoke Space, berharap produknya mampu bersaing dengan roket besar yang sudah ada, namun belum ada kepastian kapan roket siap digunakan secara massal.
Kedua, menjaga kondisi perangkat keras dan data center dalam lingkungan luar angkasa—termasuk radiasi, suhu ekstrem, dan kurangnya gravitasi—menjadi pekerjaan berat dan mahal. Teknologi pendinginan, pelindung radiasi, dan sistem backup daya harus dirancang khusus agar operasional AI tetap stabil dan aman.
Meski demikian, bagi perusahaan teknologi besar yang terus meningkatkan kebutuhan komputasi AI, prospek data center luar angkasa tetap menarik. Selain potensi efisiensi energi, solusi ini bisa membantu mengurangi tekanan lingkungan dan konsumsi listrik di Bumi.
Referensi:
DetikINET
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Sains Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia sains — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Tim SAR gabungan akhirnya berhasil menemukan puing helikopter PK-CFX milik PT Matthew Air setelah melakukan pencarian intensif di wilayah Kabupaten...
Sebuah rekaman video memperlihatkan dua sejoli diduga bermesraan di dalam kedai Es Teh Indonesia cabang Kibin, dan menjadi perbincangan di...