Amerika Serikat dikabarkan siap melancarkan serangan militer ke Iran paling cepat akhir pekan ini. Informasi tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan kedua negara yang belum menemukan titik temu dalam negosiasi program nuklir Teheran.
Menurut sejumlah sumber yang mengetahui rencana tersebut, Gedung Putih telah menerima informasi detail mengenai opsi serangan. Namun hingga kini, Presiden Donald Trump disebut belum memberikan persetujuan akhir.
“Dia menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan hal ini,” kata salah satu sumber yang mengetahui pembahasan internal tersebut.
Laporan awal mengenai rencana ini pertama kali diungkap oleh CBS News pada akhir pekan lalu. Sejak Januari, Amerika Serikat telah mengumpulkan armada perangnya di kawasan Timur Tengah sebagai bentuk antisipasi terhadap potensi eskalasi dari Iran, sekaligus meningkatkan tekanan agar Teheran segera menyepakati perjanjian terkait program nuklirnya.
Ketegangan antara Washington dan Teheran sebenarnya telah berlangsung sejak gelombang demonstrasi besar melanda Iran pada 28 Desember lalu. Unjuk rasa tersebut dilaporkan menewaskan ribuan orang. Awalnya, pengerahan kapal induk AS disebut sebagai respons terhadap situasi dalam negeri Iran. Namun belakangan, alasan tersebut bergeser menjadi tekanan terhadap program nuklir Iran.
Pada 6 Februari, kedua negara kembali membuka jalur pembicaraan di Oman terkait isu nuklir. Negosiasi bahkan telah memasuki putaran kedua pada Selasa 17 Februari. Meski demikian, hingga kini belum tercapai kesepakatan konkret.
Armada Kapal Induk Dikerahkan ke Timur Tengah
Di tengah proses negosiasi, Amerika Serikat justru terus memperkuat kehadiran militernya. Kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln tiba di Timur Tengah pada 26 Januari. Kehadiran kapal tersebut memicu kekhawatiran akan potensi konflik terbuka.
Situasi semakin intens ketika Presiden Trump memutuskan mengerahkan kapal induk kedua, USS Gerald Ford. Kapal induk terbesar di dunia itu diperkirakan tiba di kawasan Timur Tengah pada akhir pekan ini, bertepatan dengan waktu yang disebut sebagai kemungkinan dimulainya operasi militer.
Pada Rabu 18 Februari, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menyatakan bahwa Iran kemungkinan akan memaparkan rincian posisinya dalam negosiasi dalam beberapa minggu ke depan.
“Ada banyak alasan dan argumen yang bisa dikemukakan untuk menyerang Iran,” kata Karoline Leavitt.
Namun Leavitt tidak menjelaskan apakah Presiden Trump akan menunda langkah militer sambil menunggu perkembangan diplomasi tersebut.
Sementara itu, Iran juga menunjukkan kesiapan militernya dengan menggelar berbagai latihan di sekitar Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis dunia. Amerika Serikat pun dilaporkan telah merapatkan kekuatan militernya dari berbagai sisi kawasan.
Presiden Trump sebelumnya menyatakan bahwa serangan yang dilancarkan akan menjadi yang terbesar bagi Iran jika tidak ada kesepakatan yang tercapai. Di sisi lain, pemerintah Iran menegaskan tidak gentar dan siap menghadapi perang jika benar-benar diserang.
Referensi:
CNN Indonesia