Terungkap Alasan Kenapa Semakin Tua Semakin Sulit Tidur Nyenyak
Perubahan usia tidak hanya berdampak pada kondisi fisik, tetapi juga memengaruhi pola tidur. Banyak orang mulai merasakan bahwa semakin bertambah...
Read more
Fenomena viral di media sosial mengenai semangka yang disebut dapat memunculkan hasil garis dua pada testpack memicu banyak kebingungan publik. Dalam video yang beredar, testpack ditancapkan ke buah semangka dan terlihat menunjukkan hasil positif. Narasi dalam video bahkan memperingatkan pria agar berhati-hati karena buah ini dianggap bisa membuat hasil testpack terlihat seolah terjadi kehamilan.
Menurut para ahli, klaim tersebut tidak didukung bukti ilmiah dan termasuk konten hoax yang kerap muncul di platform digital. Untuk memahami mengapa video tersebut menyesatkan, penting untuk melihat cara kerja testpack serta apa saja penyebab hasil positif palsu yang dapat terjadi secara medis.
Menurut spesialis gizi klinis dr Ardian Sandhi Pramesti, SpGK, testpack kehamilan dirancang untuk mendeteksi hormon hCG (human chorionic gonadotropin). Hormon ini diproduksi tubuh saat terjadi kehamilan atau pada kondisi medis tertentu yang jarang terjadi.
“Hormon ini hanya terdapat pada urine manusia ketika ada kehamilan atau gangguan medis tertentu. Semangka tidak mengandung hormon hCG atau zat serupa,” kata dr Ardian.
Penjelasan ini menegaskan bahwa semangka tidak memiliki komponen kimia yang mampu memicu reaksi pada alat testpack. Mayoritas testpack menggunakan antibodi yang sangat spesifik terhadap hCG. Artinya, hanya zat yang menyerupai struktur hCG yang bisa memicu garis positif. Buah, sayur, atau makanan apapun tidak dapat menghasilkan reaksi serupa.
Menurut dr Ardian, kemungkinan besar video viral tersebut merupakan rekayasa visual atau manipulasi yang sengaja dibuat untuk hiburan namun menyesatkan publik ketika tidak disertai klarifikasi.
Dokter gizi klinis lain, dr Raissa Edwina Djuanda, M.Gizi, SpGK, AIFO-K FINEM, juga memberikan penjelasan serupa. “Tidak, karena semangka tidak mengandung hormon hCG,” kata dr Raissa. Ia menekankan bahwa klaim tersebut tidak memiliki landasan ilmiah dan tidak pernah ditemukan dalam studi medis manapun.
Meskipun semangka tidak dapat memicu testpack positif, hasil positif palsu memang bisa terjadi pada kondisi tertentu. Menurut para ahli, hal ini biasanya disebabkan oleh faktor yang benar-benar berkaitan dengan tubuh manusia, bukan makanan.
Beberapa penyebab umum positif palsu meliputi:
1. Obat yang mengandung hormon hCG
Beberapa obat kesuburan mengandung hormon hCG yang dapat terdeteksi oleh testpack. Jika seseorang sedang menjalani terapi fertilitas, hasil testpack bisa menampilkan garis positif meski belum terjadi kehamilan.
2. Kesalahan penggunaan testpack
Berdasarkan pengalaman klinis, banyak kasus positif palsu terjadi karena alat yang digunakan sudah kedaluwarsa, terkontaminasi, atau dipakai dengan cara yang tidak benar. Misalnya, testpack terpapar kelembapan terlalu lama sebelum digunakan sehingga memicu reaksi kimia yang salah.
3. Kondisi medis tertentu
Beberapa kondisi langka seperti kehamilan ektopik, tumor trofoblastik, atau gangguan hormon tertentu dapat menyebabkan kadar hCG meningkat walau tidak ada kehamilan normal.
4. Fenomena evaporation line
Evaporation line sering disalahartikan sebagai garis positif. Garis samar ini muncul saat urine mengering pada strip test sehingga menciptakan ilusi garis kedua. Fenomena ini umum terjadi jika hasil dibaca terlambat, di luar waktu yang disarankan pabrikan.
Dengan memahami penyebab ini, menjadi jelas bahwa buah seperti semangka tidak memiliki kaitan apapun dengan reaksi biokimia pada alat testpack. Klaim bahwa semangka bisa memicu hasil garis dua adalah misinformasi.
Konten kesehatan sering menjadi sasaran hoax karena sifatnya yang menarik perhatian dan mudah memicu rasa ingin tahu. Klaim mengejutkan seperti “makanan tertentu dapat mempengaruhi testpack” biasanya disertai visual yang tampak meyakinkan, meski tidak memiliki dasar penelitian.
Menurut penjelasan para ahli, beberapa faktor yang membuat hoax seperti ini cepat viral meliputi:
1. Kurangnya literasi medis
Banyak orang tidak memahami cara kerja alat kesehatan, sehingga hasil visual yang tampak nyata dianggap benar.
2. Efek dramatis dari video
Konten yang memicu emosi atau rasa kaget lebih mudah dibagikan, meningkatkan peluang penyebaran.
3. Algoritma media sosial
Platform cenderung mempromosikan konten yang memiliki tingkat interaksi tinggi, terlepas dari akurasi informasinya.
Oleh karena itu, para ahli mendorong masyarakat untuk selalu memeriksa kebenaran informasi terutama yang berkaitan dengan kesehatan.
Referensi: Detik Health
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Kesehatan Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia kesehatan — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Kasus dugaan pencurian terjadi di salah satu resort di kawasan Ubud, Bali. Seorang warga negara asing (WNA) asal India diduga...
Seorang pria berusia 39 tahun diamankan aparat kepolisian di wilayah Kalideres, Jakarta Barat, setelah diduga melakukan pelecehan terhadap tiga anak...